Hari Sabtu telah tiba, sekitar pukul 10 Zayn sudah menjemput Flora di rumahnya. Pakaian yang Flora terbilang sangat simpel. Celana Jeans, tee berwarna putih serta cardigan berwarna brown. Flora juga mengenakan boots putih dan rambutnya digerai begitu saja. Walau make up yang dia poles di wajahnya begitu tipis tapi aura yang terpancar di wajahnya begitu terlihat indah. Flora sangat cantik dan manis. Zayn sempat mengobrol sebentar dengan Papa dan Mama Flora sebelum ijin mengajak anak mereka untuk ke perpustakaan umum. Stefan sendiri belum menampakkan batang hidungnya, bahkan dia tidak ikut sarapan karena semalaman dia hangout bersama teman-temannya.
“Hati-hati ya, pulangnya jangan terlalu sore” pesan Rina saat mengantar anak dan teman anaknya tersebut menuju pintu rumah.
“Iya , Ma” Flora mencium punggung tangan Rina begitu juga Zayn lalu mereka masuk ke dalam mobil milik Zayn.
“Pakai sabuk pengamannya” ucap Zayn saat mereka sudah berada di dalam mobil. Flora menganggukkan kepala lalu memakai sabuk pengaman tersebut. Jujur Zayn saat ini begitu gugup. Walau bukan kencan tapi Zayn merasa kalau ini adalah kencan pertama mereka. Untuk mengusir kegugupan dan rasa canggung, Zayn sengaja menyalakan pemutar music. Alunan music dan suara sang penyanyi membuat Zayn bisa sedikit lebih tenang.
“Kakakmu tidak kelihatan tadi?” ucap Zayn memulai obrolan. Flora yang dari tadi memandang keluar jendela menoleh pada Zayn.
“Iya, Kakak kemarin pergi sampai malam. Nanti juga sorenya mereka akan kumpul di rumah. Kakak tidak ikut?”.
Zayn menggelengkan kepalanya.
“Tidak, Mario sih ngajakin. Cuma aku mau ngerjain tugas dulu. Waktunya sudah mepet” jawab Zayn beralasan. Dia lebih baik tidak kumpul dengan teman-temannya daripada melewatkan kesempatan untuk dekat dengan Flora.
“Iya benar kak, selesaikan tugas dulu baru main-main” ucap Flora menimpali.
Kurang lebih 30 menit akhirnya mereka tiba di perpustakaan umum. Zayn dan Flora mulai mencari beberapa buku untuk keperluan tugas yang harus Zayn kerjakan. Selama mengerjakan tugas lagi Zayn dibuat heran karena wawasan yang Flora miliki jauh di depannya.
“Aku tidak menyangka kamu sepintar ini” ucap Zayn kagum.
“Bukan pintar, hanya saja aku tau lebih dulu. Aku suka membaca” ucap Flora beralasan. padahal sejujurnya dia tidak terlalu suka membaca. Semua ilmu yang dia dapat tentu atas bimbingan dari Liam. Terus saja setiap mengingat Liam wajah Flora akan berubah sendu.
“Kamu kenapa?” tanya Zayn khawatir. Ini kali pertama dia melihat raut wajah Flora yang seperti ini. Flora tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya.
“Nggak apa-apa kok kak, “ jawab Flora. Tidak mungkin kan dia mengatakan kalau merindukan Liam?.
Saking cintanya dia dengan Liam, Flora sampai tidak mau bertemu dengan Liam lagi. Flora tidak ingin sakit hati. Flora tidak ingin kisah cintanya dengan Liam berakhir dengan perpisahan seperti dulu.
“Kak… Apa kakak bisa mengantarku ke panti asuhan xx?” tanya Flora tiba-tiba. Flora ingin bertemu dengan wujud dirinya sendiri. Siapa tau dia bisa menasehati Flora untuk mengurangi mengkonsumsi makanan instan. Flora juga ingin menjadi donatur yang tidak hanya akan menyumbangkan mie instan, tapi makanan bergizi lainnya.
“Panti Asuhan? Kenapa tiba-tiba?” tanya Zayn terheran. Dia yakin ada sesuatu yang Flora sembunyikan.
“Aku ingin menjadi donatur” jawab Flora. Hati Zayn terketuk mendengar jawaban Flora. Dia sama sekali tidak menyangka kalau orang seperti Flora sudah berpikiran jauh kesana.
“Baiklah, nanti selesai ini kita langsung kesana ya” ucap Zayn menyanggupi.
Kurang lebih satu jam kemudian, mereka pun selesai dan segera menuju Panti. Flora juga mampir untuk membeli beras dan juga telur. Zayn semakin kagum dengan sosok Flora. Menurutnya Flora adalah berlian yang harus dia jaga.
“Siapapun yang mendapatkanmu pasti akan sangat beruntung” gumam Zayn dalam hati.
“Ada lagi?” tanya Zayn pada Flora yang sudah meletakkan banyak belanjaan di troli miliknya.
“Sudah cukup kak” jawab Flora tersenyum. Zayn pun menganggukkan kepala.
“Aku masih tidak menyangka kalau orang sepertimu sudah memiliki jiwa sosial yang tinggi seperti ini. Aku sangat salut padamu” ucap Zayn tulus.
“Jangan memuji berlebihan kak, tidak baik. Apalagi aku hanya manusia biasa. Tidak bagus terlalu memuji seorang manusia karena ketika dia tidak seperti yang kita harapkan maka kita akan begitu kecewa” ucap Flora yang lagi-lagi membuat Zayn terkejut. Kata-kata Flora seperti seseorang yang sedang patah hati.
“Kamu sangat dewasa. Pemikiranmu jauh di depanku. Sepertinya kamu lebih cocok menjadi senior daripada junior ku” ucap Zayn menimpali.
Flora tersenyum.
“Tapi wajahku apa juga cocok menjadi senior kakak?” tanya Flora dengan terkekeh.
Zayn pun ikut terkekeh.
“Tentu tidak, kamu terlihat sesuai usiamu. Cantik dan manis” jawab Zayn dengan berani. Flora hanya tersenyum tidak merespon lagi.
….
Kurang dari 20 Menit Zayn dan Flora sudah tiba di panti asuhan. Zayn membantu Flora membawa sembako yang tadi mereka beli. Petugas di sana melihat kedatangan kedua anak muda itu dan membantu membawa barang-barang tersebut ke dalam. Flora mengenali petugas itu, namanya Pak Wawan. Flora sudah menganggap Pak Wawan seperti orang tuanya sendiri. Tapi sayang sekarang Flora harus berpura-pura tidak mengenali pria paruh baya tersebut. Setelah barang-barang sudah dibawa ke dalam, Flora pun mencium punggung tangan Pak Wawan.
“Saya Anya, Pak” ucapnya memperkenalkan diri. Pak Wawan dan Zayn tentu terkejut atas apa yang Flora lakukan. Tapi Zayn kemudian melakukan hal yang sama. Memang harus seperti itu ketika bertemu orang yang lebih tua.
“Mari masuk, nak” ucap Pak Wawan mempersilahkan kedua tamu tersebut.
Sampai di dalam mereka sudah disambut oleh Ibu Panti yang usianya sudah tidak muda lagi. Ibu Meli, Ibu yang sudah membesarkan Flora dengan penuh cinta kasih. Flora ingin menangis dan memeluk Ibu yang sudah membesarkannya itu tapi sayangnya dia tidak bisa melakukan itu. Yang bisa Flora lakukan hanya mencium punggung tangan Meli seperti yang dia lakukan pada Wawan tadi.
Percayalah saat ini Flora sedang bersusah payah menahan laju air matanya. Dia merindukan suasana panti dan juga teman-temannya.
“Kedatangan saya kesini ingin menjadi donatur tetap di panti ini , Bu” ucap Flora menjelaskan maksud dan tujuannya datang ke panti ini. Meli pun menyambut hangat kedatangan Flora dan juga Zayn. Mereka banyak berbincang hingga akhirnya Flora pun menanyakan tentang dirinya.
“Bu, bolehkah saya bertanya?” tanya Flora.
“Tentu nak, apa yang ingin kamu tanyakan?” ucap Meli menjawab pertanyaan Flora.
“Beberapa hari lalu aku bertemu gadis cantik, kalau tidak salah namanya Flora. Apa aku bisa bertemu dengannya?”.
Meli mengerutkan keningnya.
“Flora?” tanya Meli pula. Flora menganggukkan kepalanya.
“Tapi disini tidak ada yang bernama Flora” jawab Meli.
Flora tentu saja terkejut. Bagaimana mungkin dirinya tidak ada di panti tersebut karena sejak dia bisa mengingat dia sudah tumbuh besar di panti tersebut.
“Gadis yang memiliki mata coklat, rambut pirang dan kulit yang putih. Apa tidak ada? kurang lebih usianya 16 tahun” jelas Flora.
Meli pun menggelengkan kepala.
“Tidak ada nak, disini semuanya berambut hitam”.
“Kalau Shanty? Apa ada bu?” tanya Flora menanyakan tentang teman sekamarnya.
“Kalau Shanty ada, tapi dia sedang membeli keperluan panti dengan Bu Wina. Kamu tau Shanty?”.
Flora pun menganggukkan kepalanya.
“Tapi kenapa aku bisa tidak ada?” tanyanya dalam hati. Flora dibuat bingung dengan apa yang terjadi.
Zayn yang dari tadi mendengarkan hanya bisa bertanya-tanya.
“Ada apa sebenarnya?” gumam Zayn dalam hati.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments