Hari Pertama

Part 7

Setelah menetralkan nafasnya, laki-laki itu nenyeka keringat yang membanjir di dahinya.

"Kelihatannya kamu sangat terburu-buru?" Kayesa memberanikan diri mengeluarkan pertanyaan.

"Lima menit lagi wawancara akan dimulai. Terlambat satu detik saja bisa gagal," ujar laki-laki itu.

"Kamu peserta wawancara juga?" Laki-laki itu bertanya sambil memperhatikan wajah Kayesa. Kayesa hanya mengangguk.

"Dia wanita itu. Apa bos sudah tahu," batin laki-laki itu terus memperhatikan Kayesa.

"Semoga kita berdua keterima kerja di sini ya," ujar laki-laki itu lagi. Kayesa kembali mengangguk.

Beberapa detik kemudian lift membawa mereka berdua ke atas, saaat lift terbuka, laki-laki itu mempersilakan Kayesa ke luar duluan.

"Nama kamu siapa?" Tanya laki-laki itu sambil mensejajari langkah Kayesa menyuduri trotoar kantor.

"Kayesa Artha. Panggil saja Esa."

"Aku Rayzad Alfarisi. Panggil saja Ray," laki-laki itu menyalami Kayesa.

Setelah berkenalan keduanya berpisah. Kayesa berbelok ke sebelah kiri untuk posisi staf karyawan, satpam, office boy, office gilr dan clearning service. Sementara Ray ke sebelah kanan untuk posisi menejer dan kepala divisi.

Saat Kayesa masuk ke ruang wawancara, sudah ada enam peserta termasuk dua wanita yang tadi mendorongnya. Semua mata tertuju padanya, kala Kayesa mendudukkan bokongnya di salah satu kursi yang masih kosong.

"Eh. Masih berani bersaing sama kami," celetok salah satu dari wanita tadi.

"Gerr," yang ada di situ serentak tertawa.

"Paling dia melamar jadi clearning service," teman wanita itu ikut menyela.

"Tidak usah diladani, buang energi saja. Fokus saja untuk wawancara," bisik seorang wanita berbaju hitam yang duduk di sampingnya.

Kayesa menoleh ke arah wanita itu, tersenyum dan mengangguk. Benar kata wanita berbaju hitam itu, meladani dua wanita sombong itu hanya buang-buang masa saja. Saat menyadari Kayesa tak beraksi, kedua wanita itu pun mengakhiri bulyannya.

Satu persatu peserta dipanggil masuk ke dalam. Ada yang keluar dengan wajah ceria, ada yang tegang ada pula yang terlihat sedih.

"Antrian nomor tujuh. Masuk!" Kayesa berada diantrian terakhir.

Kini giliran Kayesa. Sebelum melangkah masuk, Kayesa merapikan anak rambutnya. Dengan mengucap basmallah, Kayesa berdiri, rasa gugup menyergapnya seketika. Jujur ini kali pertama dia ikut tes wawancara.

Semakin langkah kakinya mendekati pintu ruang wawancara, debar jantungnya dua kali lebih cepat dari biasanya.

"Selamat pagi. Pak." Kayesa menyapa laki-laki yang sedang asik menatap layar lapropnya.

"Silakan duduk," ujar laki-laki itu mengangkat wajahnya.

"Ka-kamu..." Kayesa tidak melanjutkan ucapannya. Dia menutup mulutnya yang sudah terlanjur lancang.

"Duduk Esa! Kenapa bengong gitu."

Menejer yang akan mewawancaranya ternyata laki-laki yang memintanya menahan lift. Ray sudah menyangka kalau Kayesa terkejut.

"Maaf pak Ray. Sa-saya..."

"Sudah. Jangan sungkan begitu. Santai," ujar Ray lagi.

Tangan Kayesa bergerak menarik kursi di depan meja Ray, lalu dia mendudukan bokongnya. Masih antara percaya dan tidak, Kayesa memberanikan diri mengangkat wajahnya.

"Mana cv mu?"

Kayesa menyodorkan map yang dibawanya ke arah Ray. Ray mengambil lalu membuka map dan membaca cv Kayesa. Tak sampai lima menit, Ray menutup kembali map itu.

"Kamu di terima sebagai clearning service. Hari ini sudah bisa bekerja."

"Benaran." Kayesa rasa tak percaya kalau Ray menerimanya tanpa ada wawancara.

Diterima sebagai clearning service di perusahaan besar, sudah merupakan kebahagiaan bagi Kayesa. Karena dia hanya mengantongi ijazah sekolah menengah atas, hanya posisi clearning service dan office gilr yang pantas untuknya.

"Iya. Kamu akan digaji dua juta perbulan. Dan gajimu akan naik dua kali lipat, jika kamu bisa menbuat ruangan bos bersih dan dia menyukainya." Ray menawarkan tantangan di hari pertama Kayesa diterima.

"Terima kasih. Pak! Sudah menerima saya bekerja di sini. Saya akan coba tantangan yang bapak berikan."

Rayzad memanggil asistennya. Seorang wanita muda dan cantik, usianya mungkin tidak jauh beda dengan Kayesa, paling selisih dua atau tiga tahun.

"Ruhi! Mulai hari ini. Esa bertanggung jawab atas kebersihan ruang bos Zafran. Tolong kamu kasih tahu apa-apa saja tugasnya," titah Ray.

Sejenak Ruhi menatap ke arah Kayesa, lalu mengajak Kayesa keluar dari ruang Rayzad, membawa Kayesa keruangannya. Ruhi kemudian menjelaskan apa saja tugas Kayesa.

"Waktu membersihkan ruang bos Zafran. Pagi dibawah jam sembilan sebelum beliau datang." Awal Ruhi dengan peraturan pertama, karena Zafran tidak segan memecat karyawannya yang telat semenit pun.

"Dan satu lagi, saat membersihkan ruangan bos jangan sekali-kali memindahkan barang-barang dari tempatnya semula. Jika kamu tidak ingin dipecat," jelas Ruhi.

"Kemudian saat bekerja tidak dibenarkan main hape. Ingat ya. Bos kita galak," Ruhi berbisik, seperti takut kalau ada karyawan lain yang mendengar saat dia menyebut CEO perusahaan galak.

Mendengar penjelasan Ruhi, Kayesa membayangkan betapa sangar wajah bosnya. Peraturannya saja begitu ketat. Ruhi kemudian menyerahkan baju kerja dan memberikan kunci loker pada Kayesa.

"Ada pertanyaan lain. Sebelum kamu mulai bertugas."

Ruhi sangat baik pada semua karyawan, dia bahkan selalu melindungi bawahannya. Begitu juga sebaliknya semua karyawan menyukai dan menyeganinya.

"Kak. Bolehkah saya menelepon anak saya dulu, sebelum saya memulai kerja."

"Silakan. Kalau sudah bekerja tidak boleh lagi memegang hape, kecuali pas jam isoma," ujar Ruhi menjelaskan, lalu kembali keruangannya.

Kayesa melangkah ke ruang loker, kemudian menelepon Maeka, mengabar kalau dia sudah mulai bekerja.

"Maeka! Bagaimana keadaan Kiano?" Tanya Kayesa begitu panggilan terhubung. Sebenar Kayesa tidak ingin langsung bekerja hari ini. Tapi jika ditolaknya, bisa saja dia tak punya kesempatan lagi.

"Sudah lumayan. Nya! Kata dokter besok sudah bisa pindah dari ICU ke ruang rawat," ujar Maeka memberitahu Kayesa.

Perasaan Kayesa bercampur aduk. Bahagia mendengar Kiano membaik, sedih harus meninggalkan Kiano, karena memilih bekerja. Namun, semua ini dia lakukan untuk Kiano juga. Kayesa ingin memberikan kehidupan yang lebih baik untuk putranya itu.

Setelah mengabari Maeka, kalau hari ini dia mulai bekerja dan pulang pukul lima sore, Kayesa lalu menutup panggilan telepon, kemudian mengambil baju seragam kerja, masuk ke ruang ganti. Setelah mengganti bajunya, Kayesa menyimpan baju dan ponsel ke dalam loker dan menguncinya.

"Hay! Kamu anak baru dipanggil kak Ruhi." Seorang wanita muda yang seprofesi dengannya memberitahu.

Sambil mengucapkan terima kasih pada wanita yang belum dikenalnya, Kayesa tersenyum ke arahnya, lalu permisi pamit menemui Ruhi.

"Bos Zafran Briefing sampai pukul lima sore. Kamu punya waktu membersihkan ruangannya dari sekarang." Titah Ruhi.

"Ingat dibawa pukul lima sore. Kamu sudah tidak ada di ruangan bos dan besok pagi datanglah sebelum pukul tujuh, ruangan bos Zafran sudah fres dan bersih saat dia datang. Okay!"

Ruhi tahu betul kebiasaan Zafran, laki-laki itu paling tidak suka ruangannya belum bersih saat dia datang. Dan Zafran lebih tidak suka saat dia ada di ruangan, ada clearning service sedang bekarja. Makanya Ruhi mengatur jadwal membersihkan ruang bosnya sepagi mungkin.

"Baik kak." Kayesa masuk sambil membawa peralatan kebersihan.

Mata Kayesa melotot saat masuk ke ruang CEO itu. Interior ruangan sangat mewah, hanya saja tata letak kurang tepat, hingga terlihat semberaut dan tidak menarik. Namun, karena ingat pesan dari Ruhi, Kayesa hanya membersihkan ruangan, tanpa memindahkan satu barang pun.

Hanya butuh dua jam, ruangan selebar sepuluh kali sepuluh meter itu sudah terlihat rapi. Walaupun semua sudah bersih, dipandangan mata Kayesa tetap ada sesuatu yang mengganjal, hingga ruangan mewah itu terlihat tidak indah.

"Kalau ada bunga kecil di atas meja ini. Pasti lebih elegan," batin Kayesa.

Kayesa kemudian merapikan beberapa berkas yang berserakan di atas meja Zafran. Tanpa sadar Kayesa telah memindahkan beberapa berkas penting itu. Lalu Kayesa meraih foto berbingkai hati, sejenak gerakan tangan Kayesa berhenti mengelap foto itu, dia menatap wajah tampan yang tersenyum di bingkai itu.

"Ini pasti foto putranya bos Zafran," batin Kayesa, lalu meletak kembali di tempat semula.

Tanpa sengaja, mata Kayesa tertuju pada id card yang tergeletak di samping bingkai foto tadi. Kayesa meraih id card itu, dan mengeja nama yang tertera Zafran Alfaro, lalu menatap paspoto yang ada di id card itu, sama persis dengan yang di bingkai tadi.

"Ternyata siganteng ini. CEO di sini," batin Kayesa tersenyum, merasa senang karena bisa menikmati wajah tampan bos walau hanya dari foto.

"Aslinya kamu pasti lebih ganteng." Guman Kayesa.

Terpopuler

Comments

Rokinah Mamasurya

Rokinah Mamasurya

dia mantan suami mu cantiq...

2023-05-11

3

lihat semua
Episodes
1 Kayesa
2 Hamil
3 Kembali
4 Kecelakaan
5 Zafran
6 Di Rumah Sakit
7 Hari Pertama
8 Diam-Diam
9 Mawar Merah
10 Dipecat
11 Kembali ke Kantor
12 Terkurung
13 Kesal
14 Ikatan Batin
15 Alena
16 Perjanjian Kerja
17 Dirawat
18 Hasil DNA
19 Keluar Rumah Sakit
20 Ke Rumah Kontrak
21 Drama Alena
22 Kembali Bekerja
23 Kekesal Alena
24 Dunia Sempit
25 Makan Siang
26 Wahana Bermain
27 Terjebak Macet
28 Di Apartement
29 Tak Bisa Pulang
30 Tertidur di Sofa
31 Rumah Oma Fatma
32 Kejutan Untuk Alena
33 Terbakar Cemburu
34 Praduga
35 Berseteru
36 Kekesalan Kayesa
37 Bertemu Rizwan
38 Kabar Sedih
39 Pergi Tanpa Pamit
40 Pertemuan Tak Terduga
41 Perasaan yang Sama
42 Kayesa Demam
43 Bersama Kiano
44 Shaga VS Zafran
45 Kegalauan Zafran
46 Alena berulah.
47 Sampai di Perkampungan
48 Rencana Tono
49 Kedatangan Asaka
50 Pernikahan Zafran
51 Rahasia Zafran
52 Alena vs Oma
53 Siasat Oma
54 Di Hotel
55 Bertemu Malika
56 Di Bandara
57 Satu Pesawat
58 Tatia
59 Mengerjai Alena
60 Bertemu Zafran
61 Obat Pencahar
62 Bermain perasaan
63 Pindah Kamar
64 Kecurigaan Alena
65 Dihimpit perasaan
66 Di Pantai
67 Plin plan
68 Pura-pura sakit
69 Kebohongan
70 Kehilangan Ponsel
71 Siasat Zafran
72 Salah Kamar
73 Tikus Nakal
74 Alena Terusir
75 Akting Alena
76 Bertemu Alena
77 Terkurung
78 Merasa Dikhianati
79 Kehilangan lagi
80 Pertemuan
81 Amnesia
82 Mengusir Alena
83 Kayesa luluh
84 Kenekatan Zafran
85 Ikut Kayesa
86 Bertemu Kiano
87 Toko Perhiasan
88 Serangan Jantung
89 Salah Paham
90 Kekecewaan Shaga
91 Kayesa Bimbang
92 Lamaran Mayumi
93 Menikahlah denganku
94 Cinta pertama
95 Fitting Baju
96 Rencana Shaga
97 Asaka diusir
98 Hampir Luluh
99 Usaha Alena
100 Ditangkap Polisi
101 Berubahkah Asaka
102 Rizwan Salah Paham
103 Kehilangan Zafran
104 Sendikat Asaka
105 Meragu
106 Tertangkap
107 Gagal
108 Menikah
Episodes

Updated 108 Episodes

1
Kayesa
2
Hamil
3
Kembali
4
Kecelakaan
5
Zafran
6
Di Rumah Sakit
7
Hari Pertama
8
Diam-Diam
9
Mawar Merah
10
Dipecat
11
Kembali ke Kantor
12
Terkurung
13
Kesal
14
Ikatan Batin
15
Alena
16
Perjanjian Kerja
17
Dirawat
18
Hasil DNA
19
Keluar Rumah Sakit
20
Ke Rumah Kontrak
21
Drama Alena
22
Kembali Bekerja
23
Kekesal Alena
24
Dunia Sempit
25
Makan Siang
26
Wahana Bermain
27
Terjebak Macet
28
Di Apartement
29
Tak Bisa Pulang
30
Tertidur di Sofa
31
Rumah Oma Fatma
32
Kejutan Untuk Alena
33
Terbakar Cemburu
34
Praduga
35
Berseteru
36
Kekesalan Kayesa
37
Bertemu Rizwan
38
Kabar Sedih
39
Pergi Tanpa Pamit
40
Pertemuan Tak Terduga
41
Perasaan yang Sama
42
Kayesa Demam
43
Bersama Kiano
44
Shaga VS Zafran
45
Kegalauan Zafran
46
Alena berulah.
47
Sampai di Perkampungan
48
Rencana Tono
49
Kedatangan Asaka
50
Pernikahan Zafran
51
Rahasia Zafran
52
Alena vs Oma
53
Siasat Oma
54
Di Hotel
55
Bertemu Malika
56
Di Bandara
57
Satu Pesawat
58
Tatia
59
Mengerjai Alena
60
Bertemu Zafran
61
Obat Pencahar
62
Bermain perasaan
63
Pindah Kamar
64
Kecurigaan Alena
65
Dihimpit perasaan
66
Di Pantai
67
Plin plan
68
Pura-pura sakit
69
Kebohongan
70
Kehilangan Ponsel
71
Siasat Zafran
72
Salah Kamar
73
Tikus Nakal
74
Alena Terusir
75
Akting Alena
76
Bertemu Alena
77
Terkurung
78
Merasa Dikhianati
79
Kehilangan lagi
80
Pertemuan
81
Amnesia
82
Mengusir Alena
83
Kayesa luluh
84
Kenekatan Zafran
85
Ikut Kayesa
86
Bertemu Kiano
87
Toko Perhiasan
88
Serangan Jantung
89
Salah Paham
90
Kekecewaan Shaga
91
Kayesa Bimbang
92
Lamaran Mayumi
93
Menikahlah denganku
94
Cinta pertama
95
Fitting Baju
96
Rencana Shaga
97
Asaka diusir
98
Hampir Luluh
99
Usaha Alena
100
Ditangkap Polisi
101
Berubahkah Asaka
102
Rizwan Salah Paham
103
Kehilangan Zafran
104
Sendikat Asaka
105
Meragu
106
Tertangkap
107
Gagal
108
Menikah

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!