Bab 7

Suara bariton Arion membuat semua orang di ruangan itu melongo tak percaya. Pengakun Arion tentunya membuat Zetta naik pitam.

"Kak Arion!" pekik Zetta yang terkejut dengan kehadiran Arion di rumahnya.

Arion melangkah masuk sambil menatap Alzarin yang kini terisak.

"Kak Arion! Apa maksudnya kakak ngomong begitu?"

Tanpa ada beban dan rasa bersalah, Arion bersitatap dengan Dennis dan keluarganya.

"Itu memang benar! Anak yang dikandung Alzarin adalah anakku!"

Alzarin menatap tak percaya kearah pria yang sama sekali tak dikenalnya ini. Alza juga menatap Dennis yang sedang menatap dingin kearahnya.

Amalia dan Juno pastinya lebih bingung dan terkejut.

"Sebenarnya ada apa ini? Nak Arion, kenapa kamu bicara begini?" Tanya Juno.

"Aku minta maaf, Om, Tante. Tapi inilah kebenarannya. Apa yang Dennis katakan itu benar. Anak yang ada dalam rahim Alzarin, bukanlah anak Dennis melainkan anakku."

Kepala Alzarin serasa berdengung mendengar pernyataan Arion. Bagaimana bisa pria asing ini adalah ayah dari janinnya?

"Tidak! Aku gak kenal siapa dia! Dia hanya mengarang cerita!" Alza menolak untuk mengakui sebuah kebenaran.

Arion tersenyum menyeringai. Ia tahu jika Alzarin pasti menolaknya.

"Baiklah, kita akan buktikan ucapan siapa yang benar. Aku akan lakukan tes DNA terhadap janinmu itu. Bagaimana?"

"Hah?!" Alzarin melongo.

"Kak Arion!" Zetta protes. Tentunya ia kesal pada Arion yang seakan tak peduli dengan perasaannya.

"Apa yang kakak katakan? Kita akan menikah dan kamu tiba-tiba mengatakan hal ini, kamu pikir aku ini mainan, hah?!"

Dennis maju dan menarik kerah kemeja Arion.

"Brengsek kau! Apa kamu ingin mempermainkan adikku? Kotor sekali caramu ini Arion!"

"Dennis, terima saja kekalahanmu! Aku ini lebih unggul darimu. Aku tahu semuanya tentangmu!" Seringai Arion.

"Brengsek!" Satu bogem mentah Dennis arahkan ke wajah Arion. Rasa sakit yang ia terima tidak akan sebanding dengan apa yang akan dia dapatkan nanti.

Arion yakin jika setelah ini Alzarin akan menjadi miliknya. Tidak sia-sia semua usaha liciknya untuk memisahkan Dennis dengan Alza. Akhirnya sebentar lagi mereka akan berpisah. Begitulah pemikiran Arion.

"Hentikan! Cukup!" Teriak Alzarin.

Sudah cukup hatinya tertindas disini. Penolakan Dennis pada janinnya dan juga kehadiran Arion membuat semuanya rumit.

"Kalian gak perlu meributkan anak siapa yang sedang kukandung ini. Aku tegaskan pada kalian kalau anak ini... Adalah anakku. Anak ini hanya milikku!" Tegas Alzarin dengan napas terengah.

"Alza!" Arion protes.

"Aku sama sekali gak mengenalmu selain kamu adalah tunangan Zetta. Jadi jangan pernah mengaku-ngaku jika anak yang kukandung adalah anakmu!" Tunjuk Alza dengan jarinya.

Juno mulai angkat suara karena situasi makin tak terkendali.

"Sudah cukup! Dennis!" Juno memanggil putranya.

"Bawa Alzarin pulang ke rumah!"

Meski terlihat ragu, Dennis akhirnya mengangguk. Dennis mengajak Alzarin untuk pulang ke rumah mereka. Alzarin menurut. Fisik dan hatinya sudah lelah dengan permainan takdir yang sedang ia jalani.

Sepeninggal Alzarin dan Dennis, Juno menatap tajam Arion.

"Dan kamu! Jelaskan apa maksud semua ini!" Tekan Juno.

Arion menghadapi semuanya dengan gentle. Ia tahu dirinya sudah melakukan kesalahan dan kini ia harus menanggung resikonya.

Arion segera menekuk lututnya dan bersimpuh di depan Zetta.

"Kak Arion?" Zetta terperangah dengan sikap tunangannya itu.

"Maafkan aku, Zetta. Apa yang aku katakan adalah benar. Aku adalah ayah kandung dari janin Alzarin."

PLAK!

Satu tamparan mendarat di pipi Arion.

"Tega sekali kamu mengatakan ini, kak! Apa aku hanya mainan bagimu?"

Juno tak menghentikan putrinya yang kini mengamuk pada Arion. Zetta memukul dada Arion sambil meracau tak jelas. Sekarang semua impiannya hancur tak bersisa.

Setelah puas mengamuki Arion, Zetta mulai memposisikan dirinya duduk bersama dengan Juno dan Lia.

"Katakan pada kami yang sebenarnya, Nak Arion! Apa kamu mengenal Alzarin sebelum ini?"

Masih dengan posisi berlutut Arion menjawab.

"Benar! Aku dan Alza sudah saling mengenal sejak dulu."

Jawaban Arion membuat Lia dan Juno saling pandang.

"Aku dan Alza besar di panti asuhan yang sama. Kalian pasti tahu apa yang kumaksud."

Juno dan Amalia kembali saling pandang. Mereka akhirnya mengalah untuk mendengarkan cerita dari Arion.

#

#

#

Di perjalanan, Alza dan Dennis hanya diam. Alzarin masih tertegun mendengar pengakuan Arion tadi.

"Jadi, anak itu benar anak Arion?" Akhirnya Dennis membuka suaranya.

Alzarin langsung menatapnya penuh kesal dan kecewa.

"Jadi, kamu percaya dengan apa yang dikatakan pria itu?"

Dennis mencengkeram erat kemudi. "Aku ingin gak percaya, tapi apa yang dia katakan sangatlah meyakinkan. Dan dia juga bersedia melakukan tes DNA. Apa lagi yang harus aku lakukan? Kalian sudah mengkhianati pernikahan ini, Alza..."

Alzarin menggeleng kuat. "Berapa lama kamu mengenalku, Mas? Apa pernah aku dekat dengan seorang pria selain kamu? Harusnya kamu berpikir dengan jernih sebelum menyimpulkan."

Alzarin turun lebih dulu dari mobil setelah mobil Dennis memasuki halaman rumah mereka. Dennis menatap punggung Alzarin yang telah menjauh.

Dennis mengusap wajahnya kasar.

"Aaarrgghhh!" Dennis berteriak. "Kenapa semuanya jadi begini?" Dennis memukuli kemudi yang tak bersalah itu.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!