Aku lelah

Aku yang tengah sibuk mengurus rumah dan merawat kedua anakku membuatku hampir stres, tidak adanya suami yang mau membantuku. Aku seperti seorang janda yang menghidupi kedua anakku seorang diri, mulai dari mencari uang hingga mengurus anak-anak ku. Aku sangat kesal dengan apa yang menimpaku saat ini, sungguh menyesal memilih menikah dengan mas Angga. Namun nasi sudah menjadi bubur, penyesalan memang selalu datang di akhir. Aku meratapi nasibku yang malang, kedua anakku yang masih kecil di tambah dengan kondisiku yang sekarang tengah berbadan dua. 

Aku menatap jam di dinding, yang sudah waktunya aku memasak, melangkahkan kaki menuju dapur dan fokus untuk memasak makanan. Tidak ada bahan yang di masak membuatku menggaruk kan kepala, menghela nafas dalam sembari mencari sekali lagi, mana lah tau masih ada sisa beras segenggam atau sayur yang bisa di masak. 

Aku mencari cukup lama, memang tidak ada bahan apapun yang bisa dimasak selain menemukan segenggam beras. Tak terasa air mataku menetes, dengan cepat aku menyeka air mataku, tidak ada gunanya aku menangis. Aku membagi beras itu menjadi dua, separuhnya untuk makan anakku, Raja. 

Aku sengaja memberikan separuh beras tadi banyak air, berharap bisa di jadikan pengganjal perut untuk hari ini.

Aku tidak masalah jika tak makan, tapi bagaimana dengan anakku yang membutuhkan makanan, juga Ratu yang memerlukan susu formula. 

Tidak adanya pilihan membuatku mencongkel tabungan ayam yang sudah lama aku simpan, tentunya aku menabung untuk kecemasan dan untuk kedua anakku yang masih kecil. 

Saat aku menyimpan celengan ayam, aku merasa ada yang menarik bajuku. Segera aku menoleh ke bawah dan mendapati Raja yang menangis, aku tidak tega dan segera menggendongnya. 

"Kamu pasti lapar ya Sayang, sabar ya." Ucapku mengecup pucuk kepala Raja. 

Selembar uang berwarna merah cukup untuk membeli susu dan juga bahan makanan, aku tak tega meninggalkan kedua anakku dan terpaksa membawanya ikut pergi ke warung. 

Jarak warung ke rumah lumayan jauh, tapi aku tidak punya pilihan lain selain menempuhnya. 

"Eh, Tari." 

Aku yang merasa terpanggil segera menoleh ke sumber suara, melihat seorang wanita cantik tengah menatapku meyakinkan keraguannya. 

"Santi." Balasku sambil mengingat namanya, dia adalah teman seperjuanganku saat dulu bekerja menjadi TKW di Taiwan. 

"Kamu apa kabar?" 

Aku menyambut pelukannya itu karena sudah lama tak bertemu, aku sangat senang bisa bertemu dengan kawan lama yang sudah seperti saudara saat kami berada di perantauan. Aku melihatnya yang sedang memperhatikan kedua anakku, aku mengerti apa yang ada di pikirannya. 

"Mereka anak-anak ku, Raja dan Ratu."

"Halo Sayang." Santi mengusap pipi kedua anakku secara bergantian, dia tersenyum ramah saat menyapa. 

"Kedua anakmu masih sangat kecil."

"Iya, jarak mereka cukup dekat." 

"Kasihan si sulung kalau di beri adik, kamu tidak ikut program KB ya?" selidik Santi membuatku tertunduk lesu sembari mengangguk pelan. 

"Ternyata benar."

"Iya, aku harus pergi." Aku tak ingin mengatakan hal lebih kepada Santi dan lebih menyimpannya saja, takut menjadi bumerang di kemudian hari. 

Aku berjalan sangat cepat menuju warung dan membeli beberapa keperluanku, memberikan selembar uang berwarna merah dan kemudian aku mengambil kembaliannya.

Pikiranku sangat terbebani dengan hidup semua bergantungan padaku, aku merasa percuma saja menikah tapi tak mendapatkan apapun dari itu. 

Sesampainya di rumah, aku langsung memasak setelah menidurkan kedua anakku lebih dulu. Sangatlah berat menikah dan berjuang seorang diri, aku hanya berharap setelah kelahiran anak ketiga aku tidak mengalami baby blues, itu sangat berpengaruh pada kedua anakku. 

"Hanya ini? Apa makanan ini yang bisa kamu hidangkan?" 

Kalimat kritikan pedas dari suamiku berhasil membuat semangatku memudar, mudah sekali dia berkomentar tanpa ingin berusaha lebih. "Kalau ingin makanan lebih setidaknya berilah uang lebih." 

Brak

"Aku lapar, tapi kamu menyiapkan nasi yang seperti bubur ini. Apa tidak ada yang lain selain memasak telur dan tempe? Aku bosan." 

Aku tersentak kaget mendengar gebrakan meja yang cukup kuat, hak itu membangunkan kedua anakku yang tadinya tertidur. "Apa kamu sendiri yang punya perut, Mas? Kalau mau makan enak ya bekerja sana, jangan tahu cuma nongkrong dan main ponsel. Kamu mengkritik masakanku tanpa berpikir memberikan uang belanja yang sangat minim. Kita sudah punya anak dua dan sebentar lagi menjadi tiga orang anak, kebutuhan bahan pokok semuanya naik. Kamu … memberiku cuma enam ratus ribu perbulan, apa aku gak gila mikirin pengeluaran yang bahkan lebih besar dari pemasukan yang kamu berikan." Aku mengeluarkan semua uneg-uneg ku pada mas Angga, bahkan tanpa embel-embel "mas". 

"Enam ratus ribu itu sangat cukup untuk makan kita selama sebulan, kamu nya aja yang boros dan tidak bisa mengelola keuangan." 

"Ya, aku memang boros. Aku tantang kamu Mas, untuk pergi ke pasar dan membawa uang enam ratus ribu untuk satu bulan, jika kamu berhasil aku tidak akan mengeluh lagi." Dengan terpaksa aku memberinya tantangan, biar Mas Angga tahu bagaimana harga semua bahan di pasar dan kebutuhan yang selama ini berkurang. 

Dulu sewaktu kami menikah, dia memberiku uang delapan ratus rupiah sampai satu juta seminggu. Tapi semenjak anak kami dua, uang yang dia berikan semakin berkurang. Aku mulai bertanya-tanya, ada apa ini? Apa yang di sembunyikan oleh suamiku. 

"Ah, kalau begini hilang selera makanku." 

Lagi-lagi mas Angga seperti itu, tidak memberiku uang belanja malah selalu mengkritik masakanku. Dia menginginkan makan daging ayam atau sapi, mana mungkin aku mengikuti keinginannya dan lebih mengutamakan susu formula untuk kedua anakku. 

Sengaja aku pergi setelah menutup tudung saji di atas meja, karena kalau lapar mas Angga pasti akan memakannya juga. Aku tidak mau mengambil pusing, bebanku sudah sangat banyak tak akan mau aku tambah lagi. 

Di tengah malam, aku diam-diam menangis dengan semua keadaan yang membuatku sangat lelah, menjadi seorang ibu dan istri yang tiada henti bekerja bagai kuda sangat memforsir tenaga. 

"Aku lelah." Dua kata yang terucap di bibir, ingin sekali aku berteriak dan melampiaskan semuanya.  

****

"Ibu akan tinggal dengan kita!" 

Aku terdiam beberapa saat, kedatangan ibu mertua membuatku sangat kesulitan. Bukan karena aku membencinya, tapi hubungan kami tidaklah baik semenjak hari itu. 

"Kapan?" 

"Besok dia kemari, hidangkan dia dengan daging rendang dan ini uangnya." 

Aku melirik uang lima puluh ribu di atas meja pemberian dari mas Angga, rendang daging? Apa dia tidak tahu harga daging di pasar sangatlah mahal, untuk sekilo bisa mencapai seratus dua puluh ribu dan dia hanya memberiku lima puluh ribu. Buru-buru aku mengejarnya dan tentunya meminta lebih. 

"Aku tidak bisa buat rendang daging, uangnya tidaklah cukup." 

"Kamu kan perempuan, ya harus pintar mengatur keuangan suami." 

Terpopuler

Comments

Hasian Marbun Ian ayurafanisa

Hasian Marbun Ian ayurafanisa

aq lg emosi

2023-07-15

2

mama De

mama De

suami blaysk Di buang ke laut

2023-06-24

1

😘Mrs. Hen😘

😘Mrs. Hen😘

kayak nya angga punya rahasia dech...

2023-06-02

1

lihat semua
Episodes
1 Hamil lagi
2 Suami toxic
3 Aku lelah
4 Kedatangan ibu mertua
5 Apa artinya aku
6 Mulai mengambil alih
7 Seperti pengemis
8 Selalu salah
9 Gantian
10 Shock terapi ibu mertua
11 Biarkan saja atau dia melunjak
12 Membalikkan keadaan
13 Gara-gara siomay
14 Pendapat ibu mertua
15 Membawa pulang suamiku
16 Berjuang bersama
17 Selalu salah dimata ibu
18 Ini kan rumahku!
19 Bukan pelet tapi hidayah
20 Kedatangan Lisa
21 Rencana yang di ketahui
22 Tanpa menawarkan
23 Hatiku sakit
24 Kesalku mendatangkan hikmah
25 Usaha baru
26 Permintaan ibu
27 Kenapa aku harus hamil?
28 Sungguh berat
29 Melepaskan kepergian mas Angga
30 Ide baru jualan
31 Aku bukan pembantu
32 Kelakuan ibu
33 Perasaanku tidak enak
34 Gosip tajam
35 Lisa akan menikah
36 Kebanggaan terbesar ibu
37 Pernikahan Lisa dan Rusli
38 Kecemasan mas Angga
39 Tidak ada kabar
40 Wanita yang memesan kue ku
41 Istri pertama Rusli?
42 Akhirnya aku tahu
43 Jeritan memilukan
44 Demi anak-anakku
45 Kecemasan ibu mertua
46 Hidup sesuai kemampuan
47 Mari bercerai
48 Aku tidak egois
49 Aku harus tetap hidup
50 Mimpi
51 Merasa paling tersakiti
52 Rayuan Siska
53 Karma Lisa
54 Penggerebekan viral
55 Dihampiri karma
56 Roda berputar
57 Pertengkaran Angga dan Siska
58 Tidak akan berubah
59 Talak untuk Siska
60 Bertemu Chen
61 Chen Vs Angga
62 Dan ternyata...
63 Kenzi Liang Chen
64 Menolak lamaran Chen
65 Aku terima
66 Kebahagiaan Tari, penyesalan Angga
67 Nomor tak dikenal
68 I love you, honey
69 Adik angkat Ken
70 Pulang mendadak
71 Beda pendapat
72 Keputusan Huan
73 Apa dia jodoh Huan?
74 Hari pertama di pesantren
75 Takdir yang tidak bisa diubah
76 Bab 77
77 Bab 78
78 Bab 79
79 Bab 80
80 Bab 81
81 Bab 82
82 Bab 83
83 Bab 84
84 Bab 85
85 Bab 86
86 Bab 87
87 Bab 88
88 Bab 89
89 Bab 90
90 Bab 91
91 Bab 92
92 Bab 93
93 Bab 94
94 Bab 95
95 Bab 96
96 Bab 97
97 Bab 98
98 Bab 99
99 Bab 100
100 Bab 101
101 Bab 102
102 Bab 103
103 Bab 104
104 Bab 105
105 Bab 106
106 Bab 107
107 Bab 108
108 Bab 109
109 Bab 110
110 Bab 111
111 Bab 112
112 Bab 113
113 Bab 114
114 Bab 115
115 The end
Episodes

Updated 115 Episodes

1
Hamil lagi
2
Suami toxic
3
Aku lelah
4
Kedatangan ibu mertua
5
Apa artinya aku
6
Mulai mengambil alih
7
Seperti pengemis
8
Selalu salah
9
Gantian
10
Shock terapi ibu mertua
11
Biarkan saja atau dia melunjak
12
Membalikkan keadaan
13
Gara-gara siomay
14
Pendapat ibu mertua
15
Membawa pulang suamiku
16
Berjuang bersama
17
Selalu salah dimata ibu
18
Ini kan rumahku!
19
Bukan pelet tapi hidayah
20
Kedatangan Lisa
21
Rencana yang di ketahui
22
Tanpa menawarkan
23
Hatiku sakit
24
Kesalku mendatangkan hikmah
25
Usaha baru
26
Permintaan ibu
27
Kenapa aku harus hamil?
28
Sungguh berat
29
Melepaskan kepergian mas Angga
30
Ide baru jualan
31
Aku bukan pembantu
32
Kelakuan ibu
33
Perasaanku tidak enak
34
Gosip tajam
35
Lisa akan menikah
36
Kebanggaan terbesar ibu
37
Pernikahan Lisa dan Rusli
38
Kecemasan mas Angga
39
Tidak ada kabar
40
Wanita yang memesan kue ku
41
Istri pertama Rusli?
42
Akhirnya aku tahu
43
Jeritan memilukan
44
Demi anak-anakku
45
Kecemasan ibu mertua
46
Hidup sesuai kemampuan
47
Mari bercerai
48
Aku tidak egois
49
Aku harus tetap hidup
50
Mimpi
51
Merasa paling tersakiti
52
Rayuan Siska
53
Karma Lisa
54
Penggerebekan viral
55
Dihampiri karma
56
Roda berputar
57
Pertengkaran Angga dan Siska
58
Tidak akan berubah
59
Talak untuk Siska
60
Bertemu Chen
61
Chen Vs Angga
62
Dan ternyata...
63
Kenzi Liang Chen
64
Menolak lamaran Chen
65
Aku terima
66
Kebahagiaan Tari, penyesalan Angga
67
Nomor tak dikenal
68
I love you, honey
69
Adik angkat Ken
70
Pulang mendadak
71
Beda pendapat
72
Keputusan Huan
73
Apa dia jodoh Huan?
74
Hari pertama di pesantren
75
Takdir yang tidak bisa diubah
76
Bab 77
77
Bab 78
78
Bab 79
79
Bab 80
80
Bab 81
81
Bab 82
82
Bab 83
83
Bab 84
84
Bab 85
85
Bab 86
86
Bab 87
87
Bab 88
88
Bab 89
89
Bab 90
90
Bab 91
91
Bab 92
92
Bab 93
93
Bab 94
94
Bab 95
95
Bab 96
96
Bab 97
97
Bab 98
98
Bab 99
99
Bab 100
100
Bab 101
101
Bab 102
102
Bab 103
103
Bab 104
104
Bab 105
105
Bab 106
106
Bab 107
107
Bab 108
108
Bab 109
109
Bab 110
110
Bab 111
111
Bab 112
112
Bab 113
113
Bab 114
114
Bab 115
115
The end

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!