Aku tidak mendengarkan ocehan dari ibu mertuaku, selalu saja aku yang disalahkan dan tidak pernah benar di matanya. Aku berusaha menebalkan pendengaranku untuk kewarasanku sendiri, sungguh hidup di penuhi jalanan penuh duri.
Aku kembali beberes rumah karena melihat kondisi yang sudah berantakan sangat jauh berbeda di saat aku pergi tadi, aku hanya bisa bersabar dan menghela nafas berat. Aku juga berharap agar diberi ketabahan juga kesabaran dalam menghadapi cobaan silih berganti.
****
Aku kelimpungan karena kedua anakku rewel, mereka menangis secara bersamaan membuat telingaku sakit. Aku berusaha untuk menenangkan mereka, namun suara tangisan itu semakin kencang.
Aku menggendong keduanya, terpaksa meninggalkan pekerjaanku membersihkan rumah. "Cup … cup Sayang," ucapku sembari mencium kening kedua anakku.
"Tari, bisa gak sih kamu jadi ibu, hah? Masa anak mu nangis di diamin aja."
Hatiku kesal mendengar perkataan ibu mertuaku itu yang asal bunyi, apa dia tidak melihat bagaimana aku tengah berjuang untuk menenangkan Raja dan Ratu. "Ini aku lagi menenangin mereka, Bu."
"Mana? kalau kamu nenangin mereka sudah diam dari tadi, tapi mereka semakin menangis menjerit. Kamu saja yang tidak becus mengurus anak-anakmu, itulah masalahnya karena tidak mengatur program kehamilan."
Sindiran itu terus melekat di dalam ingatanku, tidak ada kata-kata yang baik yang muncul di mulut ibu mertuaku. Entah apa yang menjadi kesalahanku di masa lalu, karena apapun yang aku lakukan tidak pernah benar di matanya.
"Ibu lihat mas Angga?"
"Tadi dia bilang nongkrong sama teman-temannya, biarkan sajalah mungkin dia menghilangkan capek setelah bekerja. Harusnya kamu sebagai istri itu tahu, kalau suamimu butuh hiburan ketika mereka sudah penat dan lelah bekerja."
"Aku tidak masalah kalau mas Angga nongkrong bersama teman-temannya, sejam atau dua jam masih termasuk hal yang wajar tapi kalau sudah dari siang sampai menjelang magrib, itu sudah tidak bisa ditoleransi lagi Bu."
"Ribet banget sih kamu, biarkan aja lah Angga itu nongkrong sama teman-temannya, yang penting dia tidak berselingkuh. Dia tanggung jawab sama kalian, apa itu masih belum cukup?"
Aku merasa perdebatan ini semakin panas, menyatukan dua pendapat yang berbeda itu cukuplah sulit. Aku melihat kepergian ibu mertuaku dan tidak ingin membantu dan malah menyalahkan aku, lagi dan lagi aku disalahkan dalam hal mengurus anak.
Raja dan Ratu tidak juga diam hingga aku bingung bagaimana cara menenangkan mereka, hingga aku mendengar suara mas Angga yang baru saja pulang. Seakan mendapatkan harapan baru, aku segera berlari menghampirinya dan memberikan Raja ke dalam gendongan suamiku itu.
"Eh, apa nih?"
"Raja."
"Iya, aku tau ini Raja. Maksudku, kenapa kamu menyodorkan Raja?"
"Bantu aku nenangin si sulung Mas."
"Kamu kan ibunya, masa aku sih."
"Lah … kan kamu juga ayahnya Mas, gimana sih? Jangan tahu enak buatnya aja Mas, tapi juga bantu aku rawat mereka."
Aku melototi mas Angga, bisa-bisanya dia hanya tahu enaknya tapi tak mau membantuku merawat anaknya. Aku juga manusia yang punya rasa lelah, bekerja dari subuh hingga ke subuh tanpa di gaji sepeserpun. Seorang istri bahkan rela bekerja dua puluh empat jam, dia hanya ingin dihargai dan membantunya dalam merawat anak dan menjaga mereka, kalau melakukannya sendiri dan sering aku disalahkan, maka hal itu malah memicu ketidakwarasan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 115 Episodes
Comments