Amalia dan Juno duduk diatas ranjang sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran ranjang. Mereka masih terdiam dan memikirkan apa yang dikatakan oleh Arion tadi.
"Apa dosa keluarga kita di masa lalu, hingga kita harus mengalami hal seperti ini, Pa?" Amalia berkata dengan wajah sendu.
Juno menggenggam tangan Lia. "Kita berdoa saja semoga apa yang dikatakan Arion itu tidak benar, Ma."
Lia menatap suaminya. "Apa papa gak ingat, apa yang dikatakan Arion saat dia mengakui anak Alzarin adalah anaknya. Dia berkata dia siap melakukan tes DNA. Dia begitu yakin jika anak yang dikandung Alza adalah anaknya. Itu artinya dia udah tahu perihal masalah Dennis, Pah."
Juno membawa Lia dalam dekapannya.
"Kita jangan berasumsi sebelum ada bukti valid mengenai hal ini."
"Pah, gimana kalau besok kita temui Dennis. Dia harus jelaskan semuanya!"
Juno merasa apa yang dikatakan istrinya ada benarnya juga. "Iya, Ma. Besok kita temui Dennis ya. Sekarang kita istirahat dulu saja."
Keesokan harinya, Juno dan Lia berencana ingin menemui Dennis di rumahnya. Lebih baik menyelesaikan masalah secepat mungkin dari pada harus terus berlarut-larut. Begitulah pemikiran Lia.
Saat tiba di komplek perumahan Dennis, Lia melihat jika mobil Dennis sudah keluar dari dalam rumah.
"Pah, itu mobil Dennis. Ayo cepat kita ikuti dia!" ucap Lia sambil menunjuk kearah mobil sedan hitam yang sedang melaju.
"Iya, Ma. Kita ikuti dari kejauhan saja. Nanti kalau ketahuan Dennis kan bisa gawat, Ma."
Lia setuju dengan ucapan suaminya. Mereka mengikuti mobil Dennis hingga tiba di sebuah rumah sakit.
"Pa, kok Dennis ke rumah sakit? Apa jangan-jangan dia sakit?"
"Gak tahu, Ma. Sebaiknya kita turun dulu!"
Lia segera turun dan mengikuti langkah Dennis. Lia beruntung karena Dennis tak menyadari kehadirannya.
"Pa, Dennis menemui seorang dokter."
Karena penasaran, Lia bertanya pada seorang perawat yang ada di sana. Si perawat menyebutkan jika Dennis menemui dokter Wildan, seoranv dokter antologi.
"Pa, untuk apa Dennis menemui dokter antologi? Itu pasti berkaitan dengan kesuburan dirinya kan?" Lia mulai cemas.
"Tenang dulu, Ma. Kita kan belum tahu apa yang dilakukan Dennis bersama dokter itu."
Setelah menunggu beberapa saat, Dennis keluar dari ruangan dokter Wildan. Dokter pria itu menepuk pelan punggung Dennis.
"Sabar ya, Nis. Aku yakin kamu dan Alza akan diberikan yang terbaik."
Dennis terduduk lesu dibangku tunggu. Ia menatap nanar hasil tesnya yang menunjukkan hasil yang sama seperti yang dulu.
"Makasih ya, Wil. Sekarang aku benar-benar yakin jika anak itu memang bukan anakku."
"Abang!" Suara Lia membuat Dennis menoleh.
"Mama? Papa?" Dennis syok melihat kedua orang tuanya ada disana.
"Abang!" Lia menghambur memeluk Dennis. Tangisan kesedihan dan kekecewaan tak bisa dibendung lagi oleh Lia.
"Maafkan abang, Ma, Pa..." Dennis ikut menangis bersama kedua orang tuanya.
#
#
#
Alzarin berjalan menuju ke pintu depan rumah karena ada yang menekan bel.
"Apa Mas Dennis ada yang ketinggalan?"
Alza segera membuka pintu. Betapa terkejutnya Alza saat melihat Arion ada di depan rumahnya.
"Kamu?!" Alza segera menutup pintu kembali, namun Arion segera menahannya.
"Pergi kamu! Jangan ganggu aku!"
"Alza! Dengarkan aku dulu! Ada yang harus kita bicarakan!"
"Gak ada yang perlu dibicarakan! Kamu lelaki jahat!"
"Alza, aku mohon! Tolong dengarkan aku!"
Arion mendorong pintu hingga Alza terhuyung ke belakang.
"Alza! Kamu gak apa-apa?" Arion segera menahan tubuh Alza agar tidak terjatuh.
"Lepas! Aku gak apa-apa!" Alza memalingkan wajahnya.
"Alza, dengarkan aku!"
"Bicaralah!" ketus Alza tanpa menatap Arion.
"Alza, aku mau kita melakukan tes DNA terhadap janin yang kamu kandung." Arion yang memang tak suka berbasa basi langsung mengutarakan maksud kedatangannya.
"Dasar gila! Aku gak mau melakukan itu!" tolak Alza tegas.
"Jika kamu masih keras kepala, akan sulit untuk bayi yang kamu kandung. Bukankah Dennis tidak menerima anak itu? Aku akan bertanggung jawab, Alza. Karena itu memang anakku!"
"Cukup! Anak ini bukan anakmu atau siapapun! Anak ini adalah anakku!" seru Alza.
Arion mencoba bersabar menghadapi Alza. "Baiklah. Mungkin kamu ingin tahu lebih dulu kenapa aku sangat yakin jika anak itu adalah anakku. Apa kamu ingat saat kamu bulan madu bersama Dennis dulu? Malam hari itu Dennis pergi meninggalkan kamar karena ingin mengurus pekerjaan. Apa kamu ingat?"
Tiba-tiba saja Alza terdiam. Ingatannya tertuju di malam saat dirinya mengira jika Arion adalah Dennis. Dan ya, mereka melakukannya.
Alza sadar jika saat itu ada yang berbeda dengan Dennis. Tapi karena Alza sudah terbuai dengan semua sentuhan Arion, Alza tidak sadar jika yang menyentuhnya bukanlah suaminya.
Ditambah lagi lampu temaram kamar yang membuat Alza tidak jelas melihat siapa pria yang sedang menghabiskan malam bersamanya. Arion memang sudah menyiapkan segalanya. Arion menyusun semuanya dengan rapi.
Arion melakukan ini karena tahu jika Dennis tidak bisa memberikan Alza keturunan. Pastinya jika rencananya berhasil, Arion akan dengan mudah merebut Alza dari Dennis. Dan ternyata rencana Arion berjalan dengan baik.
Hanya saja sikap Alza yang tidak bisa ditebaknya. Arion pikir Alza akan menerima dirinya jika tahu mereka adalah sahabat sejak kecil. Sahabat yang menghabiskan waktu bersama saat masih berada di panti asuhan.
"Aku ini Arya, Alza. Arya sahabatmu di panti asuhan." Dengan jujur Arion mengakui siapa dia sebenarnya.
Alza menggeleng. "Pergi! Arya gak akan melakukan hal serendah ini! Pergi!"
Alza mendorong tubuh Arion keluar dari rumahnya.
"PERGI! Jangan pernah menampakkan batang hidungmu di depanku lagi!"
Alza membanting pintu cukup keras. Tangis Alza akhirnya pecah. Ia memukuli dadanya yang sesak.
Bagaimana bisa ia harus bertemu lagi dengan Arya namun dengan kondisi serumit ini?
Alza duduk meringkuk sambil memeluk kedua lututnya. Alza tak pernah mengira jika jalan hidupnya akan serumit ini.
#
#
#
Dennis tiba di kantor dengan wajah lesunya. Tak ada kebahagiaan sama sekali di wajahnya.
"Jadi memang benar jika anak yang dikandung Alzarin adalah anak Arion. Alza... Apa kamu sengaja melakukan ini padaku?"
"Pak Dennis, ngelamun aja Pak!" Suara seseorang menyadarkan lamunan Dennis.
"Ah, gak kok."
"Sekarang divisi kami sepi Pak setelah Alza mengundurkan diri. Saya dengar, Alza sedang hamil. Selamat ya, Pak!" Teman kantor Alza yang bernama Mirna mengulurkan tangannya memberi selamat pada Dennis.
Dengan ragu Dennis menerima uluran tangan Mirna. "Makasih, Mirna. Kamu boleh kembali bekerja!"
"Baik, Pak."
Dennis memejamkan mata mendengar ucapan selamat dari Mirna. Hatinya yang sudah panas kini bertambah membara.
Sementara itu, Alza keluar dari rumah dengan berjalan kaki. Cerita Arion tadi membuat Alza makin terpuruk.
"Kamu istri yang menjijikkan, Alza. Bagaimana bisa kamu gak tahu kalau itu bukan suamimu?"
Air mata Alza terus mengalir. Ia memegangi perutnya yang masih rata.
"Akan jadi apa anak yang tidak sah sepertimu? Lebih baik kamu mati saja!" Alza memukuli perutnya sambil terus berjalan. Ia berharap janin dalam rahimnya bisa gugur.
Teriknya sinar mentari membuat tubuh Alza mulai kelelahan. Alza tidak peduli. Ia hanya ingin anak yang dikandungnya pergi untuk selamanya.
Namun kata-kata Lia tiba-tiba terngiang di telinganya.
"Jangan pikirkan soal itu. Anak ini tetaplah anakmu. Kamu harus menjaganya dengan baik. Ini titipan Tuhan, Nak. Tidak semua orang bisa mendapat anugerah seperti kamu. Siapapun ayah dari bayimu, bayi ini berhak untuk hidup. Jangan berpikir untuk menggugurkannya. Ya?"
Alza menangis dalam diam. Tubuhnya terguncang hebat.
"Aku harus bagaimana?"
Alza menyeberangi jalan raya tanpa melihat kanan ataupun kiri. Tubuh lelahnya sudah tak kuat menopang berat badannya.
BRUK!
Alza jatuh pingsan bertepatan dengan sebuah mobil melintas di depannya.
"Tuan, ada yang pingsan!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments