Hari demi hari berlalu. Wajah Flora masih diselimuti kesedihan. Dia masih belum bisa ikhlas menerima kenyataan kalau calon anak mereka harus berpulang seperti ini.
"Kenapa sayang?" tanya Liam menghampiri istrinya yang duduk seorang diri di gazebo.
Flora menggelengkan kepalanya.
"Aku hanya sedih" jawab Flora memaksakan tersenyum.
Liam mendudukkan dirinya di sebelah sang istri. Liam belai wajah istrinya yang terlihat begitu pucat itu. Tak dapat Liam tahan lagi air matanya. Dia merasakan begitu sesak.
Kehilangan anak , istri yang mengidap penyakit serius dan sekarang harus menyimpan sendiri rahasia tentang penyakit istrinya. Belum lagi dia harus melihat istrinya yang begitu terpuruk. Hancur sudah perasaan Liam saat ini.
"Kuat Liam...Kamu harus kuat" Liam menyemangati dirinya sendiri di dalam hati.
Liam membawa Flora ke dalam pelukannya.
"Kita harus kuat sayang" ucap Liam menekan rasa sakit hatinya.
Flora begitu merasa bersalah karena untuk pertama kalinya dia melihat Liam seperti ini. Dalam hati Flora bertekad untuk belajar menerima semuanya. Flora tidak ingin Liam bersedih seperti ini.
"Sayang...maafkan aku. Aku akan belajar menerima ini semua" ucap Flora lirih.
Liam semakin mengeratkan pelukannya.
“Sayang…bertahanlah untukku. Aku tidak akan bisa hidup tanpamu” ucap Liam dalam hati.
“Kamu harus kuat ya sayang” ucap Liam lembut sambil mengelus punggung istrinya penuh kasih sayang.
Flora menganggukkan kepalanya di dalam pelukan Liam.
“Aku sudah mencari cuti seminggu, kita jalan-jalan ya.”ucap Liam pula.
Flora kembali menganggukkan kepalanya.
“Flora…kamu harus kuat. Demi Liam. Demi Mama dan Papa” Flora menguatkan dirinya dalam hati.
….
Seperti biasa pasangan suami istri itu memilih berlibur di tepi pantai. Saat ini mereka sedang berjalan di pesisir pantai dengan bertelanjang kaki. Tangan yang saling menggenggam, bibir yang tersenyum tapi tidak dengan mata. Kedua pasang mata itu menyiratkan kesedihan yang begitu mendalam. Liam yang paling sakit disini. Dia harus menyimpan rapat-rapat penyakit yang diderita istrinya dan tetap harus terlihat tegar. Tak henti-hentinya dia berdoa untuk kesembuhan istrinya dan semoga dia juga diberi kekuatan dalam menghadapi ini semua.
“Sayang, kamu jangan bersedih lagi. Aku sudah ikhlas” ucap Flora sambil mengeratkan genggaman tangannya.
Liam tersenyum memandang wajah cantik istrinya kemudian dia menganggukkan kepalanya.
“Sayang…andai kamu tau apa yang aku pendam selama ini. Tapi aku tidak ingin kamu menjadi lemah dan terpuruk” gumam Liam dalam hati.
Flora lepas genggaman tangannya lalu beralih dengan membelai wajah suami tercintanya itu.
“Aku sangat mencintaimu” ucap Flora dengan tersenyum.
“Aku lebih mencintaimu sayang” balas Liam.
“Bagaimana kalau kita kulineran? disini banyak ada penjual kaki lima” ucap Flora yang sudah terlihat semangat.
Liam menggeleng dengan cepat.
“Aku mohon sayang, kamu jangan makan sembarangan. Kamu hanya boleh makan apa yang aku izinkan” ucap Liam penuh mohon. Sorot mata Liam menyiratkan permohonan yang begitu dalam sehingga membuat Flora bertanya-tanya.
Deg
Deg
“Apa sebenarnya yang terjadi padaku?” Flora bertanya dalam hati.
“Aku mohon sayang” Liam kembali mengulang permohonannya karena Flora hanya terdiam.
Pelan Flora pun menganggukkan kepalanya. Flora tidak ingin menambah beban pikiran suaminya. Walau Flora yakin kalau ada yang Liam sembunyikan darinya.
“Kita ke restoran saja ya?” ajak Liam kemudian.
Lagi Flora menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Liam lega karena istrinya tidak memaksa untuk memakan makanan yang tentu sangat tidak boleh Flora konsumsi. Setelah liburan ini Liam harus memikirkan alasan apa yang harus dia gunakan untuk mengajak istrinya berobat tanpa membuat Flora curiga.
Flora bukanlah wanita bodoh, dengan diajak rutin berobat dia pasti sudah bisa menebak kira-kira penyakit apa yang dia derita.
Setelah tiba di restoran, Liam pun yang memilihkan makanan untuk istrinya. Dia bahkan menginstruksikan kepada pelayan apa saja yang tidak boleh ditambahkan pada makanan istrinya.
Flora menghela nafas kasar. Dia semakin yakin kalau dia sedang mengidap penyakit yang serius dan itu juga yang menjadi penyebab meninggalnya calon buah hati mereka.
“Kuat Flora, Demi Liam. Kamu harus bertahan demi Liam” Flora menyemangati dirinya di dalam hati.
Flora tersenyum manis pada Liam berpura-pura tidak tau kalau sebenarnya dia curiga kalau dirinya sedang mengidap penyakit yang serius.
“Aku memesankan jus tanpa gula, tidak apa-apa kan? Dokter melarang mu mengkonsumsi gula agar luka jahitan lebih cepat sembuh” ucap Liam menjelaskan.
Flora pun menganggukkan kepala tanda mengerti.
“Sebenarnya aku sakit apa Liam? Kenapa kamu sampai seperti ini?” gumam Flora dalam hati.
Tak berapa lama pesanan mereka pun tiba.
Makanan dengan rasa yang begitu hambar bagi Flora, tapi dia lagi-lagi harus terbiasa dengan ini semua.
“Tidak enak ya?” tanya Liam yang seolah paham dengan apa yang istrinya rasakan. Karena begitu menyayangi istrinya, Liam pun rela ikut makan makanan seperti apa yang Flora makan. Tanpa gula, garam dan MSG. Flora yang merupakan generasi micin yang hampir setiap hari memakan mie instan yang tinggi natrium kini harus terbiasa makan makanan yang benar-benar tidak memiliki rasa.
Diam-diam Flora bertekad untuk mencari tahu kira-kira penyakit apa yang sebenarnya dia derita.
Selesai makan yang sangat tidak menyenangkan itu, Liam mengajak Flora jalan-jalan di Mall yang letaknya tepat di seberang pantai. Mereka hanya berjalan kaki kurang dari satu menit. Disana Liam memanjakan istrinya dengan membebaskan Flora membeli barang apapun kecuali makanan tentunya.
“Kamu bisa beli apapun yang kamu mau, tas , sepatu, baju, make up atau skincare” ucap Liam sambil tersenyum.
Flora tersenyum manis.
“Terima kasih sayang, tapi aku tidak ingin membeli apapun” ucap Flora yang memang sama sekali tidak ingin berbelanja.
“Kalau begitu biar aku yang pilihkan, aku akan membelikanmu tas yang sering Naina bicarakan” ucap Liam sambil menarik pelan tangan istrinya menuju salah satu toko brand tas ternama.
“Tapi itu sangat mahal sayang”tolak Flora. Dia ingat adik iparnya mengatakan kalau dia membeli tas itu seharga puluhan juta rupiah.
“Aku tidak suka barang mewah seperti itu” lanjutnya. Flora sungguh-sungguh akan hal itu. Dia sedikit pun tidak tertarik memiliki tas dengan merek seperti yang Naina miliki.
Liam mengalah, tidak ingin memaksa lagi karena istrinya memang berbeda dengan sang adik.
“Kita beli kemeja saja yuk.. Untuk mu ke kantor” ucap Flora memberi usul.
Liam menganggukkan kepala, dia dan Flora kemudian menuju toko baju yang biasanya mereka sering kunjungi. Liam membeli beberapa kemeja dan dasi serta tak lupa membelikan Flora 2 set pakaian kerja. Flora memang sudah tidak bekerja lagi, tapi Liam tau kalau istrinya itu sangat suka bekerja. Liam rencananya akan mengajak sang istri ikut bekerja bersamanya. Selain bisa memantau kesehatan istrinya, Liam ingin selalu bersama-sama Flora.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments