Aku marah dan kesal pada mas Angga, mabuk bersama temannya bukanlah pemecahan dari permasalahan rumah tangga. Aku menatap wajahnya dengan seksama, masih teringat bagaimana dia mengucapkan ijab qobul di hadapan semua orang yang hadir, terutama di hadapan Allah subhanallah ta'ala.
Tak terasa air mata membanjiri wajahku, kesulitan ekonomi dan rasa tidak peduli acuh tak acuh mas Angga membuatku seperti berjuang seorang diri. Kehadiran ibu mertua yang ikut campur semakin menambah keretakan rumah tanggaku, aku semakin di persulit memperbaiki hubungan yang sedikit renggang itu.
Ku elus perut yang masih rata, ku edarkan pandangan ke arah anak-anakku yang tidur dengan pulasnya. Melihat situasi dan kondisi semakin membuatku berpikir bagaimana nasib dan masa depan dari anak anak-anakku. Tidak ada yang bisa aku andalkan selain diriku sendiri.
Keesokan paginya, Angga membuka kedua matanya secara perlahan, menyusuri pandangan menatap seorang wanita yang tidur di sebelahnya. Dia merasa bersalah dan juga gagal, kesulitan ekonomi membuatnya berubah cuek.
"Kamu sudah bangun Mas?"
Angga terkejut saat dia ketahuan menatap wajah sang istri, segera mengalihkan perhatiannya karena dia gugup sekaligus merasa bersalah.
"Su-sudah."
Aku menatapnya tajam, mengingat suamiku itu yang semalam mabuk berat membuatku hampir di lecehkan oleh temannya.
"Kenapa Mas ada di sana?" tanyaku menyelidik.
Mas Angga menundukkan mengalihkan perhatiannya tak sanggup menatap mataku. "Aku hanya ingin tenang."
"Tenang Mas bilang? Aku khawatir makanya menyusul kesana."
"Yaa … kamu kenapa menyusul?"
"Kalau aku gak ingat sama Mas, mungkin aku gak akan menyusul. Apa yang Mas dapatkan disana? Mendapat ketenangan saat mabuk? Apa permasalahan selesai dengan minum alkohol?"
Serentetan pertanyaan yang aku ajukan pada mas Angga, dia tidak menjawab karena pasti merasa bersalah dan menyesal.
"Aku … aku bosan dengan hidup seperti ini."
Aku menyeringai, bisa-bisanya mas Angga mengatakan hal yang seharusnya aku katakan padanya, karena selama ini tanggung jawab di dalam rumah tangga dan juga semua kebutuhan aku yang memenuhi, menggunakan uang tabungan kian menipis.
"Tidak ada gunanya mabuk, tidak ada yang didapat dari itu. Sebaiknya Mas mencari pekerjaan lain, untuk mendapatkan tambahan."
"Pekerjaan bagaimana? Mendapatkan pekerjaan sekarang sangat sulit dan permintaan dari ibu selalu menekanku."
"Belum mencoba sudah mengatakan seperti itu, kapan majunya hidup kita? Memangnya Mas gak ada pemikiran untuk masa depan anak-anak? Belum lagi aku berbadan dua dan juga membutuhkan biaya tambahan."
"Iya … iya, aku akan usaha lebih keras."
"Buktikan ucapan Mas, anak semakin lama semakin besar, bukan semakin kecil. Hidup kalau gak kerja keras, gak makan."
"Aku akan coba cari pekerjaan baru."
"Itu jauh lebih baik. Satu lagi, aku tidak ingin kejadian tadi malam terulang lagi. Aku paling benci pada pria yang suka mabuk-mabukan."
"Iya, aku janji akan berjuang membiayaimu dan juga anak-anak."
Setelah permasalahan yang dihadapi bersama, aku juga tidak tega memarahi saat memberikan nasehat kepada suamiku. Segera aku menghamburkan pelukan sebagai permintaan maafku, karena sudah lancang menasehatinya.
"Maafin aku Tari, hampir saja kamu di lecehkan Dodi."
"Iya Mas, aku maafin kamu. Asal Mas janji tidak mabuk lagi, mabuk gak bisa menyelesaikan masalah, hanya menambah masalah."
"Iya Sayang, Mas janji."
Aku sangat bersyukur karena hubungan kami yang renggang sudah berbaikan, menerima kenyataan dan peliknya kehidupan akan kami hadapi bersama.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 115 Episodes
Comments