Masalah makanan juga di permasalahkan ibu, maunya makanan yang enak setiap hari tanpa pernah tahu berapa uang yang di berikan oleh anaknya.
"Angga, istrimu sudah berani melawan ibu."
Ibu hendak menghasut suamiku agar ikut membenciku, kami saling melirik sepersekian detik mengenai sifat ibu.
"Kenapa kamu diam saja? Kamu takut sama istrimu, begitu?"
"Apa sih Bu, selalu saja menyalahkan Tari. Ibu seharusnya bangga punya menantu seperti istriku, selama ini dialah yang membantu kesulitan ekonomi, merawat anak-anak, mengurus rumah, dan juga mengurusku." Terang mas Angga yang menatap ibunya, dia memang melakukan kesalahan tapi dia juga ingin memperbaikinya karena tidak akan pernah melepaskan sebuah mutiara.
Diam-diam aku tersenyum karena kali pertama mas Angga membelaku, biasanya dia memihak ibunya dan terkadang acuh dengan pertengkaran kami karena sedari dulu aku dan ibu tidak pernah akur. Aku menghirup oksigen sedalam mungkin dan mengeluarkannya secara perlahan, pengalaman membuat siapa saja berubah walau tidak instan.
"Jadi kamu lebih membela istri mu ketimbang berbakti pada ibu?"
"Tari tanggung jawabku, dan aku tidak akan bisa memilih di antara kalian. Jangan hanya masalah sepele, Ibu marah padaku."
"Tentu saja Ibu marah."
"Bu, kalau aku punya uang bakalan masak yang enak, apa yang Ibu inginkan pasti aku kabulkan. Tapi aku minta sama Ibu untuk tidak meminta macam-macam, apalagi masak rendang daging yang harganya sangat mahal."
Wanita paruh baya itu kesal karena keinginannya tidak terpenuhi, berlalu pergi dari sana menuju kamarnya dan menutup pintu dengan sangat keras, menandakan kalau dia sedang marah.
Aku tersenyum pada mas Angga, untuk pertama kalinya dia membelaku di hadapan ibunya. "Terima kasih Mas."
"Harusnya aku yang berterima kasih." Mas Angga datang memeluk tubuhku, tak lupa mendaratkan ciuman di keningku juga. "Maaf, aku telah menyia-nyiakan mu selama ini."
"Iya Mas, aku maafkan."
Aku tidak masalah kalau ibu mertua tidak menyukaiku, setidaknya aku mendapatkan dukungan dari suamiku yang dulu tidak pernah aku dapatkan. Walau badai menerpa, aku tidak akan goyah karena ada mas Angga di sisiku.
"Makan dulu Mas." Tawarku seraya menarik tangannya.
"Iya, kebetulan aku lapar."
Aku menyiapkan makanan di atas piring suamiku, duduk di sebelahnya walaupun aku tidak ikut makan. Sekarang aku yakin sepenuhnya untuk berbakti pada mas Angga dan berhenti mengeluh atas sikapnya dulu.
"Oh iya, setelah makanan Mas mau temui teman."
"Nongkrong?" ujarku yang kembali tidak menyukai hal itu.
Mas Angga mengacak-acak rambutku dan tersenyum gemas. "Bukan Sayang, aku ingin cari pekerjaan demi masa depan kita dan anak-anak."
Aku tersenyum malu karena berburuk sangka pada mas Angga, sambil mengelus perutku yang masih rata.
"Ayah akan berusaha mencari uang untukmu."
Aku menahan geli saat mas Angga mengelus perutku, janin yang bahkan masih sangat kecil sebesar biji mana bisa mendengarkan perkataan suamiku.
Aku mengantarkan mas Angga sampai ke depan pintu, tak lupa menyalami tangannya dan mendoakan keselamatannya. Aku melambaikan tangan dan tersenyum dengan kepergian suamiku, berharap kami saling melengkapi dan menguatkan di saat ekonomi menghimpit.
"Angga sudah jauh, kenapa masih di sana?"
"Eh Ibu." Aku terkejut dan segera beranjak dari pintu menuju sofa, aku yang bersantai sejenak malah membuat wajah mertuaku sinis.
"Kenapa masih disini? Lakukan apa kek, jangan santai gitu."
"Aku sudah siap menyelesaikan semuanya, lagipula ini rumahku, apa salahnya bersantai sejenak."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 115 Episodes
Comments
Dewi Komalasari
sukaaa dehhh SMA tari ... ga diem terus"an .. ga ngebiarin harga dirinya diinjek" orang
2023-06-29
2