Aku yang tengah mengurus Raja dan Ratu, sangat kerepotan karena tidak ada yang membantuku menjaga mereka. Berulang kali aku mengatakan kepada mas Angga agar menjaga mereka untuk sementara waktu, awalnya dia membantuku tapi setelah itu pergi entah kemana. Aku tahu betul kalau suamiku itu pergi nongkrong bersama teman-temannya, sungguh parah sekali dia menjadi seorang suami dan ayah yang tidak bertanggung jawab.
Aku melihat ibu mertuaku yang sedang bersantai dan dengan sengaja duduk di hadapanku yang tengah kerepotan mengasuh anak.
"Duh, cuacanya panas ya." Ucap ibu mertua sembari mengipasi wajahnya menggunakan tangan, terdengar suara gemerincing. Aku bisa melihat jelas gelang emas yang ada di pergelangan tangannya, sengaja memperlihatkan padaku kalau dia baru saja membelinya.
"Iya Bu, panas banget." Sambung ku tak ingin berkomentar apapun.
Ibu mertua menatapku dari atas hingga bawah, menilai penampilanku yang sekarang tidak semenarik dulu.
"Kenapa Ibu menatapku begitu."
"Kamu tuh gak sadar ya Tari, wajah kucel dekil gitu kok di biarin aja. Emang kamu mau Angga berpaling darimu, hah? Ucapnya sedikit meninggi.
Aku tersenyum mendengar perkataan ibu mertuaku. "Uang dari mana Bu? Sudah makan aja syukur."
"Yee … aku bilangin malah gak di dengar." Sewotnya.
"Siapa sih yang gak mau perawatan? Aku juga mau Bu, tapi mas Angga memberiku uang pas-pasan. Toh untuk makan aja aku harus nombok yang kurang, gimana mau mikirin perawatan." Jelas ku yang tak suka di tatap begitu.
"Orang tua bilang yang baik malah di ceramahi begitu."
"Ya, kalau Ibu mau membiayai, aku sih oke-oke aja."
"Enak aja. Terserah kamulah, mau perawatan kek atau enggak Ibu gak peduli." Ujarnya yang kesal dengan perkataanku. "Eh, gimana pendapatmu mengenai gelang emas baru Ibu?"
Ibu mertuaku sangat bersemangat menunjukkan perhiasan barunya, aku mengangguk saja. "Bagus Bu."
"Hem, kamu pasti gak punya perhiasan. Tapi gak cocok juga kalau kamu memakainya." Sindirnya.
"Dulu aku punya banyak perhiasan Bu, tapi aku gadaikan demi membangun rumah yang kita tempati ini. Ibu tahu sendiri, bagaimana mas Angga yang ekonominya masih sulit."
Aku akui kalau perkataanku cukup kasar, tapi aku harus melakukan itu agar tidak di injak-injak oleh orang lain. Selama menikah aku selalu berusaha sabar dan sabar, saat dulu tinggal di rumah mertua membuatku hampir kehilangan akal.
"Oh, jadi kamu gak ikhlas buat rumah? Masih mengungkit juga?"
"Aku gak masalah kok Bu, toh rumah ini mau aku wariskan untuk anak-anak ku."
"Jadi, rumah ini belum kamu ganti nama?" ucap ibu mertua yang sedikit shock.
"Mau ganti nama? Aku gak pernah bilang mau ganti nama, tetap rumah ini atas namaku." Aku heran, darimana ibu bisa mempunyai pikiran seperti itu. Apa dia mengira aku mengganti nama mas Angga? Tidak mungkin, karena aku lebih mengutamakan anak-anakku.
"Iya, Angga yang bilang begitu."
"Sampai matipun aku gak akan merubah nama rumah ini."
"Kamu tuh istri, harusnya rumah ini atas nama Angga karena dia kepala keluarga."
Aku tergelak mendengar perkataan Ibu, bisa-bisanya berpikiran sempit begitu. "Maaf ya Bu, aku harus menenangkan anak-anak dulu." Aku berlalu pergi meninggalkannya sendiri, karena bicara dengan ibu mertua semakin membuat kesabaran kian terkikis, mencari jalan aman agar dia tak banyak bertanya.
"Ada dua kemungkinan, suamiku bisa di rebut wanita lain dan suamiku bisa di rebut Tuhan. Aku mencintainya ala kadarnya tanpa berlebihan, sesuatu berlebihan tidak lah baik." Monolog ku.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 115 Episodes
Comments