Flora mematut dirinya di depan cermin. Hari ini adalah hari pertamanya menjadi mahasiswa kembali. Flora mengenakan kemeja serta midi skirt agar tetap terlihat elegan namun sopan. Flora juga mengenakan sneaker berwarna putih dan tote bag. Rambutnya digerai begitu saja serta tidak lupa dia memoleskan make up tipis di wajahnya.
Flora tersenyum melihat pantulan dirinya di depan cermin tersebut.
“Sudah cantik, ayo kita ke kampus” ucap Flora menyemangati dirinya sendiri. Flora keluar dari kamar dan menuruni tangga. Stefan yang sudah lebih dulu berada di ruang makan semakin heran dengan cara berpakaian adiknya. Tidak pernah dia lihat Anya mengenakan rok yang sepanjang sekarang.
“Ada gunanya juga dia lupa ingatan” batin Stefan.
Andra dan Rina tentu begitu senang karena gaya berpakaian Anya lebih sopan dari sebelum-sebelumnya.
“Pagi Ma, Pa… Kak Stefan” sapa Flora sebelum duduk di sebelah kakaknya.
“Kak?” Stefan membantin. “Sejak kapan dia memanggilku kakak?” batinnya pula.
“Oh iya…dia kan lupa ingatan” Stefan baru teringat akan hal itu.
“Sayang...kamu tidak keberatan kan kalau ke kampus dengan Kakakmu?” tanya Andra pada Flora. Dia belum berani melepas putrinya mengendarai mobil seorang diri. Padahal Flora memang tidak bisa membawa mobil sendiri.
“Iya tidak apa-apa pa, Aku juga tidak bisa membawa mobil sendiri” jawab Flora dengan tersenyum.
Mendengar jawaban adiknya membuat Stefan tidak bisa menahan tawanya.
“Kamu bukan lupa ingatan, tapi kamu itu orang lain” ucap Stefan di sela tawanya.
“Sudah…sudah…cepat habiskan sarapan kalian. Nanti terlambat” tegur sang bunda.
Flora pun tidak membalas kata-kata kakaknya. Dia fokus menikmati sarapan yang telah tersedia di meja makan.
Selesai sarapan Flora pun berpamitan kepada kedua orang tuanya dengan mencium punggung tangan Andra dan Rina secara bergantian. Tapi tidak dengan Stefan, dia langsung saja keluar rumah tanpa berpamitan.
“Mama senang sekali Pa, Anya sangat berubah. Dia menjadi semakin manis dan sopan” ucap Rina senang. Andra pun juga setuju dengan ucapan istrinya.
“Semoga Stefan lambat laun juga bisa sama seperti adiknya” ucap Andra menimpali.
….
“Ini ponselmu. Sudah aku perbaiki” ucap Stefan menyerahkan ponsel adiknya yang berhasil dia perbaiki setelah insiden kecelakaan tunggal yang menimpa Anya beberapa waktu lalu.
Flora menerima ponsel tersebut.
“Terima kasih ya kak” ucap Flora sambil tersenyum manis.
Flora membuka buka ponsel tersebut.
“Teman dekatmu namanya Vivi, tapi aku sarankan jangan berteman dengan cewek badung seperti dia lagi” ucap Stefan menasehati. Flora pun menganggukkan kepalanya. Flora tidak tau bagaimana Anya dulu, tapi satu hal yang bisa dia tangkap adalah Anya hidup begitu bebas dan tidak ada yang mengawasi. Flora tidak tau dimana letak kesalahannya karena menurut dirinya Andra dan Rina begitu baik dan perhatian.
20 Menit kemudian mereka sudah sampai di halaman kampus. Stefan pun mengantar adiknya ke kelas. Walau orangnya urakan ternyata dia cukup bertanggung jawab.
Teman-teman sekelas Flora pun tidak tau siapa Flora karena memang ini pertama kalinya mereka bertemu.
“Anya… “ Vivi yang katanya sahabat baik Anya pun berteriak senang melihat sahabatnya sudah bisa bersekolah kembali. Vivi mendekat dan duduk disebelah Flora
Flora hanya tersenyum.
“Bagaimana keadaan kamu? Aku sangat khawatir” ucap Vivi yang sepertinya tulus.
“Aku sudah sehat, terima kasih ya perhatiannya” ucap Flora menimpali.
“Siapa namamu?” tanya Flora pada Vivi.
Vivi membulatkan matanya. Dia meminta penjelasan pada Stefan yang masih berdiri disana.
“Dia lupa ingatan” jelas Stefan.
Vivi terkejut tentu saja.
“Ya Tuhan… sampai kapan?” tanya Vivi pula.
“Aku tidak tau” jawab Stefan cuek.
“Aku tinggal ya” ucap Stefan pada adiknya.
“Iya kak, terima kasih sudah mengantar” ucap Flora dengan tersenyum manis.
Vivi memjit pelipisnya yang tiba-tiba pening. Berita ini membuat dia sangat syok. Pertama kabar kalau Anya lupa ingatan dan sekarang sikapnya pada Stefan yang berubah manis. Sungguh Vivi tidak menyangka hal ini bisa terjadi.
“Aku tidak menyangka kamu bisa berkata sopan seperti itu pada Kakakmu” ucap Vivi yang tidak bisa menutupi keterkejutannya.
Flora hanya tersenyum saja tidak menimpali. Dia juga ingat pesan Stefan untuk tidak terlalu dekat dengan Vivi. Flora perhatikan penampilan Vivi yang memang sedikit terbuka untuk ukuran seorang mahasiswa. Tapi kita tidak bisa menilai seseorang dari penampilannya saja. Bisa saja hanya penampilan Vivi yang begitu tapi hatinya baik.
Vivi banyak bertanya pada Flora, menanyakan tentang siapa saja teman mereka, kemana saja mereka biasanya hangout dan pertanyaan random lainnya. Satupun Flora tidak bisa menjawab karena dia memang bukan Anya.
Vivi menghela nafas berat.
“Kamu berarti juga lupa dengan Zayn?” tanya Vivi pula.
Flora menganggukkan kepalanya cepat. Dia juga sama sekali tidak ingin tau.
“Zayn itu adalah gebetanmu, kamu ngefans berat dengan dia” ucap Vivi menjelaskan.
“Oh….”. Flora hanya ber oh ria. Dia tdak tertarik sama sekali dengan apa yang Vivi tanyakan. Vivi sampai menepuk keningnya melihat reaksi sang sahabat.
“Nanti kita lihat apakah kamu masih tetap seperti ini setelah bertemu dia” ucap Vivi gemas sendiri.
….
“Anya…lihat yang duduk di sana” tunjuk Vivi pada salah satu sudut yang ada di kantin. Flora pun melihat ke arah yang Vivi maksud. Dia bisa melihat seorang pria yang lumayan tampan dengan wajah blasteran sedang duduk seorang diri.
“Dia itu Zayn… Idolamu” ucap Vivi menjelaskan. Flora pun hanya mengangguk sambil lalu. Dia tidak tertarik dengan cinta-cintaan.
“Dia Zayn Anya….” Vivi sampai mengulang perkataannya.
“Iya… terus ?” jawab Flora santai.
“Tidak ada getaran sama sekali?” tanya Vivi pula. Bukankah walau lupa ingatan biasanya getaran cinta masih bisa terasa?.
Flora menggelengkan kepalanya.
“Aku tidak mau membuang waktuku untuk mengagumi manusia. Aku hanya akan mengagumi dan memuji Tuhan” jawab Flora.
Vivi yang awalnya sudah gemas dengan tingkah Flora malah sekarang tertawa terbahak-bahak karena Anya yang ada di depannya sangat berbeda seratus delapan puluh derajat dari yang dia kenal.
Tawa Vivi tentu saja membuat mereka menjadi pusat perhatian. Apalagi keduanya adalah siswi yang cantik.
“Tunggu…apa jangan-jangan kamu ditolak Zayn makanya kamu jadi seperti ini?” tanya Vivi pula.
Flora benar-benar tidak tertarik membahas tentang yang namanya percintaan anak muda. Dia bahkan tidak berkeinginan untuk menikah.
“Aku tidak tau, aku kan lupa ingatan” jawab Flora pula.
“Benar juga ya” Vivi pun terkekeh geli mengingat pertanyaanya.
“Ya sudah tidak usah membahas Zayn, kita makan saja” ucap Vivi pula.
“Kamu mau makan apa? Bakso? Soto? Nasi goreng?” tanya Vivi sambil menyebut menu-menu yang ada di kantin.
Dulu Flora pasti akan sangat senang mendengar makanan itu. Tapi kini dia tidak mau mengulang kesalahan yang sama. Walau dia bukan lagi Flora tapi tetap saja Flora tidak ingin kembali merasakan sakit seperti apa yang dia rasakan dulu.
“Aku mau makan di rumah saja, sekarang aku hanya mau minum jus” jawab Flora.
Entah sudah berapa kali Vivi shock berhadapan dengan Anya yang sekarang.
“Dia bukan Anya” ucap Vivi dalam hati.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments