Biarkan saja atau dia melunjak

Aku benar-benar lemah, wajah pucat membuktikan kalau aku sedang tidak baik-baik saja. Aku duduk di ruang tamu, memijat kepalaku yang terasa pusing. 

"Tari." 

Aku menoleh pelan ke sumber suara, tampak mas Angga menahan kesal yang aku tahu apa sebabnya. "Iya Mas, butuh sesuatu?" 

"Kamu gak masak ya?" 

"Enggak Mas, aku mual mencium aroma minyak goreng. Jadi untuk saat ini aku belum bisa masak, kita pesan aja ya!" ucapku tersenyum membujuknya. 

"Aku mana ada uang, semuanya sudah aku kasih ke Ibu. Pakai uang kamu dulu aja ya …."

Aku memutar kedua bola mataku dengan jengah. "Uang dari mana aku Mas? Kan kamu sendiri yang gak kasih aku uang, minta saja sama ibumu." 

"Aku segan mintanya." 

"Lah … kalau kamu segan, terus urusannya denganku apa?" 

"Kita ambil jalan tengahnya, kamu masak ya. Tutup hidung kamu supaya gak mencium aroma minyak goreng lagi." 

"Andai aku bisa, juga gak bakalan begini Mas, aku sudah berusaha keras. Makanya, kalau kamu sungkan minta gaji sama ibu sebaiknya kamu pikirkan lagi deh." Ini kesempatan aku untuk membalikkan keadaan, sangat tahu kalau ibu mertuaku hanya membodohi suamiku agar dapat memegang seluruh gajinya. 

"Tapi aku susah memberikan pada ibu, gimana dong?" 

Diam-diam aku tersenyum tipis melihat raut wajah mas Angga yang sepertinya menyesal memberikan seluruh gajinya pada ibu. Dia menatapku berharap aku membantunya, aku hanya mengangkat kedua bahuku secara acuh tak acuh. 

"Jangan libatkan aku, itu keputusan kamu sendiri tanpa memberitahukan dulu padaku. Terima resiko aja sih Mas, menurut aku." Kulangkah kan kaki menuju kamar, karena aroma minyak goreng seperti menyebar kemana-mana. 

Aku terkekeh melihat mas Angga yang berpikir keras, siapapun yang menindasku pasti aku balas mereka. 

Saat waktunya makan, aku keluar dari kamar dan ikut makan bersana suami dan juga ibu mertuaku tanpa sungkan sedikitpun. Bagaimana tidak? Karena seluruh gaji yang di berikan mas Angga pada Ibu juga ada hakku dan anak-anak. 

"Masak gak mau, giliran makan aja cepat." 

"Ya pastilah Bu, kalau lapar ya makan. Makan selagi berselera, kalau sakit apapun gak akan mau." Balasku semakin membuat ibuku diam tak berkutik, kalah dalam hal melawanku berbicara.  

"Liat tuh Angga, istri kamu sekarang sudah mulai berani melawan ibu." 

"Apa lagi sih Bu, sudah deh jangan berdebat terus." 

"Tapi dia melawan ibu Angga, dan sekarang makan dengan tenang." 

"Lah … memangnya aku tidak boleh makan ya?  Gaji suamiku kan sama ibu semua, jadi hal yang wajar kalau aku makan." 

Angga mengusap wajahnya dengan kasar, walau makanan enak yang terhidang di depannya tak membuatnya berselera makan. 

"Angga, makan dulu Sayang. Habiskan dulu makanan kamu!" 

Aku diam dan tanpa beban menyuapi mulutku, tidak peduli dengan sikap mas Angga. Karena semakin aku membujuknya, maka dua bahkan semakin melunjak. Aku merasa sikuku di senggol, segera aku menatap sang pelaku yang tak lain ibu mertuaku. 

"Apa Bu?" 

"Susul Angga sana, dia belum menghabiskan makanannya." 

"Mas Angga bukan anak kecil lagi Bu, jadi terserah dia mau makan atau tidak." 

"Kamu ini kenala sih? Semenjak hamil anak ketiga sukanya melawan terus. Jangan sembarangan, bisa kualat kamu." 

"Susah membujuk mas Angga, kalau lapar juga bakalan balik lagi kok." Ucapku yang tersenyum ramah. 

Tepat selang beberapa saat, tiba-tiba mas Angga kembali duduk duli kursinya dan beralasan. 

"Nah, Ibu lihat sendiri kan?" ujarku yang sesantai mungkin. 

Episodes
1 Hamil lagi
2 Suami toxic
3 Aku lelah
4 Kedatangan ibu mertua
5 Apa artinya aku
6 Mulai mengambil alih
7 Seperti pengemis
8 Selalu salah
9 Gantian
10 Shock terapi ibu mertua
11 Biarkan saja atau dia melunjak
12 Membalikkan keadaan
13 Gara-gara siomay
14 Pendapat ibu mertua
15 Membawa pulang suamiku
16 Berjuang bersama
17 Selalu salah dimata ibu
18 Ini kan rumahku!
19 Bukan pelet tapi hidayah
20 Kedatangan Lisa
21 Rencana yang di ketahui
22 Tanpa menawarkan
23 Hatiku sakit
24 Kesalku mendatangkan hikmah
25 Usaha baru
26 Permintaan ibu
27 Kenapa aku harus hamil?
28 Sungguh berat
29 Melepaskan kepergian mas Angga
30 Ide baru jualan
31 Aku bukan pembantu
32 Kelakuan ibu
33 Perasaanku tidak enak
34 Gosip tajam
35 Lisa akan menikah
36 Kebanggaan terbesar ibu
37 Pernikahan Lisa dan Rusli
38 Kecemasan mas Angga
39 Tidak ada kabar
40 Wanita yang memesan kue ku
41 Istri pertama Rusli?
42 Akhirnya aku tahu
43 Jeritan memilukan
44 Demi anak-anakku
45 Kecemasan ibu mertua
46 Hidup sesuai kemampuan
47 Mari bercerai
48 Aku tidak egois
49 Aku harus tetap hidup
50 Mimpi
51 Merasa paling tersakiti
52 Rayuan Siska
53 Karma Lisa
54 Penggerebekan viral
55 Dihampiri karma
56 Roda berputar
57 Pertengkaran Angga dan Siska
58 Tidak akan berubah
59 Talak untuk Siska
60 Bertemu Chen
61 Chen Vs Angga
62 Dan ternyata...
63 Kenzi Liang Chen
64 Menolak lamaran Chen
65 Aku terima
66 Kebahagiaan Tari, penyesalan Angga
67 Nomor tak dikenal
68 I love you, honey
69 Adik angkat Ken
70 Pulang mendadak
71 Beda pendapat
72 Keputusan Huan
73 Apa dia jodoh Huan?
74 Hari pertama di pesantren
75 Takdir yang tidak bisa diubah
76 Bab 77
77 Bab 78
78 Bab 79
79 Bab 80
80 Bab 81
81 Bab 82
82 Bab 83
83 Bab 84
84 Bab 85
85 Bab 86
86 Bab 87
87 Bab 88
88 Bab 89
89 Bab 90
90 Bab 91
91 Bab 92
92 Bab 93
93 Bab 94
94 Bab 95
95 Bab 96
96 Bab 97
97 Bab 98
98 Bab 99
99 Bab 100
100 Bab 101
101 Bab 102
102 Bab 103
103 Bab 104
104 Bab 105
105 Bab 106
106 Bab 107
107 Bab 108
108 Bab 109
109 Bab 110
110 Bab 111
111 Bab 112
112 Bab 113
113 Bab 114
114 Bab 115
115 The end
Episodes

Updated 115 Episodes

1
Hamil lagi
2
Suami toxic
3
Aku lelah
4
Kedatangan ibu mertua
5
Apa artinya aku
6
Mulai mengambil alih
7
Seperti pengemis
8
Selalu salah
9
Gantian
10
Shock terapi ibu mertua
11
Biarkan saja atau dia melunjak
12
Membalikkan keadaan
13
Gara-gara siomay
14
Pendapat ibu mertua
15
Membawa pulang suamiku
16
Berjuang bersama
17
Selalu salah dimata ibu
18
Ini kan rumahku!
19
Bukan pelet tapi hidayah
20
Kedatangan Lisa
21
Rencana yang di ketahui
22
Tanpa menawarkan
23
Hatiku sakit
24
Kesalku mendatangkan hikmah
25
Usaha baru
26
Permintaan ibu
27
Kenapa aku harus hamil?
28
Sungguh berat
29
Melepaskan kepergian mas Angga
30
Ide baru jualan
31
Aku bukan pembantu
32
Kelakuan ibu
33
Perasaanku tidak enak
34
Gosip tajam
35
Lisa akan menikah
36
Kebanggaan terbesar ibu
37
Pernikahan Lisa dan Rusli
38
Kecemasan mas Angga
39
Tidak ada kabar
40
Wanita yang memesan kue ku
41
Istri pertama Rusli?
42
Akhirnya aku tahu
43
Jeritan memilukan
44
Demi anak-anakku
45
Kecemasan ibu mertua
46
Hidup sesuai kemampuan
47
Mari bercerai
48
Aku tidak egois
49
Aku harus tetap hidup
50
Mimpi
51
Merasa paling tersakiti
52
Rayuan Siska
53
Karma Lisa
54
Penggerebekan viral
55
Dihampiri karma
56
Roda berputar
57
Pertengkaran Angga dan Siska
58
Tidak akan berubah
59
Talak untuk Siska
60
Bertemu Chen
61
Chen Vs Angga
62
Dan ternyata...
63
Kenzi Liang Chen
64
Menolak lamaran Chen
65
Aku terima
66
Kebahagiaan Tari, penyesalan Angga
67
Nomor tak dikenal
68
I love you, honey
69
Adik angkat Ken
70
Pulang mendadak
71
Beda pendapat
72
Keputusan Huan
73
Apa dia jodoh Huan?
74
Hari pertama di pesantren
75
Takdir yang tidak bisa diubah
76
Bab 77
77
Bab 78
78
Bab 79
79
Bab 80
80
Bab 81
81
Bab 82
82
Bab 83
83
Bab 84
84
Bab 85
85
Bab 86
86
Bab 87
87
Bab 88
88
Bab 89
89
Bab 90
90
Bab 91
91
Bab 92
92
Bab 93
93
Bab 94
94
Bab 95
95
Bab 96
96
Bab 97
97
Bab 98
98
Bab 99
99
Bab 100
100
Bab 101
101
Bab 102
102
Bab 103
103
Bab 104
104
Bab 105
105
Bab 106
106
Bab 107
107
Bab 108
108
Bab 109
109
Bab 110
110
Bab 111
111
Bab 112
112
Bab 113
113
Bab 114
114
Bab 115
115
The end

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!