Suami toxic

Aku mengeluarkan semua isi perutku, morning sickness benar-benar menyiksaku. Memang ini biasa di alami oleh ibu hamil, tapi cukup berat karena sampai mengganggu rutinitas yang biasa aku lakukan. 

Di sinilah aku berada, di dalam kamar mandi dan terus saja muntah. Andai saja hal ini bisa di pindahkan kepada suamiku agar dia lebih menghargai perjuanganku yang sebenarnya lebih sulit di bandingkan dia. Ikut perintah darinya malah kesundulan, aku mulai berpikir apakah sanggup menjaga ketiga anakku nanti. 

Aku mendengar suara tangisan anak sulungku yang terbangun dari tidurnya, aku yang masih sangat lemas berusaha menuju kesana. Namun aku di kejutkan dengan pemandangan yang sangat tidak aku bayangkan, melihat anak pertamaku yang tergeletak di lantai. 

"Raja." Aku berlari sekuat tenaga, menggendong anak sulungku. Dengan cepat aku memeluknya dan memberikan rasa nyaman, ku lihat kepalanya bengkak karena jatuh dari atas tempat tidur. 

Ku pandangi mas Angga yang senyam-senyum melihat layar ponselnya, aku semakin geram karena dia tak memiliki tanggung jawab pada anaknya sendiri. Aku merampas ponsel dari tangannya dan menatapnya penuh amarah, bisa-bisanya dia bermain ponsel tanpa memperhatikan anaknya sendiri dan yang lebih parah tak membantu. 

"Kamu apa-apaan sih, sini ponselku." 

"Ponsel ini." Aku mengangkat ponsel tanpa melihat isinya, langsung ku lempar ke lantai hingga layarnya pecah tak berbentuk.

"Tari." Pekiknya meninggikan suara, menatapku seperti ingin membunuhku. 

"Karena ponsel itu kamu lalai menjaga anak, Raja ada di sebelah kamu tapi kenapa tidak di perhatikan. Lihat! lihat kepalanya yang bengkak," balasku tak kalah sengitnya memarahi suami yang tak berguna itu. 

"Ponsel itu aku beli mahal, tapi kamu malah merusak hanya karena masalah sepele. Anakmu saja yang lasak, tidak bisa diam dan terlalu aktif." 

"Jadi ponsel itu lebih berharga, begitu? Kalau kamu belum siap menjadi ayah yang baik setidaknya jangan minta aku untuk tidak ber-KB, sekarang lihat apa yang terjadi." Pekikku yang sangat marah, tangisan Raja semakin keras mendengar suara kami yang bertengkar. 

Aku tak habis pikir bagaimana pikiran suamiku yang seenaknya, aku capek … aku sangat lelah dan butuh hiburan. Paling tidak mas Adam mengerti dan mau menolongku merawat anak-anak, apalagi sekarang aku selalu mengalami morning sickness. 

"Aku mengumpulkan uang beberapa bulan baru bisa beli ponsel baru, tapi kamu dengan mudahnya melemparkannya ke atas lantai. Lihat, LCD nya pecah. Mahal memperbaiki LCD."

"Aku lagi mabuk karena hamil tapi kamu tidak ada empati sedikitpun, Raja dan Ratu bukan anakku aja tapi anak kamu, Mas."

"Itukan tugasmu sebagai seorang ibu, mengapa libatkan aku." 

Aku menarik nafas dalam dan mengeluarkannya secara kasar, menahan diri untuk tidak emosi hingga aku bisa kapan saja kehilangan kendali. "Kamu kira aku ini induk kucing? Semuanya aku, dan kamu? Sepulang bekerja kamu malah ngumpul dengan kawan-kawan mu yang tidak jelas itu, pulang dari sana kamu berpaku dengan layar ponsel." 

"Itu hiburanku selepas pulang bekerja, lagi pula aku bekerja untuk memenuhi kebutuhan kita dan anak-anak." 

Aku menatap mas Angga dengan rasa amarah memuncak, sambil mengambil kain yang hangat dan menempelkannya di kepala Raja yang bengkak. 

"Hiburan kok setiap hari, aku bahkan bekerja dua puluh empat jam dalam sehari. Bahkan makan ku tidak teratur dan juga sering begadang, kamu sebut itu apa Mas?" tanyaku sembari meletakkan Raja ke atas tempat tidur dan meletakkan pengaman di sekeliling agar hal yang buruk tadi tidak terjadi lagi. 

Aku menarik tangan mas Angga keluar dari kamar agar kedua anakku yang sedang tertidur itu tidak terganggu suara bising yang kami ciptakan. 

"Ingat ya Mas, selama ini aku diam saja dengan permintaanmu yang aneh-aneh itu. Tidak ber-KB, tidak boleh berdandan, tidak boleh memakai deodorant, dan selalu izin kemanapun aku pergi. Setidaknya kamu juga memahami semua tanggung jawabmu sebagai seorang suami, bukan hanya bekerja saja tapi tanggung jawab kepada anak." Ujarku yang mengajarinya. 

"Iya … iya, aku minta maaf." 

Aku bisa bernafas lega mendengar permintaan maaf dari mas Angga yang tidak akan bisa mengalahkanku dalam hal debat, bagaimana tidak? Jika dia berani macam-macam ataupun membuatku kalap, dia aku pastikan keluar dari rumah. Ya, rumah dan semua isinya adalah milikku. Aku menabungnya sedikit demi sedikit saat dulu bekerja menjadi TKW di taiwan selama beberapa tahun dan barulah kami menikah. 

Aku berlalu pergi karena sejatinya menenangkan diri, kondisi kehamilan ketiga membuatku kesulitan melakukan pekerjaan rumah. 

****

Aku menatap suamiku tajam saat aku berada tak jauh darinya untuk menyetrika baju agar terlihat rapi, aku memastikan kalau mas Angga menjaga kedua anaknya. 

Selama ini aku diam saja dan terus bersabar, tapi kesabaran tentu ada batasnya. 

Mual ini sungguh menyiksaku, sudah empat kali aku bolak-balik ke kamar mandi dan memuntahkan seluruh sisa makan di dalam perut. Aku sangat lelah dan wajahku menjadi pucat, hingga aku memutuskan untuk menyudahi menyetrika baju dan tidur. 

"Mas, jaga Raja dan Ratu. Kalau sampai kejadian kemarin terjadi lagi, habis kamu." Ancamku. Entahlah, akupun bingung dengan sikapku yang semakin berani. Apa karena bawaan janin yang ada di dalam rahimku? Apa karena ada hal lainnya yang tidak bisa di sampaikan. 

"Iya."

Aku tertidur satu jam dan kembali membuka mata, aku melihat situasi di ruangan itu dengan seksama, betapa terkejutnya aku melihat kondisi rumah sangat-sangat berantakan dari sebelumnya. 

Aku terkejut melihat mas Angga tertidur sementara kedua anakku masih belum memejamkan mata, darahku semakin mendidih melihat suamiku yang tetap melakukan hal yang sama setelah meminta maaf. 

Aku segera berjalan menuju Ratu dan memberikannya susu formula, sejujurnya aku masih ingin memberikan  ASI untuk anakku, tapi hal itu tidak mungkin jika kondisiku hamil. 

Di saat bersamaan, kedua anakku menangis membuat mas Angga terbangun dari tidurnya. Bukannya membantu ikut menggendong salah satu anak kami, dia malah berjalan keluar. 

Dengan terpaksa aku menenangkan kedua anakku yang menangis secara bersamaan, sementara suamiku malah pergi karena suasana bising mengganggunya. 

Angga memutuskan untuk menongkrong karena kepalanya sangat pusing mendengar kedua anaknya yang menangis. 

"Kamu kenapa sih?" 

"Kedua anakku menangis secara bersamaan, makanya aku pergi dari rumah. Lebih tepatnya mencari kedamaian dengan nongkrong bersama kalian."

"Parah kamu, sudah tahu anak nangis bukannya menenangkan agar tidak menangis lagi, tapi kamu malah pergi." Ujar salah satu temannya. 

"Ya, itukan tugasnya Tari, dia ibunya." 

Ketiga temannya yang ada di tempat itu hanya menggelengkan kepala. 

"Eh, btw bentar lagi aku punya anak ketiga. Tokcer gak tuh!" 

"Tari hamil? Yang benar aja kamu." 

"Seriuslah, masa aku bohong." 

"Aku malah kasihan sama Tari, bisa-bisanya kamu melarang dia KB. Anak kamu aja masih kecil-kecil begitu, hati-hati kamu jangan sampai menyesal." 

Terpopuler

Comments

Cecilia Gracemargaretha

Cecilia Gracemargaretha

tadi katanya mas Adam,loh kok ini tiba2 nya mas angga.yg bener namanya siapa sih,bingung anjay🤦‍♀️😣😭😭

2023-09-04

0

😘Mrs. Hen😘

😘Mrs. Hen😘

keterlaluan banget si angga..anaknya nangis malah ditinggal pergi....

2023-06-01

1

lihat semua
Episodes
1 Hamil lagi
2 Suami toxic
3 Aku lelah
4 Kedatangan ibu mertua
5 Apa artinya aku
6 Mulai mengambil alih
7 Seperti pengemis
8 Selalu salah
9 Gantian
10 Shock terapi ibu mertua
11 Biarkan saja atau dia melunjak
12 Membalikkan keadaan
13 Gara-gara siomay
14 Pendapat ibu mertua
15 Membawa pulang suamiku
16 Berjuang bersama
17 Selalu salah dimata ibu
18 Ini kan rumahku!
19 Bukan pelet tapi hidayah
20 Kedatangan Lisa
21 Rencana yang di ketahui
22 Tanpa menawarkan
23 Hatiku sakit
24 Kesalku mendatangkan hikmah
25 Usaha baru
26 Permintaan ibu
27 Kenapa aku harus hamil?
28 Sungguh berat
29 Melepaskan kepergian mas Angga
30 Ide baru jualan
31 Aku bukan pembantu
32 Kelakuan ibu
33 Perasaanku tidak enak
34 Gosip tajam
35 Lisa akan menikah
36 Kebanggaan terbesar ibu
37 Pernikahan Lisa dan Rusli
38 Kecemasan mas Angga
39 Tidak ada kabar
40 Wanita yang memesan kue ku
41 Istri pertama Rusli?
42 Akhirnya aku tahu
43 Jeritan memilukan
44 Demi anak-anakku
45 Kecemasan ibu mertua
46 Hidup sesuai kemampuan
47 Mari bercerai
48 Aku tidak egois
49 Aku harus tetap hidup
50 Mimpi
51 Merasa paling tersakiti
52 Rayuan Siska
53 Karma Lisa
54 Penggerebekan viral
55 Dihampiri karma
56 Roda berputar
57 Pertengkaran Angga dan Siska
58 Tidak akan berubah
59 Talak untuk Siska
60 Bertemu Chen
61 Chen Vs Angga
62 Dan ternyata...
63 Kenzi Liang Chen
64 Menolak lamaran Chen
65 Aku terima
66 Kebahagiaan Tari, penyesalan Angga
67 Nomor tak dikenal
68 I love you, honey
69 Adik angkat Ken
70 Pulang mendadak
71 Beda pendapat
72 Keputusan Huan
73 Apa dia jodoh Huan?
74 Hari pertama di pesantren
75 Takdir yang tidak bisa diubah
76 Bab 77
77 Bab 78
78 Bab 79
79 Bab 80
80 Bab 81
81 Bab 82
82 Bab 83
83 Bab 84
84 Bab 85
85 Bab 86
86 Bab 87
87 Bab 88
88 Bab 89
89 Bab 90
90 Bab 91
91 Bab 92
92 Bab 93
93 Bab 94
94 Bab 95
95 Bab 96
96 Bab 97
97 Bab 98
98 Bab 99
99 Bab 100
100 Bab 101
101 Bab 102
102 Bab 103
103 Bab 104
104 Bab 105
105 Bab 106
106 Bab 107
107 Bab 108
108 Bab 109
109 Bab 110
110 Bab 111
111 Bab 112
112 Bab 113
113 Bab 114
114 Bab 115
115 The end
Episodes

Updated 115 Episodes

1
Hamil lagi
2
Suami toxic
3
Aku lelah
4
Kedatangan ibu mertua
5
Apa artinya aku
6
Mulai mengambil alih
7
Seperti pengemis
8
Selalu salah
9
Gantian
10
Shock terapi ibu mertua
11
Biarkan saja atau dia melunjak
12
Membalikkan keadaan
13
Gara-gara siomay
14
Pendapat ibu mertua
15
Membawa pulang suamiku
16
Berjuang bersama
17
Selalu salah dimata ibu
18
Ini kan rumahku!
19
Bukan pelet tapi hidayah
20
Kedatangan Lisa
21
Rencana yang di ketahui
22
Tanpa menawarkan
23
Hatiku sakit
24
Kesalku mendatangkan hikmah
25
Usaha baru
26
Permintaan ibu
27
Kenapa aku harus hamil?
28
Sungguh berat
29
Melepaskan kepergian mas Angga
30
Ide baru jualan
31
Aku bukan pembantu
32
Kelakuan ibu
33
Perasaanku tidak enak
34
Gosip tajam
35
Lisa akan menikah
36
Kebanggaan terbesar ibu
37
Pernikahan Lisa dan Rusli
38
Kecemasan mas Angga
39
Tidak ada kabar
40
Wanita yang memesan kue ku
41
Istri pertama Rusli?
42
Akhirnya aku tahu
43
Jeritan memilukan
44
Demi anak-anakku
45
Kecemasan ibu mertua
46
Hidup sesuai kemampuan
47
Mari bercerai
48
Aku tidak egois
49
Aku harus tetap hidup
50
Mimpi
51
Merasa paling tersakiti
52
Rayuan Siska
53
Karma Lisa
54
Penggerebekan viral
55
Dihampiri karma
56
Roda berputar
57
Pertengkaran Angga dan Siska
58
Tidak akan berubah
59
Talak untuk Siska
60
Bertemu Chen
61
Chen Vs Angga
62
Dan ternyata...
63
Kenzi Liang Chen
64
Menolak lamaran Chen
65
Aku terima
66
Kebahagiaan Tari, penyesalan Angga
67
Nomor tak dikenal
68
I love you, honey
69
Adik angkat Ken
70
Pulang mendadak
71
Beda pendapat
72
Keputusan Huan
73
Apa dia jodoh Huan?
74
Hari pertama di pesantren
75
Takdir yang tidak bisa diubah
76
Bab 77
77
Bab 78
78
Bab 79
79
Bab 80
80
Bab 81
81
Bab 82
82
Bab 83
83
Bab 84
84
Bab 85
85
Bab 86
86
Bab 87
87
Bab 88
88
Bab 89
89
Bab 90
90
Bab 91
91
Bab 92
92
Bab 93
93
Bab 94
94
Bab 95
95
Bab 96
96
Bab 97
97
Bab 98
98
Bab 99
99
Bab 100
100
Bab 101
101
Bab 102
102
Bab 103
103
Bab 104
104
Bab 105
105
Bab 106
106
Bab 107
107
Bab 108
108
Bab 109
109
Bab 110
110
Bab 111
111
Bab 112
112
Bab 113
113
Bab 114
114
Bab 115
115
The end

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!