Bab 10

"Mama?!"

Suara Dennis mengejutkan Alza dan Amalia.

"Dennis, kamu sudah pulang?" Lia beranjak dari duduknya dan menghampiri Dennis.

"Mama datang kesini untuk menemui Alza?" tanya Dennis bingung.

"Iya, Nak. Mama khawatir sama Alza karena tadi pagi adik kamu datang kemari."

Dennis melirik Alza sekilas. "Sekarang sudah ada aku. Mama pulang saja!"

"Iya, Nak. Kamu jaga Alza baik-baik ya. Ibu hamil jangan kerja yang berat-berat dulu."

Dennis mengangguk. "Iya, Ma."

"Alza, mama pulang dulu ya! Jaga kesehatan dan ingat apa kata mama tadi."

"Iya, Ma. Makasih karena mama udah peduli sama aku."

Dennis dan Alza mengantar Lia hingga ke pintu depan rumah mereka. Alza melambaikan tangan ketika mobil mertuanya meninggalkan halaman rumah.

Sepeninggal Lia, Dennis menatap Alza dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Kamu beruntung karena mama masih peduli padamu. Apa jadinya nanti jika anak yang kamu kandung itu benar anak Arion? Apa Mama masih bisa bersikap baik padamu? Aku tidak bisa menjamin itu."

Dennis berjalan meninggalkan Alza. Alza hanya diam dan tak menanggapi. Percuma saja bicara dengan orang yang tak percaya padamu. Begitulah pemikiran Alza.

Dennis masuk ke kamarnya dan duduk di sofa. Kepalanya terasa berdenyut. Dennis ingat bagaimana dirinya saat mendatangi dokter Wildan untuk melakukan pemeriksaan ulang terhadap dirinya.

"Kamu yakin akan melakukan pemeriksaan ulang, Nis?"

Dennis mengangguk.

"Tapi apa yang membuatmu ingin melakukan tes ulang? Kamu tidak percaya denganku?"

Dennis menggeleng. Akhirnya Dennis membuka semuanya di depan Wildan.

"Alza hamil, Wil."

"Apa?!" Wildan cukup terkejut dengan pernyataan Dennis.

"Tapi... bagaimana mungkin?" Wildan sendiri bingung.

"Itulah yang jadi pertanyaanku, Wil. Makanya aku ingin melakukan tes ulang."

"Ya, aku mengerti. Aku tahu aku juga bukan Tuhan. Kami tidak bisa menentukan kapan orang diberikan karunia dariNya."

Dennis menggeleng. "Aku tidak yakin jika anak itu adalah anakku."

"Apa?!"

"Maka tolong lakukan pemeriksaan secepatnya."

Wildan mengangguk. "Apa kamu juga akan melakukan tes DNA?"

"Apa bisa?"

Wildan mengangguk. "Bisa. Tapi harus menunggu hingga janin berusia 10 hingga 12 minggu. Berapa usia kandungan Alza?"

"Aku tidak tahu." Dennis memalingkan wajahnya.

Wildan tahu ada semburat kekecewaan di mata Dennis yang berusaha ia simpan rapat-rapat.

#

#

#

"Kak Arion! Keluar kamu, Kak!"

Di kediaman Nusantara, Zetta mendatangi rumah itu sambil meneriakkan nama Arion.

"Kak! Kita harus bicara!"

Keributan yang dibuat oleh Zetta ternyata memancing Johan untuk keluar dari kamar.

"Teguh, ada apa ini?" Johan memanggil kepala pelayan di rumahnya itu.

"Maaf, Tuan Besar. Di luar ada Nona Zetta. Ia mencari Tuan Arion. Tapi... Karena kami belum mendapat persetujuan dari Tuan Besar, maka kami biarkan nona Zetta di luar."

Johan menggeram kesal. Sepertinya Arion sedang memainkan masalah yang cukup serius.

"Cepat panggilkan Arnis!" titah Johan pada Teguh.

Tak lama, Arnis datang menemui Johan.

"Ada apa, Pah? Sepertinya diluar terjadi keributan."

"Hmm, makanya kamu cepat hubungi Arion! Suruh dia temui gadis tunangannya itu!"

"Baik, Pah."

Arnis menghubungi Arion dan memintanya segera datang karena Zetta ada di rumah. Ternyata Arion memang sedang dalam perjalanan pulang ke rumah.

Tiba di rumah, Arion keluar dari mobil dan langsung membawa Zetta masuk ke dalam mobilnya.

"Kak Arion! Kakak mau bawa aku kemana?" tanya Zetta bingung setelah mobil Arion melaju kencang.

"Kita akan temui orang tuamu!"

Jawaban Arion membuat Zetta berbinar bahagia. Zetta masih belum tahu apa yang direncanakan Arion. Namun dia merasa jika ini adalah hal yang baik.

Beberapa saat kemudian, mereka tiba di rumah keluarga Pratama. Arion turun dari dalam mobil diikuti Zetta.

Sudah pukul delapan malam ketika Arion dan Zetta tiba di rumah Pratama. Seperti biasa, Amalia selalu menyambut kedatangan anak-anaknya.

"Zetta, kamu sudah pulang Nak?" tanya Lia lalu menatap Arion.

"Nak Arion?" Lia cukup terkejut karena Zetta datang bersama Arion.

"Selamat malam, Tante. Apa Om Juno ada?"

"Ada, tunggu sebentar. Silakan duduk dulu, Nak Arion."

Sebenarnya benak Lia mengatakan ada yang tidak beres dengan kedatangan Arion kali ini setelah semalam ia mengungkapkan hal yang sangat mencengangkan.

"Pah, ada Arion di luar. Sepertinya ada hal penting yang ingin dia bicarakan."

Juno langsung paham dengan maksud Arion. Juno juga tidak ingin masalah putra-putrinya semakin berlarut-larut.

Juno dan Lia menghampiri Arion dan Zetta yang menunggu di ruang tamu. Wajah Arion yang tenang membuat Juno tidak bisa menebak apa yang sebenarnya direncanakan oleh pria itu.

"Om Juno!" Arion menyapa Juno.

"Nak Arion."

Arion bangkit dari duduknya dan langsung bersimpuh di depan Juno.

"Aku datang kesini karena ingin meminta maaf pada Om dan Tante."

Zetta terkejut dengan sikap Arion yang tiba-tiba berlutut di depan orang tuanya.

"Kak Arion! Apa yang kakak lakukan? Cepat berdiri!" Zetta memegangi lengan Arion agar ia bangun.

"Maafkan aku, Zetta. Maaf karena semuanya harus jadi begini. Aku ingin membatalkan pertunangan kita. Aku rasa aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini."

Ketiga orang itu syok mendengar pernyataan Arion. Juno sudah bisa menebak jika Arion memang ingin mengakhiri hubungannya dengan Zetta. Tapi ia tak tahu jika secepat ini Arion melakukannya. Juno kira Arion akan membatalkan pertunangan setelah terbukti jika anak yang dikandung Alza adalah anaknya.

"Aku benar-benar minta maaf, Zetta. Kamu tahu kan kalau aku adalah ayah dari janin yang dikandung Alzarin. Aku akan bertanggung jawab pada Alzarin dan bayinya."

PLAK!

Satu tamparan mendarat di pipi Arion.

"Kakak! Apa kakak gak mikir gimana perasaan aku? Tega banget kakak ngomong begitu?! Apa kakak memang sengaja mainin aku hanya untuk mendapatkan kak Alza? Atau jangan-jangan kalian udah ngerencanain ini semua? Kalian berdua bener-bener menjijikkan!" Zetta mengeluarkan seluruh uneg-unegnya di depan semua orang.

"Sudah kukatakan jika aku salah mengartikan semuanya. Aku melihatmu sebagai sosok Alzarin. Dan ternyata kalian memang tinggal serumah, mungkin karena itu sifat kalian hampir sama."

"Gak! Aku sama sekali berbeda dengan kak Alza yang murahan itu!"

Zetta mencoba mengatur napasnya. "Sampai kapanpu aku gak akan pernah lupa pengkhianatan yang kalian lakukan padaku!"

"Zetta, jangan salahkan Alza. Dia tidak bersalah. Akulah yang bersalah. Maaf jika harus seperti ini! Aku siap menerima hukuman dari kalian!"

Zetta berdecak. Ia memilih meninggalkan Arion tanpa memberikan jawaban lagi.

Juno dan Lia hanya diam ketika melihat putrinya pergi.

"Ya Tuhan, kenapa jadi begini?" batin Lia menangis sedih melihat putra putrinya mengalami masalah seperti ini.

"Nak Arion, bangunlah!" ucap Juno.

Arion menggeleng. "Aku tidak akan pergi sebelum Om dan Tante memaafkanku. Aku tahu aku berdosa besar pada kalian dan juga Alza. Makanya aku ingin memperbaiki semuanya. Kumohon kalian jangan membenci Alza. Aku berterimakasih karena kalian sudah membesarkan dia dengan baik. Tapi... Membiarkan Dennis menyakiti Alza seperti itu, aku tidak akan sanggup melihatnya."

Juno dan Lia saling pandang.

"Apa maksudmu Dennis menyakiti Alza? Dennis sangat mencintai Alza, dia gak akan menyakiti Alza." Lia tak terima putranya disebut menyakiti Alza.

"Maaf jika aku harus mengatakan ini. Dennis tidak bisa memberikan cucu untuk kalian. Dia infertil."

"APA?!"

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!