Hari yang ditunggu oleh Zetta akhirnya tiba juga. Hari pertunangannya dengan Arion sudah ia persiapkan dengan baik. Senyum mengembang selalu ditampilkan oleh Zetta.
Di sisi lain, Arion yang sedang berbincang dengan kolega bisnisnya, tapi matanya tak pernah lepas dari sosok Alzarin. Wanita cantik sederhana yang adalah istri dari kakak iparnya. Arion senang karena akhirnya bisa menemukan Alza, meski kondisi mereka telah berbeda.
Ketika sosok Alza menghilang dari pandangannya, Arion langsung pergi mencarinya. Arion bernapas lega karena ternyata Alza hanya pergi ke toilet. Malam ini Alza terlihat mempesona di mata Arion. Meski Zetta juga tampil cantik malam ini, tapi bagi Arion Alza adalah segalanya. Gadis yang dulu pernah berjanji akan hidup bersamanya, menghabiskan waktu bersama. Entah garis takdir akan membawa kisah mereka ke arah yang mana.
Alza keluar dari toilet. Karena kurang hati-hati, sepatu hak tinggi yang dipakainya tergelincir dan membuatnya kehilangan keseimbangan. Dengan sigap Arion menangkap tubuh Alza.
Sejenak Alza merasakan ada sesuatu dengan Arion. Rasanya sosok Arion adalah sosok yang pernah ia kenal di masa lalu.
Ditambah lagi Alza merasa pernah mencium aroma parfum yang sama dengan milik Arion.
"Kenapa aromanya sama seperti... Tapi, mungkin hanya perasaanku saja."
"Ma-maaf!" Alza segera melepaskan diri dari dekapan Arion dan meminta maaf.
"Ah, tidak apa. Lain kali kamu harus lebih hati-hati lagi, kakak ipar." Arion mencoba bersikap sopan pada Alza. Bagaimanapun juga Alza adalah istri Dennis.
"Iya, terima kasih sudah menolong saya." Alza berterimakasih kemudian berlalu pergi.
Arion tersenyum penuh bahagia. Meski hanya bersentuhan sedikit, tapi hatinya sudah berbunga-bunga.
#
#
#
Dua bulan pasca honeymoon yang dilakukannya dengan Dennis. Alza mulai merasa jika badannya kurang fit beberapa hari ini.
"Ada apa denganku? Apa aku sakit?" Alza menempelkan punggung tangannya ke kening.
"Tidak panas. Aku kenapa ya?"
Alza sejak tadi tidak konsen bekerja. Wajahnya memucat. Seiring dengan rasa mual yang terus mendera ketika mencium bau parfum ruangannya sendiri.
"Astaga! Apa yang terjadi denganku?"
Seorang rekan kerja Alza menghampiri dan membantu Alza untuk mengoleskan minyak kayu putih.
"Coba kamu cek kehamilan, Za. Siapa tahu aja kamu hamil. Tanda-tanda kamu sama persis denganku pas hamil anakku kemarin."
Kata-kata rekan kerjanya mulai mengganggu Alza. Ia mengecek kalender datang bulannya. Alza memang rajin memberi tanda saat tamu bulanannya datang.
"Eh? Benar! Kenapa aku tidak sadar kalau aku sudah tidak mengalami menstruasi setelah pulang bulan madu. Apa yang dikatakan mbak Mirna itu benar? Sebaiknya aku tes kehamilan dulu saja."
Sepulang bekerja, Alza membeli alat tes kehamilan. Ia berharap jika firasatnya benar. Akan bertambah kebahagiaannya jika benar dirinya memang hamil.
Pagi harinya setelah bangun tidur, Alza melakukan tes kehamilan.
"Mbak Mirna bilang bagusnya tes setelah bangun tidur. Semoga saja hasilnya bagus!"
Alza memejamkan mata ketika menunggu alat tes itu bekerja. Setelah beberapa saat, Alza membuka matanya.
"Ya Tuhan! Aku beneran hamil!" Alza menutup mulutnya tak percaya.
"Terima kasih ya Tuhan. Apa aku perlu memberitahu Mas Dennis?"
Ketika keluar kamar, Alza baru ingat jika hari ini Dennis ada tugas ke luar kota. Karena sekarang ayah mertuanya sudah tidak bisa melakukan perjalanan jauh, maka Dennis yang menggantikan Juno untuk mengurus bisnis di luar kota.
"Haaah! Harus nunggu sampai Mas Dennis pulang dari luar kota dulu deh!"
#
#
#
Amalia meminta Alza untuk menginap di rumah karena kasihan melihat Alza sendiri selama Dennis tugas luar kota. Alza sama sekali tidak keberatan dengan usulan Lia, karena dulu Alza juga tinggal di rumah itu.
Alza yang baru pulang kantor membeli beberapa buah asam untuk di makannya.
"Za, perutmu gak sakit makan mangga muda begitu?" tanya Lia yang bergidik merasakan rasa asam memenuhi mulutnya.
"Gak, Ma. Ini enak kok. Mama mau coba?"
Mama Lia menggeleng. "Tumben kamu suka makanan asam, Za. Biasanya kamu gak suka."
"Gak tahu, Ma. Lagi pengen aja."
Mama Lia merasa bingung dengan tingkah aneh menantunya.
"Za, jangan-jangan... Kamu lagi nyidam ya? Kamu hamil?"
"Hah?! Hamil? Siapa yang hamil?" Sorakan Zetta membuat Alza tersedak.
"Pelan-pelan dong, sayang..." Lia menyodorkan segelas air untuk Alza.
"Terima kasih, Ma. Aku kaget aja karena Zetta tiba-tiba datang."
"Heheh, kakak belum jawab pertanyaan Mama. Kakak beneran lagi hamil?"
Dengan malu Alza pun mengangguk.
"Oh, sayang... Selamat ya!" Lia langsung memeluk Alza.
"Ini akan jadi kejutan yang manis buat Dennis saat dia pulang nanti."
Alza mengangguk. "Iya, Ma. Aku gak sabar mau lihat reaksi Mas Dennis saat tahu soal kehamilanku ini."
Juno yang mendengar kabar bahagia ini ikut bereuforia bersama dengan tiga wanita yang mengisi hari-harinya. Kehadiran Alza memang membawa berkah tersendiri untuk keluarganya. Dan Juno bersyukur akan hal itu.
#
#
#
Hari kepulangan Dennis akhirnya tiba. Dennis pulang ke rumah orang tuanya karena Alza juga ada disana.
"Dennis, akhirnya kamu pulang juga!" Lia menyambut kedatangan putra sulungnya dengan sebuah pelukan hangat.
"Mama, ada apa sih? Kayaknya happy banget."
Lia mengangguk. "Tentu saja! Istrimu lah yang membawa kebahagiaan untuk keluarga ini."
Dennis mengikuti langkah Lia menuju ke ruang keluarga dimana semua orang berkumpul disana.
"Ada apaan sih ini? Kenapa semua berkumpul disini?"
"Ih abang gak peka! Tuh liat istri abang!" celetuk Zetta.
"Kenapa dengan Alza? Apa dia sakit?" Dennis yang panik langsung mendekati Alza.
"Gak, Mas. Aku baik-baik aja kok!" jawab Alza.
"Selamat ya, Dennis. Sebentar lagi kamu akan jadi ayah!"
Kalimat Juno membuat Dennis bak disambar petir.
"Ayah?" gumam Dennis lalu menatap Alza yang tersenyum padanya.
Dennis bungkam. Ia tak mengatakan apapun. Ia memilih untuk membawa Alza pulang dari rumah orang tuanya.
"Pa, Ma. Sudah malam. Aku dan Alza pamit pulang dulu." Dennis menarik tangan Alza untuk bangun dari duduknya.
"Lho? Kalian gak menginap disini?" tanya Lia.
"Gak, Ma. Aku pulang saja! Permisi semuanya. Selamat malam!"
Dengan tergesa Dennis membawa Alza keluar dari rumah itu. Selama perjalanan pun Dennis tak mengatakan apapun pada Alza.
"Sebenarnya Mas Dennis kenapa ya?" tanya Alza dalam hati.
Tiba di rumah mereka sendiri, Dennis meninggalkan Alza yang tertinggal di dalam mobil.
"Mas! Mas Dennis tunggu!" Alza mengejar langkah Dennis.
"Mas, kamu kenapa? Apa aku ada salah sama kamu?" Alza panik dengan sikap Dennis yang mendadak berubah.
Dennis mengusap wajahnya kasar. "Apa benar kamu hamil?"
"I-iya, Mas. Kamu gak senang ya dengar kabar aku hamil? Ini anak kita, Mas!"
Dennis menggeleng. "Tidak! Itu bukan anak aku!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments