“Anya, apa kamu beneran Anya? Ini bukan Anya yang aku kenal. Apa mungkin lupa ingatan bisa merubah karakter seseorang?” ucap Vivi yang belum bisa menerima kalau Anya tidak seperti Anya yang dia kenal.
“Kalau aku bilang aku bukan Anya apa kamu percaya?” jawab Flora dengan pertanyaan.
Vivi malah semakin terkekeh mendengar jawaban Flora. Kehebohan kedua orang itu pun didengar oleh Zayn. Dia cukup terusik karena Vivi terus-terusan tertawa.
Zayn melihat ke arah Flora yang terlihat tenang sambil menikmati jusnya. Bila dulu Anya pasti menghampirinya dan terus-terusan merayu.
“Apa dia masih sakit?” gumam Zayn pelan. Zayn memang mendengar dari temannya kalau Anya kecelakaan dan sempat koma beberapa hari.
Tidak mau terlalu ambil pusing, Zayn pun kembali menyantap makan siangnya.
Beberapa menit kemudian Stefan masuk ke kantin dengan menenteng paper bag yang sepertinya makanan. Stefan mendekati adiknya dan meletakkan paper bag itu di depan Flora.
“Titipan Mama, jangan lupa katanya obatnya diminum” ucap Stefan yang tanpa babibu langsung keluar dari kantin.
“Makasih kak” ucap Flora sedikit berteriak karena Stefan sudah buru-buru keluar padahal Flora belum mengucapkan terima kasih.
“Tumben aku lihat Stefan perhatian padamu, biasanya kalian seperti anjing dan kucing” ucap Vivi yang tidak ada segannya sedikit pun langsung membuka paper bag yang tadi Stefan bawa.
Ada kotak makanan dan juga obat yang harus Flora minum.
“Mama kamu perhatian sekali, Aku jadi iri” ucap Vivi pula.
“Ayo kita makan bersama” ajak Flora pada sahabat yang baru saja dikenalnya itu.
Vivi menggelengkan kepala karena dia memang sudah kenyang dengan makanan yang sudah dia pesan.
Flora membuka kotak makan tersebut. Ada kentang rebus, Salad dan steak yang sudah dipotong-potong.
“Mari makan” ucap Flora sebelum memasukkan makanan tersebut ke dalam mulutnya.
Vivi tertawa kecil. Tidak biasanya Anya mau memakan makanan dari rubah. Anya yang sekarang jauh sekali dengan Anya yang dulu. Anya yang sekarang tidak gengsi sama sekali makan makanan rumah. Kalau dulu boro-boro mau memakan bekal dari rumah, makan makanan discount saja dia tidak mau.
“Kita setiap hari pulang jam 3, kamu bawa bekal terus?” tanya Vivi memastikan.
Flora pun menganggukkan kepalanya. Dari yang beberapa jam Flora mengenal Vivi sepertinya Vivi bukan gadis yang seperti dia bayangkan. Vivi bersahaja dan tidak terkesan sombong. Dia tidak seperti gadis-gadis anak orang kaya yang di film-film. Lalu kenapa Stefan meminta dirinya untuk tidak terlalu dekat dengan Vivi?.
Sungguh awalnya Flora mengira kalau Vivi adalah gadis bossy yang suka memerintah dan apa yang dia inginkan harus dituruti. Tapi ternyata tidak. Vivi normal-normal saja. Sama seperti Flora walau gaya berpakaiannya sedikit terbuka.
Selesai makan kedua gadis itu pun berjalan menuju kelas mereka kembali. Zayn yang juga akan ke kelasnya melirik ke arah Flora yang diam saja padahal mereka berpapasan. Vivi bahkan sampai menahan nafas karena sikap Flora tersebut. Zayn yang biasanya kesal dengan tingkah Anya yang setiap ada kesempatan selalu menempel padanya sekarang tanpa sadar malah merasa ada yang hilang.
Anya memang sudah mengagumi Zayn sejak SMA. Bahkan Anya sengaja kuliah disini agar bisa satu kampus dengan Zayn. Tapi kini Anya malah seperti tidak mengenal Zayn sama sekali.
“Hai Zayn” sapa Vivi karena mereka berjalan beriringan tanpa berucap. Flora yang bahkan lupa wajah Zayn yang tadi ditunjukkan oleh Vivi hanya tersenyum tipis pada Zayn.
Deg.
“Kenapa dia berbeda?” gumam Zayn dalam hati.
“Anya lupa ingatan” ucap Vivi yang seolah mengerti arti tatapan Zayn. Zayn semakin terkejut mendengar berita yang baru saja dia dengar. Dia terdiam dan tanpa sadar Flora dan Vivi sudah pergi menjauh.
“Pantas saja Anya terlihat berbeda” ucap Zayn dalam hati.
Ingin Zayn tidak memikirkan Anya, tapi entah kenapa dia merasa ada yang hilang bila Anya tidak seperti dulu lagi. Begitulah laki-laki, ketika ada yang mendekati dia merasa kesal. Tapi ketika sudah menjauh mereka akan kehilangan.
Zayn kembali memperhatikan Flora yang semakin menjauh. Aura Flora sangat berbeda dan terlihat teduh.
“Cantik” ucap Zayn tanpa sadar. Zayn juga memperhatikan pakaian yang Flora kenakan.
Bibir Zayn tersenyum tipis. Dia sangat suka dengan style berpakaian Flora. Zayn menggelengkan kepalanya karena tersadar sudah mengagumi gadis badung yang dulu sering mengejar-ngejar dirinya.
…..
“Aku sudah bilang kan tadi jangan terlalu dekat dengan Vivi” ucap Stefan saat mereka dalam perjalanan pulang.
“Iya kak, Aku hanya berteman sewajarnya” jawab Flora apa adanya.
“Memangnya Vivi kenapa kak?” tanya Flora pula.
“Dia itu cewek gila, hobby nya teriak-teriak. Selalu mencari sensasi. Bikin ilfeel saja” jawab Stefan.
“Ohhhh…. “ ucap Flora menimpali. Ternyata memang Vivi bukan seperti yang Flora pikirkan. Alasan kakaknya melarang berteman ternyata bukan karena sifat buruk Vivi. Melainkan karena caranya yang mengungkapkan sesuatu dengan apa adanya dan blak blakan.
Beberapa menit kemudian mereka tiba di rumah. Flora menenteng paper bag yang tadi diberikan oleh Stefan. Dia menghampiri Rina dan mencium punggung tangannya.
“Ma… makasih ya makanan nya” ucap Flora sambil menunjukkan paper bagnya.
Rina tersenyum. Dia elus rambut putrinya dengan sayang.
“Iya sama-sama sayang” sahut Rina.
“Besok dan seterusnya aku mau bawa bekal aja ya ma” Ucap Flora manja.
Stefan yang mengekori dibekang langsung tertawa.
“Anak TK” ejeknya lalu mendahului kedua wanita berbeda generasi tersebut.
Flora tidak peduli dengan ejekan Stefan karena yang terpenting buatnya adalah kesehatan. Makanan dari rumah lebih sehat tentu saja.
“Iya sayang, nanti mama akan buatkan bekal yang enak dan sehat tentunya”.
“Makasih ya, Ma” ucap Flora lalu memeluk lengan Rina, sang Mama.
“Ya Tuhan terima kasih karena doa-doa ku akhirnya terkabul. Anakku menjadi semanis ini” ucap Rina dalam hati.
Rina masih terharu karena anaknya kini bisa seperti anak-anak lain yang terlihat menyayangi Ibu mereka.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments