Ibu sangat senang menyambut kepulangan anak bungsunya, menyiapkan makanan kesukaan anak menggunakan uangnya karena dia sudah sangat kesal pada Tari yang enggan memberikannya uang, padahal dia tidak rela uangnya berkurang walaupun di habiskan oleh anaknya, dia hanya ingin uang hasil menjual rumah suaminya yang sudah mendiang di nikmati sendiri.
Tari berjalan melewati meja makan yang sudah tersedia makanan mewah seperti daging dengan berbagai olahan, bukannya tidak senang mengenai adik iparnya yang datang, tapi dia khawatir kalau Lisa juga akan memperburuk keadaan rumah tangganya dan ikut campur.
"Kenapa? Kamu pasti irikan, gak bisa beli semua makanan itu."
Aku terperanjat saat mendengarkan suara yang berasal dari belakangku, ku putar kembali tubuhku dan menatap ibu dengan seksama. Aku tersenyum menandakan tidak ada rasa iri, akhirnya ibu mengeluarkan uangnya tanpa harus ku bongkar tabunganku.
Aku menganggukkan kepala dengan santai dan melangkah pergi, mengetahui kalau ibu mertuaku senang dengan itu dan menganggapku kalah akibat tidak mampu membeli daging. Bahkan keinginan ibu yang hendak menukar tempat tidur juga tidak aku kabulkan, sangat bodoh bila memberikan kenyamanan pada orang lain dan menyiksa anakku, itu sebabnya aku tidak mau kalah memberikan kenyamanan untuk kedua anakku dan calon anak ketiga yang beberapa bulan akan segera hadir.
Sebelum aku pergi, aku melihat kedua anakku yang sudah tertidur di ayunan mereka. Dengan langkah terburu-buru, aku berjalan kaki menuju warung untuk membeli bahan makanan yang nantinya akan di masak, karena sebelumnya ibu sudah berpesan kalau aku tidak boleh ikutan makan makanan yang di beli dan itu dikhususkan untuk menjamu anaknya, Lisa.
Aku berbelanja bahan masakan dengan terburu-buru untuk mengejar waktu, segera ku bayar apa saja yang sudah aku ambil dan melangkah pulang.
Aku masuk ke dalam rumah setelah mengucapkan salam, melihat kedatangan Lisa yang penampilan glamornya, sengaja berpenampilan seperti itu untuk meyakinkan orang-orang kalau dia berhasil bekerja di kota. Tapi aku melihat semua itu sangatlah berlebihan, tidak berkomentar apapun karena sejujurnya penampilan Lisa cukup membuat mataku sakit.
"Eh, Kakak ipar. Duduk dulu Kak!"
Aku mendudukkan diri di sofa, tapi ibu memberiku kode untuk segera pergi ke dapur membuatkan teh untuk Lisa.
"Aku ada hadiah untuk Kakak ipar, dan juga untuk kedua keponakanku."
Aku mengambil dua paper bag yang di berikan Lisa, namun belum sempat aku meraihnya malah lebih dulu di rebut ibu. Dia tidak suka kalau anaknya memberiku hadiah oleh-oleh dan ingin menguasai sendiri.
"Duh, kamu apaan sih. Buat teh sana!" usir ibu yang kesal.
Aku menahan amarah dan tersenyum mengangguk padanya, segera aku berjalan menuju dapur membuatkan teh juga cemilan seadanya..
"Wah, penampilan kamu sangat keren."
"Iya dong Bu, walaupun aku tidak bekerja dan di pecat, orang-orang tidak tahu dan menganggapku sukses. Biar mereka iri!"
"Hem. Oh ya, kamu gak perlu kasih Tari oleh-oleh, mending buat ibu aja ya." Wanita paruh baya itu membuka paper bag yang seharusnya menjadi milik sang menantu, tapi dia sangat menyukai pakaian itu dan menyimpannya.
"Terus kakak ipar?"
"Ya gak perlu di kasih, buat apa?"
Keduanya tertawa puas penuh kemenangan, aku yang tidak sengaja mendengar pura-pura tuli dan buta. Aku juga tidak mengharapkan apapun, tapi kedatangan Lisa bisa menimbulkan ancaman dari pernikahan ku dan mas Angga.
"Aku tahu, kalau sebenarnya niat ibu dan adik iparku ingin menguasai rumahku." Batinku yang tersenyum tipis.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 115 Episodes
Comments
nana
kalo punya uang hasil jual rumah knp g beli rumah aja lg
2023-06-03
2