Dunia Baru

Flora sudah diperbolehkan pulang setelah kurang lebih dua minggu di rawat di rumah sakit. Kedua orang tuanya masih mengira kalau dia lupa ingatan. Tidak mungkin juga dia mengatakan kalau dirinya bukan Anya. Mungkin orang-orang akan mengira Flora tidak waras.

"Ini kamar kamu sayang" ucap Rina saat mereka tiba di kamar Anya.

Flora amati kamar itu baik-baik. Kamar yang luas dengan nuansa putih. Anya memang berasal dari keluarga kaya. Hampir sama dengan keluarga Liam.

"Kamu suka kan?" tanya Rina pula.

Flora pun menganggukkan kepalanya. Flora berkeliling seperti anak kecil yang baru saja menemukan mainan baru. Flora dari dulu ingin sekali mempunyai kamar seperti ini. Tapi kenyataan kalau dia yatim piatu membuat Flora tidak pernah berani bermimpi seperti itu. Hingga dia dipertemukan dengan Liam. Dengan Liam, Flora bisa merasakan menjadi nyonya rumah kaya raya walau itu hanya sesaat.

"Kamu istirahat ya, Mama ke kamar dulu" ucap Rina saat dia selesai meletakkan obat-obat Flora di atas nakas.

Lagi Flora menganggukkan kepalanyam Flora baringkan tubuhnya di ranjang empuk bernuansa putih yang mirip seperti ranjang tuan putri di kartun disney.

"Apakah aku akan bertemu Liam?" gumam Flora dalam hati.

Flora sama sekali tidak pernah mencari tau tentang Anya. Dia tidak tau dimana dan bagaimana pertemuan Liam dengan Anya. Yang Flora tau hanya Anya mengkhinati Liam dengan sehabat baik Liam sendiri. Selebihnya Flora tidak tau menau. Flora juga tidak berniat mencari tau kala itu karena Liam terlihat sangat tulus pada dirinya.

"Apakah mereka teman satu kampus? Aku sama sekali tidak tau. Bagaimana kalau aku bertemu dengan Liam lagi?".

Flora akui dia egois, bukan salah Liam yang cepat move on karena kenyataannya Flora telah pergi untuk selama-lamanya. Tapi tetap saja rasanya belum bisa ikhlas melihat Liam menatap penuh cinta pada wanita lain.

"Harusnya aku bahagia karena Liam sudah tidak terpuruk lagi, tapi kenapa aku tetap merasa sakit hati?".

Flora menghela nafas berat. Jujur dia saat ini takut bertemu dengan Liam lagi. Flora bahkan bertekad tidak akan menikah seumur hidupnya. Dia tidak percaya dengan pria manapun. Liam saja yang begitu cinta mati padanya begitu cepat berpaling. Apalagi pria-pria lain yang sudag dipastikan hidung belang.

Tak ada pria yang setia seperti Liam yang pernah Flora kenal, tapi ternyata Liam pun dengan mudah move on. Kurang dari 100 hari dia sudah bisa melepas bayang-bayang Flora.

"Flo... Liam tidak salah. Apa kamu ingin Liam terus-terusan terpuruk? Tidak kan? Kamu harus bisa menerima kenyataan kalau Anyalah yang berhasil membuat Liam bangkit".

Flora menghela nafas berat.

....

"Kamu masih belum ingat apapun?" tanya Stefan pada adiknya. Saat ini mereka sedang berkumpul di meja makan untuk menikmati makan malam.

Flora menggelengkan kepala.

"Nama teman-temanmu? Kamu tidak ingat juga?" tanya Stefan pula.

Flora kembali menggelengkan kepala.

"Ckckckck...itulah hukuman dari gadis urakan seperti kamu, ngebut-ngebutan di jalan. Dasar cewek badung!" omel Stefan pula.

"Stefan...jaga bicaramu. Adikmu masih sakit" tegur Rina lembut tapi tegas.

Stefan hanya mendengus sebal.

"Kenyataannya dia begitu"ucap Stefan bebal.

Rina hanya bisa menghela nafas kasar. Tidak ingin suasa makan menjadi tidak nyaman. Dulu Anya dan Stefan memang terlampau sering adu mulut. Tapi kini setelah kecelakaan Anya yang tidak lain adalah Flora lebih banyak diam dan tidak membalas kata-kata Stefan. Tentu saja karena Flora bukanlah Anya.

Stefan memperhatikan penampilan adiknya yang terlihat sangat berbeda dari biasanya. Kalau dulu Anya akan memakai tanktop dan celana pendek tapi Anya yang sekarang memakai baju kaos dan celana panjang. Jauh sekali dengan Anya yang dulu.

"Ternyata kamu punya juga pakaian seperti itu" ucap Stefan sambil terus memperhatikan penampilan Flora.

Flora pun memperhatikan penampilannya.

"Tidak ada yang salah" batin Flora. Tapi memang tadi dia agak kesulitan memilih pakaian karena pakaian Anya kebanyakan minim bahan dan Flora tidak menyukainya.

"Sudah...sudah makan dulu" ucap Andra menengahi. Selesai makan Flora pun ikut merapikan meja makan dan tentu saja Stefan semakin heran.

"Kamu sudag seperti babu" ejeknya pada sang adik.

"Stefan..." Rina kembali menegur putranya.

Stefan tidak peduli dengan teguran Rina, dia bangkit dan pergi meninggalkan meja makan menuju kamarnya.

"Anya, biar bibi saja yang bereskan. Kamy istirahat saja. Kan baru sembuh" ucap Rina lembut.

Flora menurut. Dia menghentikan acara berberesnya.

"Ma, bolehkah aku membeli beberapa pakaian? Aku tidak suka pakaian Anya" ucap Flora terus terang.

Kata aku tidak suka pakaian Anya membuat Rina bingung tapi dia maklum.

"Mungkin dia masih belum sadar kalau dia adalah Anya" ucap Rina dalam hati.

"Iya sayang, besok kita ke butik langganan mama ya. Mama juga akan membeli beberapa pakaian" ucap Rina setuju.

Flora merasa senang. Kalau tadi Stefan tidak mengomentari penampilannya mungkin Flora tidak akan kepikiran untuk membeli baju.

"Terima kasih Ma" ucap Flora sambil memeluk Rina.

Rina terharu karena dulu Anya tidak pernah seperti ini padanya.

"Aku ke kamar ya, Ma.. Pa" pamit Flora pada orang tuanya lalu dengan tersenyum Flora berjalan menuju kamarnya.

Rina dan Andra saling berpandangan.

"Anak kita manis sekali sekarang" ucap Rina terharu. Andra pun berpendapat sama.

"Kamu benar, semoga seterusnya Anya seperti itu" ucap Andra menimpali.

Di dalam kamarnya, Stefan menekuk wajahnya.

"Anya kampungan sekali sekarang. Aneh pula cara berpakaiannya" ucap Stefan sambil geleng-geleng kepala.

"Tidak asyik ...tidak ada yang aku ajak adu mulut lagi" lanjutnya.

Dulu Stefan sengaja bertengkar dengan Anya dan membuat Anya kesal agar orang tuanya melerai dan meberikan apapun yang Stefan inginkan asal dirinya mau berbaikan dengan Anya. Tapi Anya yang sekarang malah lebih banyak diam dan tidak peduli sama sekali dengan apa yang sudah Stefan ucapkan.

"Anya sialan...." umpatnya kesal.

"Padahal aku ingin membeli ponsel keluaran baru".

"Bagaimana caranya agar Papa mau memberikan ku uang?" Stefan mulai memikirkan strategi agar bisa memeras orang tuanya.

Bersambung...

Episodes
1 Pelabuhan Terakhir
2 Kabar Bahagia
3 Pindah
4 Kehilangan
5 Hambar
6 Mencari Tahu
7 Semakin Parah
8 Kehilangan
9 Bangkit Liam
10 Ikhlas
11 Lahir kembali
12 Dunia Baru
13 Shopping
14 Dia Bukan Anya
15 Bekal
16 Ada Yang Hilang
17 Ingin Dekat
18 Mendekati
19 Diluar Dugaan
20 Panti Asuhan
21 Tatapan Penuh Cinta
22 Gamang
23 Sejuta Cara
24 Menghindar
25 Bosan
26 Angel
27 Ikut
28 Curiga
29 Penasaran
30 Heran
31 Maya
32 Tidak Ada
33 Ancaman
34 Andai
35 Sampai Kapan?
36 Menyusun Rencana
37 Fitnah
38 Bukan Kami
39 Bersaing Sehat
40 Pergi
41 Munafik
42 Menyesal
43 Salah Didikan
44 Marvel
45 Dunia Kerja
46 Marah Besar
47 Lalu Siapa?
48 Di rumahkan
49 Bukti
50 Siapa dia?
51 Siapa ini Anya?
52 Berubah
53 Tak Lagi Sama
54 Asing
55 Alasan
56 Makanan Sampah
57 Itu Liam
58 Ternyata
59 Kembar
60 Aku Flo
61 Kamu Bukan Flo
62 Aku Mohon
63 Aku Kembali
64 Tidak Peduli
65 Kamu siapa ya?
66 Kenapa tidak asing?
67 Tidak Rela
68 Anugerah Terindah
69 Menyetujui
70 Senyum Penuh Arti
71 Aku Serius
72 Tak Saling Kenal
73 Tanda Tanya
74 Bingung
75 Cepatlah Lulus
76 Berburuk Sangka
77 Hanya Tersenyum
78 Harapan
79 Memendam Rasa Sakit
80 Bertemu
81 Sadar
82 Tunda
83 Tidak Ingin Egois
84 Ikhlas
85 Was Was
86 Pernikahan
87 Pindah
88 Lega
89 Pergi Bersama
90 Tega
91 Mungkin
92 Donatur
93 Penyesalan
94 Khawatir
95 Penyesalan
96 Stroke
97 Makan Malam
98 Sudah Terlalu Lama
99 Baru Ada Kesempatan
100 Kejutan
101 Penantian Panjang
Episodes

Updated 101 Episodes

1
Pelabuhan Terakhir
2
Kabar Bahagia
3
Pindah
4
Kehilangan
5
Hambar
6
Mencari Tahu
7
Semakin Parah
8
Kehilangan
9
Bangkit Liam
10
Ikhlas
11
Lahir kembali
12
Dunia Baru
13
Shopping
14
Dia Bukan Anya
15
Bekal
16
Ada Yang Hilang
17
Ingin Dekat
18
Mendekati
19
Diluar Dugaan
20
Panti Asuhan
21
Tatapan Penuh Cinta
22
Gamang
23
Sejuta Cara
24
Menghindar
25
Bosan
26
Angel
27
Ikut
28
Curiga
29
Penasaran
30
Heran
31
Maya
32
Tidak Ada
33
Ancaman
34
Andai
35
Sampai Kapan?
36
Menyusun Rencana
37
Fitnah
38
Bukan Kami
39
Bersaing Sehat
40
Pergi
41
Munafik
42
Menyesal
43
Salah Didikan
44
Marvel
45
Dunia Kerja
46
Marah Besar
47
Lalu Siapa?
48
Di rumahkan
49
Bukti
50
Siapa dia?
51
Siapa ini Anya?
52
Berubah
53
Tak Lagi Sama
54
Asing
55
Alasan
56
Makanan Sampah
57
Itu Liam
58
Ternyata
59
Kembar
60
Aku Flo
61
Kamu Bukan Flo
62
Aku Mohon
63
Aku Kembali
64
Tidak Peduli
65
Kamu siapa ya?
66
Kenapa tidak asing?
67
Tidak Rela
68
Anugerah Terindah
69
Menyetujui
70
Senyum Penuh Arti
71
Aku Serius
72
Tak Saling Kenal
73
Tanda Tanya
74
Bingung
75
Cepatlah Lulus
76
Berburuk Sangka
77
Hanya Tersenyum
78
Harapan
79
Memendam Rasa Sakit
80
Bertemu
81
Sadar
82
Tunda
83
Tidak Ingin Egois
84
Ikhlas
85
Was Was
86
Pernikahan
87
Pindah
88
Lega
89
Pergi Bersama
90
Tega
91
Mungkin
92
Donatur
93
Penyesalan
94
Khawatir
95
Penyesalan
96
Stroke
97
Makan Malam
98
Sudah Terlalu Lama
99
Baru Ada Kesempatan
100
Kejutan
101
Penantian Panjang

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!