Aku masuk ke dalam kamar untuk mengistirahatkan tubuh yang sedari pagi di forsir bekerja, sindiran yang di berikan ibu membuatku tak habis pikir, apa dia tidak melihat rumah dan segalanya sudah aku selesaikan.
"Tari … Tari."
Mendengar namaku di panggil, aku segera beranjak dari tempat tidur. Terpaksa menghampiri ke asal suara, jujur aku sangat lelah.
"Iya Bu, ada apa?" tanyaku menatapnya datar.
"Hari ini Lisa mau tinggal di sini, tempat tidur Ibu kecil. Bisa Ibu bawa tempat tidurmu? Lagipula Ratu tidur di baby box, sekalian Raja juga di gabung dengan adiknya. Bagaimana?"
Aku melihat semangat dari ibu mertuaku, hanya demi kenyamanan anaknya yang sebentar lagi mengungsi ke rumahku berlaku seenaknya. Dia mengatakannya tanpa beban, bahkan tidak memikirkan kalau baby box Ratu tidak akan muat ditempati Raja.
"Gimana ya Bu … baby boxnya gak muat untuk tidur berdua, jadi Raja tidur sama kami. Tempat tidur di kamar ibu kan cukup untuk berdua."
"Tukaran kenapa sih? Aneh deh kamu."
"Aku tidak aneh Bu, masa iya aku korbanin anak aku demi kenyamanan Lisa. Toh, Ibu bisa beli tempat tidur ukuran yang lebih besar."
"Ya sudah, mana uangnya."
Hatiku tergelitik melihat ibu menadahkan tangannya ke arahku, uang dari mana aku memberinya.
"Aku gak punya uang Bu."
"Pake uang tabunganmu dulu."
"Bukan aku gak mau, tapi aku butuh uang itu di saat terdesak. Ibu kan masih punya uang hasil penjualan rumah bapak."
"Itu kan uang Ibu, ya … mau di nikmati sendirilah."
"Kalau begitu pakai apa aja yang ada, toh Lisa gak akan tinggal selamanya di sini."
"Tapi Lisa bakalan tinggal disini, dia sudah di pecat dan akan mencari pekerjaan di sekitar sini."
Aku menghela nafas berat, sudah cukup makan hati aku tinggal bersama ibu mertua, sekarang adik iparku akan tinggal di sini, di rumah yang aku bangun dari hasil bekerja menjadi TKW Taiwan.
"Kamu gak suka ya, kalau Lisa tinggal di sini." Tanya Ibu menatap sinis.
"Aku gak masalah siapa yang tinggal di sini, asal jangan menuntut lebih dari apa yang aku sediakan."
Aku menunggu kedatangan suamiku, ku tatap wajah lelahnya dan tersenyum menyambutnya.
"Bagaimana Mas?" tanyaku saat sudah duduk di sofa, teh dan cemilan sudah tersedia di atas meja.
"Aku dapat pekerjaan, tapi cuma menjadi penjaga di peternak ayam."
"Gak masalah Mas, yang penting pekerjaannya halal."
"Eh, ternyata kamu sudah pulang Angga?"
"Sudah baru, baru sampai."
"Darimana?"
"Mencari pekerjaan tambahan Bu, sekaligus cari biaya lahiran."
"Tuh, apa Ibu bilang … gara-gara istrimu yang gak pake KB, kamu sendiri yang bekerja banting tulang, sementara dia cuma ongkang-ongkangan. Istri macam apa yang begitu," sindir ibu yang sengaja mengatakan langsung dengan intonasi tinggi.
"Ya, kalau bukan karena di larang, aku juga gak bakalan hamil." Balasku tak mau kalah.
"Aku baru saja pulang, jangan berdebat … capek dengarin nya."
Setelah kepergian mas Angga, aku hendak menyusulnya tapi tanganku di cekal ibu.
"Kenapa Bu?"
"Kamu kasih pelet apa anakku?"
"Bukan pelet Bu, tapi hidayah. Aku bersyukur kalau sekarang mas Angga bertanggung jawab, jadi sebaiknya ibu tidak boleh ikut campur dalam rumah tangga kami kalau Ibu masih ingin tinggal di sini." Kecamku.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 115 Episodes
Comments