Dirawat

Part 17.

Lamborghini milik Zafran meluncur meninggalkan apartement, melaju ke jalan raya. Zafran menjalankan sendiri lamborghininya, dia jarang sekali menggunakan jasa supir. Pagi ini Zafran mengantar Asaka mamanya ke bandara. Dia tidak ingin mamanya berlama-lama di Indonesia, bisa-bisa semua rahasianya terbongkar.

"Mama hati-hati, salam buat papa." Zafran menyalami dan mencium punggung tangan Asaka, kemudian menarik tubuh wanita setengah baya itu dalam pelukannya.

"Mama tunggu berita baiknya dalam bulan ini." Asaka mengurai pelukan putranya.

"Beres ma!" Zafran mengacungkan jempol kanan ke arah Asaka.

Setelah mengucapkan kata perpisahan dengan lambaian tangan, Zafran memutar tubuhnya kembali ke parkir, masuk ke lamborghini, menakan pedal gas dan meluncur meninggalkan bandara menuju kantor.

Begitu sampai ke kantor, zafran turun dari lamborghini, melangkah masuk ke ruang utama, masuk lift dan naik ke lantai tiga. Begitu lift terbuka. Zafran menyusuri koridor kantor menuju ruangannya.

"Kenapa aku yang harus mengerjakan ini semua. Aku ini sekretaris," terdengar suara Alena sedikit melengking.

Ruhi baru saja mengantarkan setumpuk berkas laporan manual kepada Alena. Dia meminta Alena menghitung ulang laporan itu.

"Itu memang pekerjaan sekretaris," suara Ruhi tak kalah tingginya.

"Ada apa?" Tanya Zafran pura-pura tidak tahu. Pada hal dia yang telah merencanakan itu dan meminta Ruhi mengerjai Alena.

"Bang! Dia memerintahkan Alena mengerjakan semua laporan itu." Alena bangkit dari duduknya, dengan wajah memelas dia bergelayut manja di lengan Zafran.

"Maaf Tuan. Pekerjaan ini sesuai dengan kontrak perjanjian kerja yang ditanda tangani nona Alena semalam, kalau semua laporan tanggung jawab sekretaris." Ruhi menyodorkan pasal sepuluh ayat satu dari kontrak perjanjian yang di setujui dan terbubuh tanda tangan Alena.

Sejenak Zafran menatap lembaran kertas itu, mulutnya komat kamit, seperti orang sedang membaca pasal yang ditunjuk Ruhi, dia pun manggut-manggut tanda setuju dengan apa yang dikatakan Ruhi.

"Benar ini ranah tanggung jawab kamu Alena, tidak bisa diwakilkan ke siapa pun." Zafran menepis tangan Alena hingga terlepas.

"Tapi. Bang!...

"Tidak ada tapi-tapi. Satu bulan masa percobaan kamu harus mengerjakan sesuai prosedur kontrak perjajian kerja. Jika tidak, kamu wajib membayar denda satu milyar." Jelas Ruhi lagi seraya melirik kearan Zafran.

"Hah! Apa-apaan ini." Alena menarik dokumen kontrak perjanjian kerja yang masih dipegang Zafran.

"Buka saja halaman terakhir," ujar Ruhi memberitahu, agar Alena tidak harus membaca satu persatu.

"Abang! Ini tidak benar. Masa iya ada perjanjian kerja seperti ini." Alena semakin kesal. Apa lagi melihat Zafran tidak mengambil tindakan apa pun.

"Apa Zafran lupa, kalau aku ini calon istrinya," batin Alena menatap intens ke arah Zafran.

"Itu urusan kamu dengan Ruhi. Bukan saya." Zafran menatap Ruhi seraya mengedipkan mata dan kali ini dia memberi senyuman pertama pada asistennya itu, kemudian dia berpaling ingin beranjak.

Tentu saja Ruhi terkejut mendapati kalau Zafran ternyata bisa tersenyum, selama ini dia mengira urat senyum Zafran sudah putus.

"Bang! Tunggu! Aku mau kontrak perjanjian kerja ini diperbaharui." Alena mencekal lengan Zafran, hingga langkah Zafran terhenti.

"Aku tidak mau tahu. Apa pun yang sudah menjadi kontra perjanjian kerja dan sudah di tanda tangani. Itu artinya sudah menjadi tanggung jawabmu sekarang. Kalau kamu keberatan tinggal bayar denda ke Ruhi." Tegas Zafran.

"Kenapa Ruhi yang berkuasa di sini. Bukannya Abang CEOnya." Alena mulai kesal dengan keputusam Zafran yang tidak masuk akal menurutnya.

"Benar aku CEOnya dan Ruhi pengambil kebijakannya." Zafran mencengkram dagu Alena, lalu menarik wajah Alena sangat dekat dengan wajahnya, hingga nafas Zafran menyentuh pipi Alena. Alena memejamkan mata, saat dia menduga Zafran akan memberikan ciiuman untuknya.

"Apa kamu paham sekarang," ujar Zafran melepaskan cengkramannya, lalu pergi. Alena terkejut, dugaanya salah.

"Pasti Zafran masih jual mahal," pikir Alena.

Ruhi terkekeh melihat tingkah laku Alena, tadi dia juga mengira kalau Zafran akan mendaratkan bibirnya ke bibir Alena, ternyata tidak

"Alena! Alena ! Dasar diri dikitlah."

"Apa maksudmu?" Alena bertanya pura-pura tidak tahu ke mana arah pembicaraan Ruhi. Kalau bukan karena ingin menarik simpati Zafran pasti sudah disobek-sobeknya lembaran kontrak ini.

"Sudah! Jangan banyak bicara. Sekarang bekerja saja sesuai kontrak perjanjian kerja yang sudah Nona setuju," bentak Ruhi dibuat lebih galak dari Alena. Ruhi pun meninggalkan Alena dalam keadaan kesal dan wajah ditekuk.

"Agrhh." Alena menghempaskan bokongnya ke kursi. Dia harus melakukan sesuatu agar asisten itu dipecat dengan tidak hormat oleh Zafran.

Sementara Zafran yang sudah masuk keruangannya, mencari sosok Kayesa. Namun, tak ditemukannya. Pada hal jam sudah menujukkan pukul sepuluh.

"Ke mana Kayesa? Kenapa belum datang? Cutinya kan cuman dua hari," batin Zafran.

Sambil merogoh saku celananya, Zafran duduk di sofa, mengambil ponsel dan mengecek pesan whatsapp yang masuk, tidak ada whatsapp dari Kayesa. Zafran meletakkan ponsel itu di meja sofa, merogoh saku kemejanya, mengambil ponsel rahasianya, menggeser layar ponsel dan mulai membaca pesan masuk.

(Tuan! Maafkan saya. Hari ini tidak bisa masuk kantor, Kiano diare, sekarang dirawat di rumah sakit) pesaan masuk dari Kayesa satu jam yang lalu.

Setelah membaca pesan whatsapp itu, Zafran langsung meraih kunci mobil, keluar dari ruang kerja, menuju ruang kerja Rayzad, memintanya menghendel semua pekerjaan hari ini. Setelah keluar dari ruamgan Ray, dia berjalan menuju lift, turun ke lantai dasar, langsung ke parkir.

Lamborghini milik Zafran kembali meluncur di jalan raya. Zafran memacu lamborghininya dengan kecepatan tinggi, jarak tempuh yang biasa dilewati tiga puluh menit, menjadi lima belas menit.

Zafran memasuki rumah sakit dan memarkir mobilnya. Seorang scurity mendakat dan menyapanya ramah, lalu mendampingi pemilik tiga puluh persen saham rumah sakit itu menuju ruang rawat Kiano.

"Ayah!" Seru Kiano saat melihat Zafran masuk.

"Kiano sayang." Zafran merentangkan kedua tangan dan membawa tubuh mungil itu dalam pelukan.

Tentu saja dokter, perawat dan scurity terkejut mendengar Kiano memanggil Zafran ayah dan Zafran begitu hangat memeluk Kiano.

"Maaf Tuan. Maafkan Kiano anak saya. Dia terlalu rindu dengan sosok ayahnya." Mata Kayesa berkaca-kaca. Dia merasa tidak enak hati dengan kelakuan putranya.

"Hay! Kenapa kamu bicara begitu, dari kemaren saya tidak keberatan kalau Kiano memanggilku ayah," ujar Zafran menyela ucapan Kayesa.

"Aku sudah menganggap Kiano seperti anak ku," ujar Zafran seraya mengurai pelukannya.

"Maaf Tuan! Kiano mau diperiksa sama dokter Mike dulu," ujar dokter anak yang berparas cantik.

"Kiano tidak mau dicuntik (disuntik), Sakit! Hiks.. Hiks... Hiks." Kiano bersembunyi di belakang Zafran, dia menangis, Sepertinya Kiano trauma kena jarum suntik saat memasang infus tadi. Zafran meraih tubuh Kiano dan memeluknya.

"Kiano tidak disuntik lagi kok, cuman mau diperiksa sama dokter sakitnya di mana," dokter mike memberi penjelasan.

Mendengar penjelasan dokter Mike, Kiano menatap Zafran. Zafran menyeka air mata Kiano, lalu mengangguk.

"Tidak usah takut ada ayah," ujar Zafran memberi perlindungan. Kiano pun tidak takut lagi.

Zafran menggeser tubuhnya, memberi ruang pada Mike dan dua orang perawat untuk memeriksa keadaan Kiano. Kemudian dokter mike menyuntikkan obat di dalam botol infus.

"Bagaimana keadaann Kiano. Dok?" Tanya Zafran, dia terlihat khawatir.

"Setelah beristirahat beberapa saat dan cairan infus masuk ketubuh Kiano, dan cairan ditubuhnya sudah terganti, Kiano akan pulih," ujar dokter Mike, kemudian pamit memeriksa pasien lain, diiringi dengan dua perawat.

"Ayah! Ayah di sini saja dengan Kiano. Bial (biar) bunda saja yang pergi kelja (kerja)." Kiano mengenggam erat jemari Zafran.

"Kiano sayang. Biarkan ayah kembali ke kantor. Kiano di sini sama bunda ya."

"Kiano mau sama ayah bunda."

"Tapi..."

Sett... Zafran meletakkan telunjukkan di bibir, melarang Kayesa untuk melanjutkan ucapannya. Zafran lalu duduk di tepi ranjang Kiano, tangan kanannya mengusap lembut kepala Kiano yang sudah berbaring kembali. Mata Kiano terlihat redup dan mengantuk, mungkin efek obat mulai bekerja dan dia pun tertidur.

"Tuan! Maafkan anak saya," ujar Kayesa begitu Kiano sudah pulas.

"Tidak perlu minta maaf. Aku menyukai anakmu, dia sangat lucu dan menggemaskan." Kali ini zafran mengecup kening Kiano. Dia semakin yakin kalau Kiano itu putranya.

"Terima kasih. Tuan tidak keberatan menjadi sosok ayah buat Kiano."

"Aku yang harus berterima kasih padamu, Karena memberiku ruang untuk mengenal Kiano," ucap Zafran lalu beranjak mendekati Kayesa.

"Apa yang kamu berikan pada Kiano, hingga dia diare?" Zafran memberikan pertanyaan yang tak terduga pada Kayesa, seakan dia menyalahkan Kayesa yang tidak bisa menjadi ibu yang baik.

"Rasanya tidak ada yang aneh," jawab Kayesa.

"Jadi orang tua harus peka pada anaknya. Apa-apa saja yang tidak boleh diberikan pada anak seusia Kiano. Jangan apa-apa dikasih," gerutu Zafran, membuat Kayesa kesal.

"Bisa-bisanya ngomelin aku. Emamg kamu punya hak apa pada pada anakku. Keluar sana," ujar Kayesa lalu mendorong tubuh Zafran agar keluar dari ruang rawat Kiano.

"Jangan marah padaku. Aku hanya khawatir saja pada Kiano. Apa lagi Kiano hanya punya bunda. Aku kasian padanu merawat Kiano sendirian," ujar Zafran.

Kata-kata Zafran membuat Kayesa terbawa perasaan, dia pun meminta maaf, karena tadi sempat marah dan ketus pada Zafran.

"Aku tahu, kamu melakukan itu, karena kamu teramat sayang pada Kiano."

"Iya! Dia satu-satunya alasan. Aku masih hidup sampai sekarang," ujar Kayesa dengan mata berkaca-kaca.

Episodes
1 Kayesa
2 Hamil
3 Kembali
4 Kecelakaan
5 Zafran
6 Di Rumah Sakit
7 Hari Pertama
8 Diam-Diam
9 Mawar Merah
10 Dipecat
11 Kembali ke Kantor
12 Terkurung
13 Kesal
14 Ikatan Batin
15 Alena
16 Perjanjian Kerja
17 Dirawat
18 Hasil DNA
19 Keluar Rumah Sakit
20 Ke Rumah Kontrak
21 Drama Alena
22 Kembali Bekerja
23 Kekesal Alena
24 Dunia Sempit
25 Makan Siang
26 Wahana Bermain
27 Terjebak Macet
28 Di Apartement
29 Tak Bisa Pulang
30 Tertidur di Sofa
31 Rumah Oma Fatma
32 Kejutan Untuk Alena
33 Terbakar Cemburu
34 Praduga
35 Berseteru
36 Kekesalan Kayesa
37 Bertemu Rizwan
38 Kabar Sedih
39 Pergi Tanpa Pamit
40 Pertemuan Tak Terduga
41 Perasaan yang Sama
42 Kayesa Demam
43 Bersama Kiano
44 Shaga VS Zafran
45 Kegalauan Zafran
46 Alena berulah.
47 Sampai di Perkampungan
48 Rencana Tono
49 Kedatangan Asaka
50 Pernikahan Zafran
51 Rahasia Zafran
52 Alena vs Oma
53 Siasat Oma
54 Di Hotel
55 Bertemu Malika
56 Di Bandara
57 Satu Pesawat
58 Tatia
59 Mengerjai Alena
60 Bertemu Zafran
61 Obat Pencahar
62 Bermain perasaan
63 Pindah Kamar
64 Kecurigaan Alena
65 Dihimpit perasaan
66 Di Pantai
67 Plin plan
68 Pura-pura sakit
69 Kebohongan
70 Kehilangan Ponsel
71 Siasat Zafran
72 Salah Kamar
73 Tikus Nakal
74 Alena Terusir
75 Akting Alena
76 Bertemu Alena
77 Terkurung
78 Merasa Dikhianati
79 Kehilangan lagi
80 Pertemuan
81 Amnesia
82 Mengusir Alena
83 Kayesa luluh
84 Kenekatan Zafran
85 Ikut Kayesa
86 Bertemu Kiano
87 Toko Perhiasan
88 Serangan Jantung
89 Salah Paham
90 Kekecewaan Shaga
91 Kayesa Bimbang
92 Lamaran Mayumi
93 Menikahlah denganku
94 Cinta pertama
95 Fitting Baju
96 Rencana Shaga
97 Asaka diusir
98 Hampir Luluh
99 Usaha Alena
100 Ditangkap Polisi
101 Berubahkah Asaka
102 Rizwan Salah Paham
103 Kehilangan Zafran
104 Sendikat Asaka
105 Meragu
106 Tertangkap
107 Gagal
108 Menikah
Episodes

Updated 108 Episodes

1
Kayesa
2
Hamil
3
Kembali
4
Kecelakaan
5
Zafran
6
Di Rumah Sakit
7
Hari Pertama
8
Diam-Diam
9
Mawar Merah
10
Dipecat
11
Kembali ke Kantor
12
Terkurung
13
Kesal
14
Ikatan Batin
15
Alena
16
Perjanjian Kerja
17
Dirawat
18
Hasil DNA
19
Keluar Rumah Sakit
20
Ke Rumah Kontrak
21
Drama Alena
22
Kembali Bekerja
23
Kekesal Alena
24
Dunia Sempit
25
Makan Siang
26
Wahana Bermain
27
Terjebak Macet
28
Di Apartement
29
Tak Bisa Pulang
30
Tertidur di Sofa
31
Rumah Oma Fatma
32
Kejutan Untuk Alena
33
Terbakar Cemburu
34
Praduga
35
Berseteru
36
Kekesalan Kayesa
37
Bertemu Rizwan
38
Kabar Sedih
39
Pergi Tanpa Pamit
40
Pertemuan Tak Terduga
41
Perasaan yang Sama
42
Kayesa Demam
43
Bersama Kiano
44
Shaga VS Zafran
45
Kegalauan Zafran
46
Alena berulah.
47
Sampai di Perkampungan
48
Rencana Tono
49
Kedatangan Asaka
50
Pernikahan Zafran
51
Rahasia Zafran
52
Alena vs Oma
53
Siasat Oma
54
Di Hotel
55
Bertemu Malika
56
Di Bandara
57
Satu Pesawat
58
Tatia
59
Mengerjai Alena
60
Bertemu Zafran
61
Obat Pencahar
62
Bermain perasaan
63
Pindah Kamar
64
Kecurigaan Alena
65
Dihimpit perasaan
66
Di Pantai
67
Plin plan
68
Pura-pura sakit
69
Kebohongan
70
Kehilangan Ponsel
71
Siasat Zafran
72
Salah Kamar
73
Tikus Nakal
74
Alena Terusir
75
Akting Alena
76
Bertemu Alena
77
Terkurung
78
Merasa Dikhianati
79
Kehilangan lagi
80
Pertemuan
81
Amnesia
82
Mengusir Alena
83
Kayesa luluh
84
Kenekatan Zafran
85
Ikut Kayesa
86
Bertemu Kiano
87
Toko Perhiasan
88
Serangan Jantung
89
Salah Paham
90
Kekecewaan Shaga
91
Kayesa Bimbang
92
Lamaran Mayumi
93
Menikahlah denganku
94
Cinta pertama
95
Fitting Baju
96
Rencana Shaga
97
Asaka diusir
98
Hampir Luluh
99
Usaha Alena
100
Ditangkap Polisi
101
Berubahkah Asaka
102
Rizwan Salah Paham
103
Kehilangan Zafran
104
Sendikat Asaka
105
Meragu
106
Tertangkap
107
Gagal
108
Menikah

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!