Aku melihat jam yang menunjukkan jam satu malam, mas Angga belum juga pulang membuatku khawatir padanya, tidak biasanya suamiku itu belum pulang. Aku selalu melirik jam di dinding, rasa cemas merayap menguasai diriku.
Aku mengambil ponsel yang ada di atas nakas untuk menghubunginya, ponsel dia yang aku pecahkan sudah di perbaiki karena aku bertanggung jawab telah merusaknya. Berharap aku bisa menghubunginya sekarang, tapi ponselnya sengaja tak di angkat membuat darahku kiam mendidih.
["Mas, angkat teleponku!"]
Aku mengirimnya pesan singkat di aplikasi hijau, bahkan terlihat centang dua yang artinya dia masih aktif. Aku kembali menghubunginya tapi kali ini menggunakan video call, lama ku menunggunya tapi yang mengangkat bukanlah mas Angga melainkan orang lain.
"Ini ponsel mas Angga, kok aku telepon kamu yang mengangkat." Tanyaku yang sedikit kesal.
"Oh, ternyata kamu istrinya Angga, cantik juga."
Aku sangat kesal juga marah, berani sekali pria itu menggodaku menggunakan ponsel suamiku.
"Dimana suamiku? Aku ingin bicara dengannya!"
Pria di dalam ponsel itu tertawa terbahak-bahak sembari mengarahkan kamera ponsel pada mas Angga yang sudah tepar, melihat temannya membuat aku yakin kalau suamiku itu sedang mabuk-mabukan dengan teman-temannya.
"Kirim lokasinya, aku ingin jemput mas Angga!"
Lagi-lagi pria itu tertawa di setengah kesadarannya, beberapa kali dia memujiku dan memintaku menjadi istrinya. Aku semakin jijik dengan pria itu, ku lihat kalau pria itu sepertinya teman baru mas Angga yang baru kali ini aku lihat.
"Cari saja kalau kamu bisa."
Seketika sambungan telepon terputus secara sepihak, beberapa kali aku berteriak hampir membangunkan anak-anakku. Aku marah, kesal, dan juga jengkel dengan suamiku, bukannya ikut membantuku malah membuatku semakin susah.
Aku mencoba untuk melacak nomor ponsel mas Angga, berharap menemukan alamatnya. Sebelum pergi aku melihat wajah kedua anakku, tidak tega meninggalkan mereka tapi keadaan membuatku terpaksa.
Jam satu malam, bulu kuduk ku merinding karena suasana sepi di sekeliling memacu adrenalin. Namun semua itu tak berarti lagi di saat mengingat kondisi mas Angga yang tidak sadarkan diri, bukannya mencari solusi ekonomi yang semakin sulit malah membuat masalah yang membuatku semakin marah padanya.
Aku memberanikan diri masuk ke dalam hutan bermodalan senter ponsel, alamat GPS menunjukkan di sini dan berharap tidak ada ular yang lewat.
Dari kejauhan aku mendengar suara gelak tawa, aku semakin yakin kalau di sana mas Angga berada. Aku berjalan seorang diri, berdoa agar selalu mendapat perlindungan dari sang maha Kuasa.
Sontak kedua mataku terbelalak kaget saat melihat kondisi mas Angga yang berusaha untuk bangkit, aku segera berlari membantunya berdiri. Dua orang pria lainnya sepertinya terkejut dengan kedatanga ku, mereka meneriaki ku juga mas Angga.
Aku tidak membalas perkataan mereka dan lebih mementingkan untuk membawa suamiku pergi dari tempat sana, sebuah gubuk yang ada di pinggir sungai yang sebelumnya harus melewati hutan terlebih dahulu, aku pergi membopong tubuhnya dalam keadaannya setengah kesadaran.
Hal itu membuat mas Angga sangat kesal karena aku diganggu oleh salah satu pria yang menjadi teman mabuknya, terjadi perkelahian antara mereka hingga aku berusaha membantu saat melihat kayu yang berukuran pergelangan tangan. Aku memukul mereka yang berani macam-macam, keadaan dalam mabuk parah membuatku menang dalam pertarungan.
Sesampainya di rumah, aku membaringkan tubuh mas Angga. Walau aku marah, tak bisa di pungkiri kalau dia juga memperdulikan aku.
"Cerita kita sangat unik, Mas." Lirihku.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 115 Episodes
Comments
Shuhairi Nafsir
jadi isteri itu jangan terlalu goblok dan jangan terlalu dibutakan oleh cinta
2023-09-21
0