Kesunyian kini melanda Alza dan Arion. Setelah menanyakan perihal hubungan Arion dan Zetta, Alza tidak berminat untuk bertanya lagi karena Arion sama sekali tidak menjawab pertanyaannya.
Arion meraih tangan Alza dan meminta wanita hamil itu untuk duduk.
"Alza, jangan berpikir jika hubunganku dan Zetta sudah sejauh itu. Aku dan dia... Tidak seperti yang kamu bayangkan."
Alza melengos. "Aku tidak membayangkan apapun. Kalian sepasang kekasih. Kalian berhak melakukan apapun yang kalian mau."
"Alza, aku tidak..."
TING TONG!
Bunyi bel apartemen membuat Arion tidak melanjutkan kalimatnya. "Em, itu pasti OB yang membawa koper kamu. Aku ambil dulu ya!"
Arion segera beranjak dan menuju pintu depan. Benar saja, barang-barang Alza telah tiba. Arion segera mendorong koper milik Alza.
"Sebaiknya kamu segera istirahat. Aku tahu kamu lelah."
Tanpa berkata apapun, Alza merebut koper ditangan Arion dan membawanya ke kamar tamu. Alza segera membersihkan diri di kamar mandi lalu tidur di kasur empuk itu.
"Aah, lelah sekali rasanya."
...***...
Pagi-pagi sekali Arion sudah bangun dan pergi keluar kamar. Arion bermaksud berbelanja bahan makanan yang akan ia masak pagi ini.
Beruntung di lantai bawah apartemennya ada supermarket yang menyediakan bahan makanan yang fresh dan organik.
"Hei, Nona! Ini benar sayur organik kan?" tanya Arion pada salah satu karyawan.
"Iya, Tuan Arion. Itu asli organik dan fresh." Karyawan itu mengembangkan senyumnya.
Diantara para karyawan supermarket, Arion memang menjadi idola bagi para wanita disana. Sosoknya yang terkesan dingin, ternyata mampu membuat mereka meleleh karena selalu berbelanja bahan makanan sendiri dan juga memasaknya sendiri.
"Duuh, udah tampan, mapan, pintar masak pula! Bener-bener calon suami idaman!" celetuk salah satu karyawan wanita bernama Tika.
"Iya, bener Tik. Sekarang dia jomblo tuh! Ada yang mau deketin gak?" sahut karyawan lain bernama Rita.
"Haish! Mana berani kita!" sahut yang lainnya.
"Untung aja dia gak jadi nikah sama si cewek menye-menye itu. Lagian apa sih yang dilihat dari si Arzetta itu? Ketahuan banget kalau dia itu cewek manja yang gak bisa ngapa-ngapain."
"Hush! Masih pagi jangan ngegosip. Ini aku bawa berita fakta terbaru tentang Tuan Arion. Kalian tahu gak? Semalam si Beni, OB di lantai 15 bilang, kalau Tuan Arion bawa cewek ke apartemennya."
"Heh?! Serius kamu? Siapa cewek itu?"
"Mana aku tahu! Mungkin pacar barunya, atau mungkin cuma saudara aja."
Para karyawan wanita itu langsung beringsut lemas setelah mendengar kabar terbaru Arion. Mereka patah hati berjamaah mendengar Arion yang sudah kembali memiliki kekasih.
...***...
Alza terbangun dari tidur panjangnya. Alza terkesiap karena baru kali ini ia terlambat bangun.
"Hah?! Jam berapa ini?"
Alza segera menuju ke kamar mandi dan membasuh mukanya. Alza keluar dari kamar dan mencium aroma lezat dari arah dapur.
"Arion memasak?" Alza cukup kaget melihat kepiawaian Arion dalam mengolah bahan makanan.
Arion berbalik badan dan melihat Alza sedang mematung menatapnya.
"Alza? Kamu sudah bangun? Ayo sini duduk!"
Alza yang masih terkejut akhirnya melangkah menuju meja makan. Kedua mata bening Alza terus menatap Arion yang masih sibuk di dapur.
Hingga akhirnya dua hidangan tersaji diatas meja. Steak ikan salmon dan tumis sayur capjay.
"Makanlah! Ibu hamil harus banyak makan yang bergizi." Arion mengambil piring dan mengisinya dengan makanan yang sudah dimasaknya.
"Kamu... Bisa masak?" Akhirnya Alza bersuara juga.
Arion menggeleng. "Hanya masakan sederhana saja. Aku terbiasa memasak saat aku tinggal di luar negeri dulu. Ayo silakan cicipi! Kalau tidak enak kamu bilang aja!"
Alza menatap Arion sejenak lalu menyendok makanan diatas piring itu. Lidahnya merasakan sensasi berbeda ketika menyantap masakan Arion.
"Bagaimana?" tanya Arion dengan harap-harap cemas.
"Enak! Ini sangat enak!" Alza kembali menyuap makanan hingga tandas.
Segelas susu yang dibuat Arion menjadi sajian penutup sarapan Alza pagi ini.
"Syukurlah kalau kamu suka. Setiap hari aku akan membuatkanmu makanan yang lezat."
"Eh? Ti-tidak perlu. Aku tidak mau merepotkanmu." Alza menundukkan kepalanya.
"Kenapa kamu masih bicara formal padaku? Santai saja, Alza."
Alza mengangguk. "Maaf. Aku hanya belum terbiasa."
"Setelah ini bersiaplah! Kita akan ke rumah sakit. Tapi kalau kamu lelah..."
"Tidak, aku tidak lelah. Kita ke rumah sakit hari ini juga. Lebih cepat lebih baik kita mengetahui siapa ayah dari bayi ini."
Arion menatap Alza sendu. Rupanya Alza masih belum percaya dengan apa yang diyakini Arion. Padahal sudah jelas-jelas jika Dennis adalah pria mandul.
...***...
Arion menemui teman lamanya, Wirda, dokter kandungan di rumah sakit pusat Kota B. Sebelumnya Arion memang sudah mengutarakan rencananya untuk melakukan tes DNA pada janin Alza. Namun karena Arion harus mengurus masalahnya dengan Zetta lebih dulu, dan juga ditambah dengan menghilangnya Alza kemarin, membuat semua rencana Arion berubah dan tertunda.
"Tes ini di sebut Tes Paternitas Prenatal Noninvasif (NIPP). Tim dari laboratorium akan menganalisis DNA janin yang ditemukan dalam darah ibu hamil selama trimester pertama. Lalu membandingkan informasi DNA janin dengan DNA dari sampel sel bukal calon ayah. Tes ini cenderung lebih aman dibanding metode lainnya. Bagaimana? Apa kamu siap?" jelas Wirda.
Arion mengangguk mantap. "Aku sudah menunggu ini sejak lama, Wirda."
Beberapa jam kemudian, Arion dan Alza sudah selesai menjalani pemeriksaan.
"Hasilnya akan keluar dalam 14 hari," ucap Wirda.
"Itu terlalu lama, Wirda!" protes Arion.
"Tapi itu prosedurnya, Arion!"
Arion terlihat tidak sabar untuk segera mengetahui hasil pemeriksaan hari ini. "Baiklah! Seminggu! Aku beri waktu seminggu dan kamu harus sudah menyelesaikannya. Tidak ada bantahan, Wirda!"
Alza hanya diam dan mendengarkan obrolan Arion dengan Wirda.
...***...
Tiba di apartemen, Arion meninggalkan Alza sendiri karena harus pergi ke perusahaan. Alza mengerti dengan kesibukan Arion.
"Besok kita berkemas dan pindah ke rumah utama."
Pernyataan Arion sebelum pergi membuat Alza tertegun.
"Pi-pindah ke rumah utama? Maksudnya ke rumah keluarga Nusantara?" lirih Alza dengan menautkan jari-jari tangannya.
"Apa mereka bisa menerimaku? Apalagi aku sedang dalam posisi hamil. Mereka pasti akan berpikir aku sudah menggoda Arion. Bagaimana ini, Nak?" Alza mengajak janin dalam perutnya berkomunikasi.
Ketakutan Alza nyatanya tidak sepenuhnya benar. Ketika kakinya menapaki jengkal demi jengkal halaman rumah keluarga Nusantara, ada beberapa pasang mata yang menatap kearahnya.
Alza tak berani membalas tatapan mereka. Alza hanya menunduk dan berjalan di belakang tubuh Arion.
"Kenalkan, ini Alzarin. Dia adalah calon istriku dan juga ibu dari anakku!"
Kalimat Arion menggema di ruangan yang dingin dan sunyi itu. Tak ada tanggapan berarti dari semua orang yang berdiri menyambut mereka.
Hingga...
"Kemarilah, Nak!" Sentuhan hangat seorang wanita paruh baya menghenyak lamunan Alzarin.
"Aku Arnis, aku adalah ibunya Arion. Dan ini suamiku, Sultan. Lalu, dia adalah adik Arion, Falia. Dan itu..."
Mata Alza beralih menatap pria renta yang memegang tongkat di tangan kanannya. Tatapan mata pria itu sungguh mirip dengan Arion, tajam dan mematikan.
"Itu Kakek Johan, kakeknya Arion." Arnis melanjutkan sesi perkenalannya.
Alza kembali menunduk dan mengangguk. Rasanya ia seakan memasuki kandang macan dan siap untuk dimangsa.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments
Radya Arynda
semogah alza menemukan ke bahagian ...kasihan alza, , , , yang sabar dan semangaaat💪💪💪💪💪
2023-06-08
4