Hari ini adalah jadwalku ke Pustu khusus kelas ibu hamil, aku terpaksa membawa kedua anakku untuk ikut bersamaku. Namun kedatanganku malah menjadikanku pusat perhatian, tentu saja itu terjadi karena aku hamil anak ketiga di saat usia anak-anak ku sangat dempet.
Aku memangku kedua anak-anakku dan tak menghiraukan tanggapan orang-orang, menikmati apa yang sudah di berikan Tuhan padaku dengan menitipkan sebuah janin di dalam rahimku.
Seseorang mencolek lenganku sedikit mengejutkanku, aku menoleh dan menatap sang pelaku yang tak lain ibu Tuti yang juga hamil anak keduanya.
"Eh Tari, kamu di sini? Kamu hamil lagi ya?"
"Iya Bu Tuti."
"Kok Ratu di beri adik sih, kamu gak pake KB atau memang gak sengaja?"
Aku tahu kalau pertanyaan itu pasti akan menimpaku, aku terdiam beberapa saat dan melihat semua ibu hamil yang berada di dalam ruangan yang sama juga menantikan jawaban dariku.
"Aku gak pake KB, Bu Tuti."
"Oalah … pantesan, kok kamu gak pake KB sih? Gak kasihan sama Ratu yang baru bisa tengkurap? ASI lebih bagus ketimbang susu formula."
"Iya Bu, semuanya sudah di atur."
Setelah perbincangan itu, aku tak menanggapi ibu-ibu hamil lainnya dan hanya fokus pada penyampaian bidan mengenai kehamilan dari trimester pertama hingga trimester kedua.
Satu setengah jam sudah berlalu tanpa di sadari, bidan yang menjaga hari ini memberi ku dan ibu-ibu hamil lainnya sebuah vitamin yang berupa tablet tambah darah sebanyak tiga lempeng, sesuai untuk tiga puluh hari ke depan, juga tak lupa dengan biskuit yang disediakan khusus untuk ibu hamil di Puskesmas itu.
Aku pulang terpaksa berjalan kaki seperti di awal aku datang, mas Angga tidak mau mengantar kaki dan lebih peduli pada teman tongkrongannya. Aku tak habis pikir, entah kesalahan apa di masa lalu hingga memiliki suami sepertinya. Kalau masalah teman-teman, suamiku selalu royal sangat berbeda jika aku meminta bantuannya.
"Kenapa pulangnya lama sekali, Ibu lapar. Buatkan makanan!"
"Tunggu sebentar ya Bu, aku mau tidurkan mereka dulu. Pasti mereka sangat capek," ujarku yang hendak melangkahkan kaki menuju kamar.
"Mereka bisa tidur nanti, sekarang kamu masak dulu. Raja dan Ratu biar Ibu yang mengurusnya."
Aku sempat ragu meninggalkan kedua anakku pada Ibu, bukan aku tak percaya hanya saja ragu menitipkannya.
"Ibu mengurus mereka dengan baik, Ibu lebih berpengalaman dari kamu."
Dengan berat hati aku melangkah menuju dapur dan memasak, hanya ada telur dan sayur bayam, juga jagung muda. Bahan yang terbatas aku hanya bisa membuat menu sederhana, dadar telur dan sayur bening.
Tidak lama membuat masakan itu, aku menyajikannya ke atas piring dan menyusun rapi dua jenis makanan seadaanya.
Aku buru-buru menghampiri ibu mertuaku. "Makanannya sudah siap Bu."
"Apa yang kamu masak?"
"Dadar telur dan sayur bening Bu."
"Apa hanya dadar telur dan sayur bening? Kenapa gak menyediakan rendang daging?"
"Aku mana punya uang, mas Angga memberikan semua gajinya pada Ibu."
Aku melihat raut wajah ibu mertuaku yang membenarkan perkataanku, tapi dia tentu tak ingin di salahkan.
"Lagian sih, kamu gak hati-hati dan gak bisa mengurus pengeluaran."
Aku diam seraya mengelus dada pelan, aku selalu saja salah di mata ibu mertuaku. "Pengeluaran pasti bertanbah kalau Ibu hanya ingin menu makanan mewah dan enak." Ujarku yang sudah tidak tahan dengan permintaan konyol yang sulit mengabulkannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 115 Episodes
Comments