Kedatangan ibu mertua

Aku sangat terkejut mendengarnya, tanpa memberitahukan dulu padaku mas Angga membiarkan ibunya tinggal bersama mereka. Aku khawatir karenanya, pasalnya sang ibu mertua ini terkenal suka ikut campur dalam urusan pribadi anaknya. Aku tidak mengarang cerita apapun, memang inilah faktanya. 

Aku mengusap wajah dengan kasar, tak banyak yang bisa aku lakukan selain menerima kedatangan ibu mertua yang tiba-tiba datang mendadak. Aku teringat bagaimana dia memperlakukanku saat di acara tujuh bulanan mbak Ratih, perkataan pedasnya masih tertanam di benakku sampai saat ini.

Aku menatap sedih pada uang berwarna biru, mana cukup membeli keinginan ibu yang mau memakan rendang daging. Belum lagi membeli santan, cabai giling, bumbu dan gas yang kebetulan habis membuat kepalaku hampir meledak. 

"Mana cukup beli daging sapi," gumamku. Jika aku tidak melakukannya, maka mas Angga pasti marah padaku. Mau tidak mau aku terpaksa membuat makanan itu dengan cara hemat, yaitu membeli daging seperdelapan kilogram. 

"Kamu mengapa melamun di situ? Cepat pergi kepasar, ingat loh harus hemat." 

"Iya Mas." Aku menarik nafas dalam dan mengeluarkannya secara perlahan, beruntung aku tidak gila mempunyai suami seperti mas Angga. "Jagain tuh si Raja dan Ratu." 

"Iya-iya, bawel banget sih." Rungutnya. 

Aku tidak yakin meninggalkan anak-anak dengan mas Angga, apa jadinya nanti. Tapi, aku berharap semuanya baik-baik saja. Aku bergegas pergi mengejar waktu, membeli setengah genggam daging sapi untuk ku masak menjadi rendang. 

Aku menyerahkan uang lima puluh ribu pada penjual daging sapi, permintaan dari mas Angga membuatku pusing tujuh keliling. Setelah membeli bahan-bahannya, aku memutuskan untuk pulang dan berharap mas Angga tidak berkomentar apapun mengenai banyaknya daging yang aku beli. 

"Kenapa sangat lama sekali," gerutu mas Angga yang berdiri di depan pintu menunggu kedatanganku. 

"Mas kira jarak rumah ke pasar itu dekat? Mana uang pas-pasan dan terpaksa aku jalan kaki." Balasku tak kalah sengitnya, bisa-bisanya mas Angga seperti itu terhadapku. Aku langsung menyambut Ratu di tanganku, saat dia memberikannya. 

"Itu daging sapinya? Kenapa sedikit sekali?" 

Ingin rasanya aku menggosokkan kulit durian di wajah mas Angga. "Memangnya lima puluh ribu dapat apa? Rendang juga butuh bumbu, cabai, bawang, dan yang lainnya. Masih syukur uang segitu bisa aku belikan daging, jangan banyak protes kalau memberikan uang Mas selalu perhitungan." 

"Itu pintar-pintar kamu lah yang mengaturnya." 

"Mengatur dari Hongkong, coba deh Mas belanja sendiri ke pasar. Tanyain harga barang pokok dan sembako, semuanya." 

Lagi dan lagi mas Angga tak ingin tahu, walaupun aku melihat sekilas ekspresi wajahnya yang mempercayai ucapanku. Apa dia mengira kalau uang belanja selama ini cukup? Bahkan aku terpaksa mengambil uang di celengan yabg sudah lama aku simpan.

"Cepat masak kan, gak boleh banyak mengeluh pemberian dari suami." 

"Heh, terserah kamu lah Mas." Aku berjalan menuju dapur dan berkutat pada alat-alat dapur dan mengkreasikan masakan yang di inginkan suamiku.

Cukup lama aku akhirnya menyelesaikan masakan ku, rendang daging sapi. Sangat melelahkan memasaknya, ada beberapa iris rendang daging di dalam piring tatakan gelas berukuran kecil. 

"Semoga saja ibu tidak berkomentar, daging itu cukup untuknya seorang diri." Gumamku seraya memasukkannya ke dalam lemari makanan agar awet sampai besok. 

****

Aku melihat mas Angga menyambut kedatangan ibunya, aku hendak menghampiri tapi sedikit shock melihat satu koper besar yang di bawa oleh ibu mertua ku itu. "Eh, bukankah ibu hanya menginap beberapa hari saja? Lalu, mengapa dia membawa satu kpper besar?" batinku yang bertanya-tanya, aku merasakan firasat yang mengganjal kalau ibu mertuaku itu akan tinggal bersama kami. 

"Tari, mengapa kamu diam di sana? Salim sama ibu!" titah mas Angga membuatku buru-buru menyambut uluran tangan ibu mertuaku dan menciumnya. 

"Mana Raja dan Ratu?" 

"Mereka masih tidur Bu."

"Mengapa kamu biarkan mereka tidur jam sembilan pagi? Gak becus nih kamu jadi ibu." 

Aku merasakan sakit tak berdarah, mengapa ibu mertuaku sampai mengatakan itu. "Ibu mau kemana?" tanyaku yang mengejar langkah kakinya menuju kamar tidur. 

"Membangunkan kedua cucuku, harusnya mereka sudah bangun dan mandi, bukan nya tidur." 

Aku menyalip langkah ibu mertuaku dan menghalangi pintu masuk ke dalam kamar. "Mereka baru tertidur Bu, semalam mereka rewel." Ungkapku yang berhasil menghentikan tujuannya. 

"Pasti kamu gak becus jagain mereka, harusnya kalian memberi jarak pada Raja dan Ratu. Susahkan kalau berdemoetan begini!" 

"Bukannya aku tak mau seperti yang Ibu katakan, tapi mas Angga sendiri yang melarangku pakai KB." 

Sekilas ibu mertua mengalihkan perhatiannya pada mas Angga. "Benar begitu?" 

"Benar Bu, aku tidak mau kalau Tari sampai gendut karena efek samping menggunakan KB." 

"Dasar bodoh. Kamu juga Tari, harusnya kamu itu KB, kalau begini kan kasihan anak kalian gak terurus sempurna. Pikiranmu sangat sempit, istrimu bisa diet." 

Ibu memarahi kami berdua, aku hanya menghela nafas sambil mendengarkan ocehannya. 

"Memarahi kalian membuat Ibu lapar. Tari, siapkan Ibu makanan!"

"Baik Bu." 

Aku buru-buru menyiapkan makanan menyambut kedatangan ibu mertuaku, menyajikan makanan apa adanya. 

"Rendang satu piring kecil? Mana cukup untuk Ibu. Kamu gimana sih Angga, kamu kan tahu kalau Ibu paling doyan rendang daging sapi tentunya dengan porsi lebih banyak dari ini."

Tiba-tiba mas Angga melimpahkan kesalahannya padaku. "Mas Angga memberiku uang lima puluh ribu untuk beli daging, jadi aku hanya bisa menyuguhkan piring kecil itu saja." 

"Angga." 

"Angga punya uang cuma tinggal segitu Bu, jangan di komentar setidaknya Ibu makan rendang daging sapi." 

"Kamu sih Tari, harusnya sebagai istri itu bantu suami cari uang. Bukankah kamu mantan TKW di Taiwan?" 

Aku hanya mendengar hujatan yang keluar dari mulut ibu mertua ku, karena aku tidak menganggapnya serius dan hanya menganggapnya sebagai angin lewat.

"Aku melihat ibu membawa satu koper besar, memangnya Ibu mau ke mana?"

"Ibu sumpek tinggal di rumah yang kecil itu, setidaknya rumah ini lebih luas."

"Jadi Ibu tinggal di sini?" 

"Tentu saja, aku akan tinggal di sini karena rumah Ibu telah di jual kemarin." 

"A-apa?" 

Ibu menatapku sengit. "Kenapa? Kami tidak suka Ibu tinggal di rumahmu?" 

"Bukan begitu Bu. Mengapa Ibu menjual rumah peninggalan bapak mertua?"

"Ya terserah Ibu lah mau jual, lagipula Ibu mau jalan-jalan dan healing dengan teman-teman Ibu nanti." 

Aku tak habis pikir mengenai Ibu mertuaku, bisa-bisanya dia menjual rumah peninggalan bapak mertuaku yang melarang keras untuk menjualnya. Dengan mudahnya Ibu menjual hanya untuk kesenangan semata tanpa memikirkan nasib di kemudian hari. 

"Lisa juga akan tinggal di sini, rumah sudah Ibu jual. Siapkan kamar untuknya juga!" 

"Ya Tuhan, cobaan apalagi ini?" batinku merungut.

Terpopuler

Comments

Asih

Asih

mending minggat nek aku 😤😤😤

2023-10-15

0

😘Mrs. Hen😘

😘Mrs. Hen😘

satu atap sama saudara ipar dan mertua sangat tidak menyenangkan ...Tari harus punya kesabaran extra ini...

2023-06-02

3

lihat semua
Episodes
1 Hamil lagi
2 Suami toxic
3 Aku lelah
4 Kedatangan ibu mertua
5 Apa artinya aku
6 Mulai mengambil alih
7 Seperti pengemis
8 Selalu salah
9 Gantian
10 Shock terapi ibu mertua
11 Biarkan saja atau dia melunjak
12 Membalikkan keadaan
13 Gara-gara siomay
14 Pendapat ibu mertua
15 Membawa pulang suamiku
16 Berjuang bersama
17 Selalu salah dimata ibu
18 Ini kan rumahku!
19 Bukan pelet tapi hidayah
20 Kedatangan Lisa
21 Rencana yang di ketahui
22 Tanpa menawarkan
23 Hatiku sakit
24 Kesalku mendatangkan hikmah
25 Usaha baru
26 Permintaan ibu
27 Kenapa aku harus hamil?
28 Sungguh berat
29 Melepaskan kepergian mas Angga
30 Ide baru jualan
31 Aku bukan pembantu
32 Kelakuan ibu
33 Perasaanku tidak enak
34 Gosip tajam
35 Lisa akan menikah
36 Kebanggaan terbesar ibu
37 Pernikahan Lisa dan Rusli
38 Kecemasan mas Angga
39 Tidak ada kabar
40 Wanita yang memesan kue ku
41 Istri pertama Rusli?
42 Akhirnya aku tahu
43 Jeritan memilukan
44 Demi anak-anakku
45 Kecemasan ibu mertua
46 Hidup sesuai kemampuan
47 Mari bercerai
48 Aku tidak egois
49 Aku harus tetap hidup
50 Mimpi
51 Merasa paling tersakiti
52 Rayuan Siska
53 Karma Lisa
54 Penggerebekan viral
55 Dihampiri karma
56 Roda berputar
57 Pertengkaran Angga dan Siska
58 Tidak akan berubah
59 Talak untuk Siska
60 Bertemu Chen
61 Chen Vs Angga
62 Dan ternyata...
63 Kenzi Liang Chen
64 Menolak lamaran Chen
65 Aku terima
66 Kebahagiaan Tari, penyesalan Angga
67 Nomor tak dikenal
68 I love you, honey
69 Adik angkat Ken
70 Pulang mendadak
71 Beda pendapat
72 Keputusan Huan
73 Apa dia jodoh Huan?
74 Hari pertama di pesantren
75 Takdir yang tidak bisa diubah
76 Bab 77
77 Bab 78
78 Bab 79
79 Bab 80
80 Bab 81
81 Bab 82
82 Bab 83
83 Bab 84
84 Bab 85
85 Bab 86
86 Bab 87
87 Bab 88
88 Bab 89
89 Bab 90
90 Bab 91
91 Bab 92
92 Bab 93
93 Bab 94
94 Bab 95
95 Bab 96
96 Bab 97
97 Bab 98
98 Bab 99
99 Bab 100
100 Bab 101
101 Bab 102
102 Bab 103
103 Bab 104
104 Bab 105
105 Bab 106
106 Bab 107
107 Bab 108
108 Bab 109
109 Bab 110
110 Bab 111
111 Bab 112
112 Bab 113
113 Bab 114
114 Bab 115
115 The end
Episodes

Updated 115 Episodes

1
Hamil lagi
2
Suami toxic
3
Aku lelah
4
Kedatangan ibu mertua
5
Apa artinya aku
6
Mulai mengambil alih
7
Seperti pengemis
8
Selalu salah
9
Gantian
10
Shock terapi ibu mertua
11
Biarkan saja atau dia melunjak
12
Membalikkan keadaan
13
Gara-gara siomay
14
Pendapat ibu mertua
15
Membawa pulang suamiku
16
Berjuang bersama
17
Selalu salah dimata ibu
18
Ini kan rumahku!
19
Bukan pelet tapi hidayah
20
Kedatangan Lisa
21
Rencana yang di ketahui
22
Tanpa menawarkan
23
Hatiku sakit
24
Kesalku mendatangkan hikmah
25
Usaha baru
26
Permintaan ibu
27
Kenapa aku harus hamil?
28
Sungguh berat
29
Melepaskan kepergian mas Angga
30
Ide baru jualan
31
Aku bukan pembantu
32
Kelakuan ibu
33
Perasaanku tidak enak
34
Gosip tajam
35
Lisa akan menikah
36
Kebanggaan terbesar ibu
37
Pernikahan Lisa dan Rusli
38
Kecemasan mas Angga
39
Tidak ada kabar
40
Wanita yang memesan kue ku
41
Istri pertama Rusli?
42
Akhirnya aku tahu
43
Jeritan memilukan
44
Demi anak-anakku
45
Kecemasan ibu mertua
46
Hidup sesuai kemampuan
47
Mari bercerai
48
Aku tidak egois
49
Aku harus tetap hidup
50
Mimpi
51
Merasa paling tersakiti
52
Rayuan Siska
53
Karma Lisa
54
Penggerebekan viral
55
Dihampiri karma
56
Roda berputar
57
Pertengkaran Angga dan Siska
58
Tidak akan berubah
59
Talak untuk Siska
60
Bertemu Chen
61
Chen Vs Angga
62
Dan ternyata...
63
Kenzi Liang Chen
64
Menolak lamaran Chen
65
Aku terima
66
Kebahagiaan Tari, penyesalan Angga
67
Nomor tak dikenal
68
I love you, honey
69
Adik angkat Ken
70
Pulang mendadak
71
Beda pendapat
72
Keputusan Huan
73
Apa dia jodoh Huan?
74
Hari pertama di pesantren
75
Takdir yang tidak bisa diubah
76
Bab 77
77
Bab 78
78
Bab 79
79
Bab 80
80
Bab 81
81
Bab 82
82
Bab 83
83
Bab 84
84
Bab 85
85
Bab 86
86
Bab 87
87
Bab 88
88
Bab 89
89
Bab 90
90
Bab 91
91
Bab 92
92
Bab 93
93
Bab 94
94
Bab 95
95
Bab 96
96
Bab 97
97
Bab 98
98
Bab 99
99
Bab 100
100
Bab 101
101
Bab 102
102
Bab 103
103
Bab 104
104
Bab 105
105
Bab 106
106
Bab 107
107
Bab 108
108
Bab 109
109
Bab 110
110
Bab 111
111
Bab 112
112
Bab 113
113
Bab 114
114
Bab 115
115
The end

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!