Baru saja aku menidurkan kedua anakku, tiba-tiba mas Angga duduk bersebelahan denganku. Melihat gelagatnya sedikit mencurigakan, entah apa yang dia inginkan, aku mencoba seperti tidak tahu apapun.
"Tari."
"Iya Mas, ada apa?" tanya ku datar tanpa menoleh ke arahnya.
Tubuhku meremang saat mas Angga menyentuh tengkukku, tentu saja aku tahu maksud dari tindakannya itu. Namun aku masih teringat pada percakapannya dan ibu, memanfaatkan ku selama ini dan juga membodohiku dengan kata cinta saat di awal kami menikah.
"Mas pengen, yuk!" ajak mas Angga yang menginginkan aku memberinya jatah malam, hatiku belum bisa menerima keadaan yang sangat sulit seperti aku ini di tekan karena beban yang tidak sanggup aku angkat.
"Jangan malam ini Mas, aku capek." Jawabku jujur setelah seharian bekerja dan bekerja layaknya seorang pembantu.
Brak
Suara dari vas bunga membuatku dan anak-anak terkejut, melihat bagaimana raut wajah mas Angga yang sangat marah jika aku menolak ajakannya berhubungan suami istri.
"Egois kamu, aku cuma minta jatah gak di kasih dan beralasan capek."
"Tapi aku memang capek Mas, semua aku yang kerjai. Mulai dari urusan rumah dan juga biaya kebutuhan sehari-hari, aku capek … aku capek." Akhirnya beban di pundakku sedikit berkurang setelah mengeluarkan uneg-uneg yang selama ini menumpuk.
"Cuma mengurus rumah dan dua anak capek? Kamu nya saja yang malas."
"Eh Mas, kamu pikir pekerjaan rumah itu gak capek apa? Aku bekerja hampir dua puluh empat jam dalam sehari, sesekali aku meminta tolong pada Mas tapi tak pernah di dengar dan sibuk dengan urusan sendiri."
"Itu udah kodrat wanita, jangan banyak alasan. Udahlah ahh … lebih baik aku pergi!"
Aku menghela nafas berat menatap kepergian mas Angga, bisa-bisanya dia menganggap pekerjaan ibu rumah tangga sangatlah mudah dan mengira tak melakukan apapun.
"Aku capek. Andai aku dulu tidak menikah, pasti sekarang aku sudah bahagia keluar dan berkumpul dengan teman-teman ku." Aku menyandarkan kepala di sisi atas ranjang, penyesalan saat memilih menikah hanya terpengaruh dengan ucapan manis dari Angga.
"Lho, kamu kok di luar?"
"Ibu belum tidur?"
"Belum, kamarnya panas. Pasangin Ibu AC atau minimal belikan kipas angin, di dalam kamarnya hampir membuat ibu seperti ikan rebus."
Angga mengangguk pelan, dia tak peduli bagian itu karena sekarang dirinya tengah berhasrat dan bingun mau melampiaskannya kemana. Dia menggenggam rambut menggunakan kedua tangannya, sangat pusing bila hasrat tak tersalurkan.
"Kamu kok gitu?"
"Apa sih Bu, berisik banget." Gerutu Angga yang kesal karena sedari tadi sang ibu mengganggunya.
"Ibu lihat istrimu tak bisa mengelola keuangan, kasihan kamu yang makan seadanya. Istri kamu pelit, pasti banyak tabungannya."
"Langsung aja, apa yang ingin Ibu katakan?"
"Bagaimana kalau uang gajimu ibu yang pegang."
"Terus, kalau Tari perlu sesuatu gimana?"
"Ya katakan langsung pada Ibu, dia gak bisa pegang uang."
Angga mulai terpengaruh dengan perkataan ibunya, mengangguk patuh dan juga setuju. "Baiklah, aku juga bosan makan itu-itu mulu, sesekali mau makanan enak."
"Eh, kamu udah mengurangi jatah bulanannya kan?"
"Udah kok Bu, enam ratus ribu perbulan."
"Berhubung Ibu di sini, kamu gak perlu lagi berikan uang gajimu pada Tari, ibu akan mengaturnya sebaik mungkin."
"Terserah Ibu saja. Oh ya, uang yang selama ini aku kumpulkan Ibu yang pegang ya, lagipula aku gak percaya pada Tari."
"Baiklah."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 115 Episodes
Comments