Tiada hari tanpa berdebat, itulah yang selalu terjadi antara aku, mas Angga, dan juga ibu mertuaku. Aku sangat marah mengetahui suamiku memberikan seluruh gajinya pada ibunya, sebab sangat menyulitkan aku untuk membeli susu formula dan keperluan lain.
Aku hanya melihat apa yang akan di lakukan oleh suamiku yang tidak berguna itu, selalu saja uangku yang hendak dia congkel sewaktu tak pegang uang sepeserpun. Pernah sekali aku aku meminta uang pada ibu mertua untuk membeli dua kotak susu formula untuk Raja dan Ratu, jawabannya untuk mengelak memberikan sungguh membuatku kesal. Bagaimana tidak? Ibu menyuruhku untuk berhemat dengan membelikan satu susu formula yang tidak sesuai usianya untuk Ratu, dan berpikir kalau itu tak akan berpengaruh dan sama saja.
Ibu mertua yang sudah menumpang hidup di rumahku, malah sok berkuasa dengan mengatur segalanya. Aku muak dan merasa sesak, di tambah lagi mas Angga yang hanya bisa diam dengan permainan ibunya.
"Mas, kamu tega beri susu Ratu di usia yang seharusnya untuk Raja? Kamu itu pemimpin keluarga, harusnya lebih bersikap tegas dong."
"Terus aku harus apa?"
"Gajimu harus aku yang pegang."
"Ibu tidak akan setuju."
"Aku tidak peduli, kamu mau aku mengusirnya dari rumah ini?" kecamku.
"Dia itu ibuku, kamu tega mengusirnya?"
"Kalau memang di perlukan, kenapa tidak? Toh Ibu punya banyak uang hasil menjual rumah peninggalan bapak." Sudah cukup ketidakadilan terjadi padaku, bukan bermaksud aku memperlakukan mertuaku dengan buruk, tapi masalah yang satu ini membuatku kehilangan kesabaran.
"Tega kamu ya."
"Terserah deh Mas, hari ini aku ingin dua kotak susu formula untuk Raja dan Ratu."
"Egois kamu."
"Egois kamu bilang? Hei, siapa yang memintaku tidak ber-KB?"
"Tapi gak gini juga kali."
"Udahlah Mas, aku gak mau debat."
"Tapi kamu gak bisa seenaknya pada ibuku."
"Hanya dua pilihan untukmu Mas, memilih sungkan meminta uang pada ibumu atau membiarkan Ratu kelapan." Aku berlalu pergi meninggalkan mas Angga, biarlah aku di kata egois tapi bagiku yang terpenting anak-anak ku.
Angga berjalan mendekati ibunya yang sedang membaca majalah, duduk berhadapan sedikit ragu untuk meminta sejumlah uang.
"Ada apa? Kamu butuh sesuatu, Nak?"
"Iya nih Bu. Aku ingin minta uang untuk beli susu formula Ratu."
"Minta uang?" ucap wanita paruh baya yang meletakkan majalahnya di atas meja, menatap putranya sambil menyerngitkan dahi. "Pasti istrimu yang menyuruhmu kan?"
Angga mengangguk. "Iya Bu, Ratu perlu beli susu sesuai usianya."
"Usia itu tidak penting, toh sama-sama susu formula."
"Ratu gak bisa meminumnya, Bu. Ku mohon agar Ibu memberikan aku uang, Ibu ingin cucu Ibu sampai kelaparan?"
"Pelet apa sih yang di gunakan istrimu."
"Bukan pelet melainkan ancaman, Ibu mau kalau sampai Tari mengusir Ibu dari rumah ini?"
"Menantu kurang ajar, berani sekali dia mengancam untuk mengusirku dari sini."
"Ibu jangan lupakan kalau ini adalah rumahnya."
Mau tak mau wanita paruh baya itu terpaksa mengeluarkan sejumlah uang untuk membeli susu formula, muncullah rasa dongkol di hatinya karena sang menantu sudah berani mengancam dirinya lewat anaknya sendiri.
"Ada satu hal lagi Bu, ini menyangkut masalah gajiku yang akan aku serahkan kepada Tari."
"Ya gak bisa gitu dong, harusnya ibu yang mengatur pengeluaran bukan dia jangan mentang-mentang karena rumah ini miliknya."
"Sudahlah Bu, yang penting Ibu bisa tinggal di sini. Lagi pula Ibu masih punya uang yang banyak dari hasil menjual rumah warisan dari bapak."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 115 Episodes
Comments