Kecelakaan

Part 4

Seorang wanita cantik ke luar dengan anak perempuan kecil berusia tiga tahunan. Kayesa membungkukkan badan penuh hormat dan menyalami wanita itu.

"Pasti ini istri bang Rizwan," batin Kayesa. Dia menatap gadis kecil digendongan ibunya.

"Esa." Kayesa sengaja memperkenalkan diri dengan menyebut ujung namanya.

"Ratih," ujar wanita itu mempersilakan Kayesa duduk.

"Aduh cantiknya." Kayesa tak bisa menahan diri untuk tidak mencuil anak perempuan kecil yang menggemaskan itu.

"Sini. Boleh ku gendong." Kayesa menawarkan diri seraya menyodorkan kedua tangannya.

"Siapa namanya. Cantik?"

"Aiba tante," jawan Ratih, seraya menyerahkan Aiba kepangkuan Kayesa.

"Gemesnya," ujar Kayesa mencium kedua pipi gadis kecil itu. Kayesa merasa yakin kalau Aiba adalah keponakannya, wajah Aiba juga mirip dengan Rizwan. Baru pertama bertemu, dia seperti memiliki ikatan.

"Kamu cantik sekali," ujar Kayesa seraya mencubit lembut pipi bakpao Aiba.

"Tante uga tantik (juga cantik)" Aiba mengikuti gerakan tangan Kayesa, memcubit pipi Kayesa dengan gemas. Melihat tingkah Aiba, Ratih dan Kayesa tertawa.

Setelah berbincang dan menanyakan tentang prihal rumah sewaan. Ratih kemudian masuk ke dalam, kembali keluar dengan membawa beberapa kunci dan menyerahkannya kepada driver motor yang ternyata bernama Iyan. Ratih meminta Iyan untuk mengantar Kayesa ke rumah petak miliknya.

"Aiba sini sama mama. Tente sama om mau lihat rumah." Ratih mengambil lagi putrinya.

Setelah bersalaman dan mengucapkan terima kasih. Kayesa dan Iyan kembali menaik motor, dan meluncur ke gang sebelah. Jalannya lebih kecil dan hanya bisa dilewati motor dan pejalan kaki. Dua ratus meter dari luar terlihat sepuluh deret di sebelah kiri dan sepuluh deret di sebelah kanan rumah petak.

"Penghuni baru. Yan?" Tanya seorang ibu-ibu setengah baya, yang membuka pintu rumahnya, saat motor Iyan berhenti. Ibu-ibu itu tersenyum ramah ke arah Kayesa.

"Eh... ibu Rifka. Iya bu Rifka. Jika dek Esa berkenan," jawab Iyan seraya membuka pintu rumah dan menyilakan Kayesa masuk untuk melihat-lihat dulu.

Saat Kayesa masuk, Rifka juga ikut masuk, dia meyakinkan pada Kayesa kalau tinggal diperumahan petak milik pak Rizwan dan ibu Ratih dijamin aman, karena pemiliknya sangat toleran. Tidak pernah memaksa atau mengusir penyewa yang terlambat membayar sewa.

"Pasti pak Rizwan dan istrinya sangat baik ya bu?"

"Iya. Beliau sangat baik."

"Apa pak Rizwan setiap bulan ke sini untuk menagih sewa. Bu?" tanya Kayesa.

"Yang tukang tagih sewa. Dek Iyan ini." Rifka menepuk bahu Iyan.

"Oh... Jadi pak Rizwan dan nyonya Ratih tidak pernah ke sini?" Tanya Ratih lagi, dia ingin tahu banyak tentang abang yang ditinggalkannya lima tahun yang lalu.

"Pak Rizwan sibuk. Sering tugas luar kota, kadang dia pulang cuman tiga bulan sekali." Pertanyaan Kayesa dijawab Iyan.

"Oh.." hanya itu yang keluar dari mulut Kayesa mendengar jawaban Iyan, berarti abangnya itu masih seperti dulu, jarang di rumah, karena selalu dapat job di luar kota. Kayesa merasa lega, karena dia belum siap bertemu dengan abangnya.

Setelah berkeliling dan berbincang bersama calon tetangga barunya. Kayesa memantapkan diri untuk pindah ke rumah petak ini.

"Untuk pembayaran sewa awal. Langsung dengan bang Iyan atau ke ibu Ratih?"

"Ke Iyan saja," Rifka yang menjawab.

"Kapan Dek Esa mau pindah ke sini?"

"Dua hari lagi. Bu."

"Eh... Jangan panggil ibu. Aku jadi merasa tua, panggil kak Rif atau kak Eka juga boleh," ujar Rifka terkekeh.

"Baiklah kalau begitu." Kayesa dan Iyan berpamitan pada Rifka.

"Kalau dek Esa butuh kendaraan untuk pindahan nanti hubungi abang saja," ujar Iyan saat sudah sampai di home stay tempat Kayesa menginap.

Sebelum Iyan pulang, Kayesa membayar sewa rumah untuk dua bulan sebesar satu juta empat ratus. Iyan menerima uangnya dan menyerahkan kwitansi bukti pembayaran.

"Ongkos ojekku hari ini berapa. Bang?"

"Ojek hari ini gratis saja. Karena abang juga bakalan dapat komisi dari kak Ratih," ujar Iyan.

"Baiklah kalau begitu. Terima kasih banyak. Semoga rezeki abang lancar," ujar Kayesa. Iyan pun pamit pulang setelah memberikan nomor kontaknya ke Kayesa.

Sepeninggalan Iyan. Kayesa berjalan masuk kamar, dia tidak menemukan Maeka dan putranya. Setelah menyangkutkan tas di balik pintu, Kayesa ke luar berkeliling mencari Maeka dan Kiano. Kedua sosok yang dicarinya tidak terlihat.

Baru saja Kayesa membalikkan tubuhnya, ingin kembali ke kamar mengambil ponselnya, terdengar suara Maeka dan Kiano sedang tertawa.

"Dari mana kalian?" Kayesa melihat Kiano hanya memakai ****** ***** dan singlet yang basah.

"Dari kolam lenang (renang) bun." Kiano menjawab pertanyaan Kayesa dengan wajah sangat ceria.

Sementara Maeka pengasuhnya hanya menunduk, takut kalau Kayesa memarahinya, karena telah membiarkan Kiano bermain air.

"Maaf nya! Tadi Kia.."

"Apa Kiano suka mandi di kolam renang?" Kayesa mengangkat tubuh Kiano dan menggendong putranya.

Maeka tahu kalau Kayesa marah padanya. Makanya Kayesa menyela ucapannya. Tadi Maeka sudah melarang Kiano masuk ke kolam renang. Kiano malah menangis dan merajuk, terpaksa Maeka menuruti dan mengalah.

"Bunda! Jangan malah (marah) sama kak Mae." Kiano membingkai wajah Kayesa dengan dua tapak tangannya yang mungil.

Kelakuan Kiano, selalu bisa meredam emosi Kayesa, semarah apapun dia. Jika Kiano yang memintanya pasti Kayesa melunak.

"Sekarang ikut kak Mae. Bersihkan tubuhmu, ganti bajunya." Kayesa menurutkan Kiano dari gendongan.

Kiano berlari ke arah Maeka, menarik tangannya dan mengajak Maeka menjauh dari ibunya.

Sepeninggalan Maeka dan Kiano, Kayesa duduk di bangku taman di bawah sebatang pohon mangga.

"Kalau Bang Rizwan sudah menikah. Ibu tinggal di mana?" Batin Kayesa, dia termenung mengingat nostalgia lima tahun yang lalu, di mana Farhana mengusirnya dari rumah.

"Apa kabar ibu sekarang," batin Kayesa lagi.

"Bunda! Lihat Kia sudah ganteng." Lengkingan suara Kiano membuyarkan lamunan Kayesa.

Anak laki-laki itu sudah berdiri dihadapannya dengan mimik yang sangat lucu. Kayesa berjongkok mensejajari putranya, lalu mencubit hidungnya.

"Duduk di sini." Kayesa mengangkat tubuh Kiano dan meletakkan di atas kursi.

"Jangan ke mana-mana. Bunda mau mandi dulu," ujar Kayesa menyentuh kepala putranya, lalu mencium puncak kepalanya, kemudian Kayesa masuk ke kamar, menyambar handuk dan ke kamar mandi.

Usai mandi dan berpakaian Kayesa keluar kamar. Dilihatnya Kiano yang masih duduk anteng di kursi ditemani sama Maeka belajar berhitung dengan menggunakan sempoa.

"Jalan-jalan yuk!" Kayesa mengajak Maeka dan Kiano.

"Ke mana. Bun?" Kiano berlonjak girang.

"Cari jus di ujung jalan sana." Jawab Kayesa.

"Kakak nggak ikut. Kia sama bunda saja ya," ujar Maeka saat Kiano menarik tangannya. Kiano hanya mengangguk.

"Kakak mau dibeliin apa?" Kiano kecil bertanya.

"Jus jeruk," ujar Maeka seraya melambaikan tangannya.

Sambil bergandengan tangan Kayesa dan Kiano berjalan beriringan. Kiano yang biasa tinggal jauh dari keramaian, sangat senang melihat kendaraan yang lalu lalang, sesekali dia berceloteh.

"Bunda! Itu mobilnya besal cekali (besar sekali)," ujar Kiano menunjuk sebuah bus parawisata.

"Kiano mau nggak punya mobil seperti itu."

Mendengar pertanyaan bundanya, Kiano berhenti melangkah, dia memperhatikan mobil avanza warna hitam yang baru saja melintas. Kiano memandang Kayesa.

"Kia mau beli mobil seperti itu. Bun," ujarnya menunjuk avanza yang sudah meluncur jauh.

"Baiklah. Ayok jalan lagi," ajak Kayesa.

Tiba-tiba ponsel Kayesa di dalam sakunya bergetar. Kayesa melepaskan tangan Kiano dari genggaman tangannya, dia mengambil ponsel di saku bajunya. Tanpa disadari Kayesa, Kiano berlari ke tengah jalan, saat melihat seekor kucing menyeberang.

Brak... sebuah hantaman keras, membuat Kiano terpental dan sebuah sepeda motor terjatuh.

"Kiano!" tariak Kayesa. Ponselnya terlepas, dia berlari mengejar Kiano yang berlumuran darah, karena terhempas di trotoar jalan.

Terpopuler

Comments

Praised93

Praised93

hem jadi terhura

2023-10-30

0

eve martapura

eve martapura

baru mamapir udah terharu mmbacanya😢😢😢

2023-09-20

0

lihat semua
Episodes
1 Kayesa
2 Hamil
3 Kembali
4 Kecelakaan
5 Zafran
6 Di Rumah Sakit
7 Hari Pertama
8 Diam-Diam
9 Mawar Merah
10 Dipecat
11 Kembali ke Kantor
12 Terkurung
13 Kesal
14 Ikatan Batin
15 Alena
16 Perjanjian Kerja
17 Dirawat
18 Hasil DNA
19 Keluar Rumah Sakit
20 Ke Rumah Kontrak
21 Drama Alena
22 Kembali Bekerja
23 Kekesal Alena
24 Dunia Sempit
25 Makan Siang
26 Wahana Bermain
27 Terjebak Macet
28 Di Apartement
29 Tak Bisa Pulang
30 Tertidur di Sofa
31 Rumah Oma Fatma
32 Kejutan Untuk Alena
33 Terbakar Cemburu
34 Praduga
35 Berseteru
36 Kekesalan Kayesa
37 Bertemu Rizwan
38 Kabar Sedih
39 Pergi Tanpa Pamit
40 Pertemuan Tak Terduga
41 Perasaan yang Sama
42 Kayesa Demam
43 Bersama Kiano
44 Shaga VS Zafran
45 Kegalauan Zafran
46 Alena berulah.
47 Sampai di Perkampungan
48 Rencana Tono
49 Kedatangan Asaka
50 Pernikahan Zafran
51 Rahasia Zafran
52 Alena vs Oma
53 Siasat Oma
54 Di Hotel
55 Bertemu Malika
56 Di Bandara
57 Satu Pesawat
58 Tatia
59 Mengerjai Alena
60 Bertemu Zafran
61 Obat Pencahar
62 Bermain perasaan
63 Pindah Kamar
64 Kecurigaan Alena
65 Dihimpit perasaan
66 Di Pantai
67 Plin plan
68 Pura-pura sakit
69 Kebohongan
70 Kehilangan Ponsel
71 Siasat Zafran
72 Salah Kamar
73 Tikus Nakal
74 Alena Terusir
75 Akting Alena
76 Bertemu Alena
77 Terkurung
78 Merasa Dikhianati
79 Kehilangan lagi
80 Pertemuan
81 Amnesia
82 Mengusir Alena
83 Kayesa luluh
84 Kenekatan Zafran
85 Ikut Kayesa
86 Bertemu Kiano
87 Toko Perhiasan
88 Serangan Jantung
89 Salah Paham
90 Kekecewaan Shaga
91 Kayesa Bimbang
92 Lamaran Mayumi
93 Menikahlah denganku
94 Cinta pertama
95 Fitting Baju
96 Rencana Shaga
97 Asaka diusir
98 Hampir Luluh
99 Usaha Alena
100 Ditangkap Polisi
101 Berubahkah Asaka
102 Rizwan Salah Paham
103 Kehilangan Zafran
104 Sendikat Asaka
105 Meragu
106 Tertangkap
107 Gagal
108 Menikah
Episodes

Updated 108 Episodes

1
Kayesa
2
Hamil
3
Kembali
4
Kecelakaan
5
Zafran
6
Di Rumah Sakit
7
Hari Pertama
8
Diam-Diam
9
Mawar Merah
10
Dipecat
11
Kembali ke Kantor
12
Terkurung
13
Kesal
14
Ikatan Batin
15
Alena
16
Perjanjian Kerja
17
Dirawat
18
Hasil DNA
19
Keluar Rumah Sakit
20
Ke Rumah Kontrak
21
Drama Alena
22
Kembali Bekerja
23
Kekesal Alena
24
Dunia Sempit
25
Makan Siang
26
Wahana Bermain
27
Terjebak Macet
28
Di Apartement
29
Tak Bisa Pulang
30
Tertidur di Sofa
31
Rumah Oma Fatma
32
Kejutan Untuk Alena
33
Terbakar Cemburu
34
Praduga
35
Berseteru
36
Kekesalan Kayesa
37
Bertemu Rizwan
38
Kabar Sedih
39
Pergi Tanpa Pamit
40
Pertemuan Tak Terduga
41
Perasaan yang Sama
42
Kayesa Demam
43
Bersama Kiano
44
Shaga VS Zafran
45
Kegalauan Zafran
46
Alena berulah.
47
Sampai di Perkampungan
48
Rencana Tono
49
Kedatangan Asaka
50
Pernikahan Zafran
51
Rahasia Zafran
52
Alena vs Oma
53
Siasat Oma
54
Di Hotel
55
Bertemu Malika
56
Di Bandara
57
Satu Pesawat
58
Tatia
59
Mengerjai Alena
60
Bertemu Zafran
61
Obat Pencahar
62
Bermain perasaan
63
Pindah Kamar
64
Kecurigaan Alena
65
Dihimpit perasaan
66
Di Pantai
67
Plin plan
68
Pura-pura sakit
69
Kebohongan
70
Kehilangan Ponsel
71
Siasat Zafran
72
Salah Kamar
73
Tikus Nakal
74
Alena Terusir
75
Akting Alena
76
Bertemu Alena
77
Terkurung
78
Merasa Dikhianati
79
Kehilangan lagi
80
Pertemuan
81
Amnesia
82
Mengusir Alena
83
Kayesa luluh
84
Kenekatan Zafran
85
Ikut Kayesa
86
Bertemu Kiano
87
Toko Perhiasan
88
Serangan Jantung
89
Salah Paham
90
Kekecewaan Shaga
91
Kayesa Bimbang
92
Lamaran Mayumi
93
Menikahlah denganku
94
Cinta pertama
95
Fitting Baju
96
Rencana Shaga
97
Asaka diusir
98
Hampir Luluh
99
Usaha Alena
100
Ditangkap Polisi
101
Berubahkah Asaka
102
Rizwan Salah Paham
103
Kehilangan Zafran
104
Sendikat Asaka
105
Meragu
106
Tertangkap
107
Gagal
108
Menikah

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!