Bab 13

Tubuh Alzarin luruh ke lantai. Betapa tidak? Pria yang sudah dikenalnya selama 12 tahun, pria yang baru menikahinya seumur jagung, tiba-tiba mengatakan ingin berpisah.

Apa kesalahannya hingga Dennis mengatakan kata cerai kepadanya? Begitulah pikiran Alzarin saat ini.

"Apa yang kamu katakan, Mas? Apa salahku sampai kamu ingin menceraikanku? Jika kamu pikir aku sudah berselingkuh, kamu salah, Mas. Aku gak pernah selingkuh! Berapa lama kamu mengenalku, Mas? Berapa lama?!"

Dalam keputusasaan Alzarin berteriak. Meski tubuhnya telah limbung tapi semangat untuk membela diri tetap ia gaungkan. Alzarin tak ingin menjadi lemah sekarang.

Dennis mengusap kasar wajahnya. Ingin ia rengkuh tubuh lemah Alza saat ini. Ingin ia ungkapkan betapa dirinya sangat mencintai Alza.

Namun kekecewaan yang ia rasakan melebihi semua rasa cinta yang pernah hadir dalam hatinya. Dennis memilih pergi meninggalkan Alza dalam kesendirian dan tangis.

"Secepatnya kita akan berpisah. Dan kamu bisa hidup dengan teman masa kecilmu itu."

Itulah yang Dennis katakan sebelum sosok tegapnya menghilang dibalik pintu kamar.

Tangis Alza makin pilu. Bagaimana bisa ia menghadapi semua ini sendirian? Dulu, selalu ada Dennis yang menemaninya di saat ia sedih. Kini Alza harus menghadapi badai ini sendiri dan tanpa siapapun. Meski bisa saja ada Arion yang akan siap menjadi sayap pelindung untuknya.

Tapi sekali lagi Alza meyakinkan dirinya. Alza tidak akan menghiba pada Arion maupun siapapun. Alza akan hidup untuk dirinya sendiri dan juga janin yang ada di rahimnya.

Seperti yang dikatakan Lia padanya. Alza harus kuat demi bayi yang tak bersalah dalam rahimnya.

Alza menghapus air matanya. Tatapan matanya tertuju pada pintu kamar Dennis yang tertutup rapat. Tekad Alza sudah bulat. Alza akan pergi meninggalkan semuanya.

Alza bangkit dengan kedua kakinya. Ia melangkah menuju kamar tamu yang disana sudah ada barang-barangnya. Sejak mengetahui Alza hamil, Dennis memilih untuk tidak tidur bersama istrinya.

Alza duduk di tepian ranjang. Kelopak matanya yang masih basah ia pejamkan untuk sekedar membuatnya lebih tenang.

"Aku akan pergi dari sini, Mas. Sejak awal seharusnya aku gak menyetujui untuk diadopsi oleh keluarga Pratama. Aku hanya menyisakan luka untuk kalian. Maafkan aku, Mama... Papa..."

...***...

Pagi hari ini gedung Nusantara Grup dipenuhi oleh para wartawan yang sudah menunggu kedatangan Arion. Rencananya hari ini Arion akan mengadakan konferensi pers mengenai kandasnya kisah cintanya bersama Zetta.

Tentu saja rencana Arion hanya diketahui oleh beberapa orang saja termasuk Falia. Falia yang sudah tiba di kantor menatap dari lantai atas ketika Arion datang bersama dengan Anand, sang asisten.

Arion langsung memposisikan dirinya di antara para wartawan yang sudah lama menunggu. Arion tetap tenang dengan wajah datarnya. Begitulah Arion. Didikan dari Johan membuat Arion menjadi pribadi seperti sekarang.

"Selamat pagi menjelang siang semuanya!"

Terdengar suara bariton Arion yang menggema di ruangan itu.

"Hari ini saya hanya akan memberikan klarifikasi dan pemberitahuan tanpa adanya pertanyaan dari kalian semua."

Pernyataan Arion membuat para wartawan berbisik-bisik menerka-nerka apa yang akan dikatakan Arion.

"Hubungan pertunangan saya dengan Arzetta Pratama... Sudah berakhir. Karena ada satu dan lain hal. Mohon pihak-pihak tertentu tidak memanfaatkan momen ini sebagai ajang menyebar berita kebohongan atau hoaks. Jika saya menemukan ada yang memanfaatkan hal ini, maka dengan tegas saya akan menindak ini. Terima kasih."

Suara Arion yang tenang dan tegas membuat para wartawan makin kasak-kusuk. Ditambah lagi, Arion langsung meninggalkan tempat setelah mengucapkan hal yang ingin diucapkannya. Arion berjalan dengan tegap bersama dengan Anand.

Di sisi lain, Juno dan Lia melihat berita konferensi pers yang dilakukan Arion barusan. Juno sudah tahu perihal rencana Arion ini.

Dan ya, Juno merasa ini adalah yang terbaik bagi putrinya. Namun entah mengapa ia tidak rela jika harus melepas Alza untuk Arion.

Dennis sendiri sudah memberitahu jika dirinya akan menceraikan Alza. Juno menghela napas berat setelah melihat video konferensi pers Arion.

Amalia hanya menangis melihat hancurnya rumah tangga putranya dan hubungan putrinya. Juno memeluk istrinya itu.

"Sudahlah, Ma. Kita ikhlaskan semuanya. Itu berarti Tuhan memberitahu kita jika Arion bukanlah pria yang baik untuk Zetta. Dan masalah Dennis..." Juno menjeda kalimatnya.

"Dennis sudah dewasa. Dia bisa menentukan jalan hidupnya sendiri. Jika memang ini yang terbaik baginya, kita harus mendukungnya."

Tangis Amalia makin keras. Kesedihan seorang ibu tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Di dalam kamarnya, Zetta menggeram kesal dengan pernyataan Arion di depan publik.

"Kalian berdua memang brengsek! Kalian gak akan hidup tenang setelah ini! Kita lihat aja nanti!"

Tangan Zetta terkepal kuat hingga buku-buku tangannya memutih. Mulai hari ini ia tidak akan lagi menangisi Arion. Mulai hari ini tidak ada lagi nama Arion dalam hatinya. Baginya, Arion dan Alza adalah musuh dalam hidupnya.

...***...

Kehebohan yang terjadi diluaran sana tentu saja terjadi di rumah keluarga Nusantara. Johan amat murka dengan apa yang dilakukan Arion pagi tadi. Johan mengumpulkan semua orang sambil menunggu kedatangan Arion.

Saat semua orang berkumpul dengan wajah tegangnya, Arion malah terlihat santai saat memasuki rumah.

"Selamat malam semuanya!" sapa Arion seperti biasa. Seakan tidak terjadi apapun pagi tadi.

"Anak kurang ajar! Berani sekali kau mempermalukan keluarga ini, hah?!" bentak Johan yang tak mampu lagi menahan amarahnya.

Arnis dan Sultan hanya diam mendengar gelegar suara Johan, termasuk Falia. Gadis itu masih tetap santai meski kakak angkatnya itu pasti akan disidang habis-habisan oleh Johan.

"Maaf jika aku melakukan semua ini!" Arion menekuk kedua lututnya dan bersimpuh di depan semua orang. Kali ini ia akan menurunkan egonya.

"Arion, apa yang kamu lakukan, Nak?" Arnis cemas melihat Arion yang pasrah.

Johan masih bergeming dan tak bicara lagi. Ia memang mudah ditundukkan jika musuhnya mengaku kalah terlebih dulu.

"Aku sudah menemukan gadis yang selama ini kucari. Alzarin! Aku menemukannya. Dan aku akan membawanya ke rumah ini. Sama seperti janjiku 12 tahun lalu."

Arnis dan Sultan saling pandang. Mereka masih bingung dengan apa yang dikatakan Arion. Tapi tidak dengan Johan. Johan sudah menyelidiki semua ini lebih dulu.

"Aku harap kalian bisa menerimanya nanti." Arion melirik Falia yang tetap dengan wajah datar dan dinginnya. Kedua kakak beradik ini memang sama persis. Meski tidak lahir dari rahim yang sama, tapi pembawaan mereka sangatlah mirip. Hingga tak banyak yang tahu jika mereka hanyalah saudara angkat saja.

"Falia... Kamu jangan khawatir. Posisimu tidak akan pernah tergantikan oleh Alza di rumah ini. Karena Alza disini sebagai istriku, bukan adikku."

"APA?!"

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!