Dari dalam kamar yang Liam dan Flora sewa, suara ombak yang menghantam karang terdengar dengan begitu jelasnya.
Baik Liam maupun Flora sama sekali tidak terusik dengan suara itu, tapi malah momen ini yang mereka nantikan. Sejak masih pacaran mereka sangat senang menghabiskan waktu di tepi pantai.
Deburan ombak memang salah satu yang mereka berdua sukai.
"Sayang, sebenarnya ada yang aku rahasiakan darimu" ucap Flora yang saat ini masih dipeluk erat oleh suaminya. Sisa-sisa malam panas mereka masih menyisakan letih dan nikmat disaat bersamaan.
Liam dekatkan wajahnya pada sang istri.
"Hmmm...sudah main rahasia-rahasiaan ya sekarang?" ucap Liam sambil mencium gemas pipi istrinya.
Flora terkekeh karena kegelian.
"Sudah...sayang...geli" rengek Flora manja.
"Tidak akan, bilang dulu apa yang kamu rahasiakan!" titah Liam masoh dengan terus mencium gemas seluruh wajah istrinya bahkan sampai ke ceruk leher.
"Stop dulu makanya, baru aku cerita" mohon Flora pula.
Liam menurut, dia menghentikan kegiatan menciumi wajah istrinya tetapi dia tetap menempel pada Flora.
"Sebenarnya aku sudah telat hampir sebulan" jawab Flora malu-malu.
Liam diam sejenak. Kalau sudah telat sebulan berarti kemungkinan usia kandungan Flora sudah memasuki 8 minggu.
"Harusnya bulan lalu aku datang bulan, tapi sampai sekarang belum juga" jawab Flora dengan cengiran.
"Ya ampun sayang... Harusnya dari sebulan lalu kita sudah periksa" Liam hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Aku takut kalau ternyata cuma telat biasa. Karena aku sama sekali tidak ada ngidam. Bukannya orang hamil biasanya mual muntah?"ucap Flora.
"Sudah di test belum?" tanya Liam kemudian.
Flora menggelengkan kepalanya.
Lagi Liam dibuat heran dengan istrinya, biasanya telat sehari dari jadwal mens sudah gatal untuk test kehamilan. Ini sudah lewat sebulan malah anteng-anteng saja.
"Tapi aku sudah beli testpack. Kita test bareng-bareng yuk" ajak Flora dengan tersenyun.
Liam membalas dengan senyuman lalu menggendong istrinya menuju kamar mandi villa.
"Kamu tunggu saja diluar" pinta Flora karena dia tentu saja malu suaminya menemani di dalam kamar mandi. Tapi Liam seolah tuli, dia tetap diam disana.
Flora menghela nafas pelan. Walau malu dia tetap melakukan test kehamilan tersebut.
Mereka berdua menunggu hasil test tersebut dengan begitu deg degannya.
Satu menit dua menit hingga akhirnya hasilnya terlihat dengan begitu jelasnya.
Liam dan Flora saling berpandangan. Mata keduanya sudah berkaca-kaca.
"Selamat sayang" ucap Liam sambil membawa istrinya ke dalam pelukannya.
"Tuhan begitu baik kepada kita, sebentar lagi kita akan menjadi orang tua" ucap Liam pula sambil menghadiahi ciuman di puncak kepala istrinya.
Jangan tanyakan bagaimana perasaan Flora saat ini. Rasanya masih belum menyangka kalau dalan hitungan 3 bulan Tuhan sudah menghadiahkan malaikat kecil di rahimnya. Itu artinya tak lama setelah menikah Flora sudah dipercayakan menjadi seorang Ibu. Bila dihitung usia kandungan Flora sudah menginjak 8 minggu.
"Kita harus segera ke dokter kandungan." Ucap Liam sambil melerai pelukannya.
Flora pun menganggukkan kepalanya.
"Masih terlalu pagi" balas Flora dengan terkekeh.
Liam tersenyum.
"Kita istirahat lagi sebentar, jam 9 kita ke dokter ya". Liam kembali menggendong istrinya menuju ranjang mereka.
"Apa tidak apa selama ini aku selalu keluar di dalam?" Liam baru sadar kalau selama ini dia tidak pernah absen ber cin ta dengan istrinya.
"Kenapa aku bisa tidak sadar?" gumam Liam dalam hati.
"Semoga anak kita baik-baik saja" jawab Flora sambil mengelus perutnya yang memang masih rata itu.
Liam pun ikut mengelus-elus perut istrinya, dia berharap istri dan anaknya dilimpahkan kesehatan dan kebahagiaan.
...
“Kamu dengarkan apa kata dokter tadi? Tidak boleh terlalu capek, harus makan makanan bergizi. Kurangi makanan pedas apalagi yang instan instan itu. Mengerti kan sayang?” Liam berkata lembut sambil mengelus perut istrinya.
Flora memang memiliki kebiasaan makan yang kurang baik. Selama dua puluh tahun tinggal di Panti Asuhan tentu dia harus bisa menyesuaikan makanan yang disediakan disana. Banyak donatur yang menyumbangkan telur, mie instan dan makanan instan lainnya. Hal itu tentu saja menjadi kebiasaan makan Flora selama ini. Mie instan adalah makanan yang dulu sebelum bekerja menjadi makanan yang hampir setiap hari dia makan dan tentu Liam tidak menyukai itu.
“Iya sayang, bukankah semenjak menikah aku sudah sangat jarang memakan makanan instan?” jawab Flora dengan pertanyaan.
“Iya tapi makanan pedas kamu masih sering sayang, kurangi ya” Liam benar-benar memohon karena tidak ingin terjadi sesuatu pada istri dan calon anaknya.
“Iya pasti sayangku” ucap Flora gemas.
Mereka saat ini sudah kembali ke rumah walau masih ada satu hari jatah menginap di villa yang mereka sewa. Begitu mengetahui kalau istrinya benar-benar hamil, Liam langsung mengajak Flora check out di Villa dan menuju rumah. Liam sudah tidak sabar memberitahu kedua orang tuanya. Maklum Liam adalah anak pertama dan kedua orang tuanya sudah begitu ingin menimang cucu.
“Sayang Mama dan papa lagi di luar kota, mereka pasti senang sekali mendengar kalau kamu hamil”.
“Kenapa tidak kamu telfon saja ?” tanya Flora sambil mengerutkan keningnya. Mereka sampai langsung kembali padahal ada media telekomunikasi untuk menghubungi kedua orang tua mereka.
Liam menggelengkan kepalanya.
“Mereka ke luar kota pasti ada tujuan penting, aku yakin kalau aku beritahukan hal ini sekarang, mereka akan langsung pulang dan aku tidak ingin hal itu terjadi” jelas Liam.
Flora pun mengangguk paham. Pantas saja Liam memilih langsung pulang, bila dia mengabari lewat telepon pasti kedua orang tuanya akan menyusul ke villa.
“Kamu ingin sesuatu? Bukankah biasanya Ibu hamil sering begitu?” tanya Liam perhatian.
Flora menggelengkan kepala.
“Aku tidak ingin apa-apa” jawab Flora sambil tersenyum.
“Kita makan siang saja dulu yuk, sebentar lagi jam dua belas.” ajak Liam kemudian.
“Belum lapar sayang” rengek Flora manja. Tadi sepulang dari rumah sakit mereka sempat mampir membeli kue dan Flora habis beberapa potong. Alhasil dia belum lapar sekarang.
“Sedikit saja ya, kamu perlu protein bukan hanya karbohidrat” Liam sedikit memohon dan tentu saja Flora jadi tidak tega. Walau perutnya masih terasa penuh Flora pun terpaksa memakan makanan yang dibuatkan asisten rumah tangga mereka. Tadi Liam sudah request dibuatkan bening bayam, sambal ati ampela dan ikan goreng sambal tomat. Liam juga melarang penggunaan penyedap rasa dan cabe yang terlalu banyak sesuai anjuran dokter tadi.
Lidah Flora yang termasuk kategori anak micin tentu sangat susah menelan makanan yang kurang enak tersebut. Tapi lagi-lagi demi menjaga perasaan Liam, Flora sangat berusaha memakan makanan tersebut.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments
nanny
lanjut 💪
2023-05-07
2