“Sayang…kalau aku sudah tidak ada kamu harus hidup bahagia ya” ucap Flora sambil menggenggam erat tangan suaminya yang saat ini sudah bercucuran air mata.
“Jangan berkata seperti itu sayang, aku tidak mau kehilanganmu. Aku tidak bisa hidup tanpamu” sesak rasanya dada Liam mendengar kata-kata yang keluar dari mulut istrinya.
“Berjanjilah untuk selalu bahagia. Aku akan selalu ada disisimu walau kamu tidak bisa merasakan kehadiranku” lanjut Flora.
Liam menggelengkan kepalanya.
“Aku tidak akan bisa bahagia bila tidak ada kamu sayang. Jangan tinggalkan aku” Liam langsung membawa Flora ke dalam pelukannya.
“Kamu harus bahagia, kamu pria yang baik. Kamu bisa mendapatkan wanita yang lebih segala-galanya dari aku” ucap Flora pula.
Lagi Liam menggelengkan kepalanya.
“Tidak akan pernah ada yang bisa menggantikan kamu, kamu satu-satunya wanita yang aku cintai”.
……
Hujan turun dengan begitu derasnya, langit seolah mengerti bagaimana perasaan Liam saat ini. Flora telah pergi untuk selama-lamanya. Setelah berbicara cukup panjang dengan Liam, Flora pun menghembuskan nafas terakhirnya dalam pelukan sang suami. Liam langsung berteriak kencang ketika menyadari kalau istrinya telah pergi untuk selama-lamanya.
“Sayang…..jangan tinggalkan aku” Liam berbicara dengan seperti orang gila. Memanggil-manggil istrinya yang sudah membujur kaku.
Naina dan Ray yang baru tiba di ruangan itu tidak bisa berkata-kata. Naina bahkan langsung pingsan ketika melihat Kakak iparnya sudah tidak ada lagi di dunia ini.
“Nay…bangun Nay” ucap Ray yang sudah dengan cepat menangkap tubuh sahabatnya itu. Ray mengguncang-guncang tubuh Naina agar dia segera sadar.
Tak berapa lama dokter dan perawat pun datang mengecek kondisi Flora. Setelah pengecekan menyeluruh sudah dipastikan kalau Flora telah pergi untuk selama-lamanya.
Liam membeku, kepalanya seperti berputar-putar. Kenyataan ini sungguh berat untuknya.
Naina yang sudah sadar langsung memeluk kakaknya yang diam seperti patung itu.
“Kuat kak, kakak harus kuat” Naina menangis sambil memeluk kakaknya. Dalam hitungan detik Liam sudah langsung tidak sadarkan diri.
Kini giliran Naina yang berteriak.
“Kakak…..”.
….
Liam sudah duduk bersimpuh di tempat peristirahatan terakhir istrinya. Dia menangis dengan begitu hebatnya. Tidak peduli orang-orang yang ada disana menertawakannya. Liam sangat tidak peduli dengan hal itu. Disebelahnya Naina setia menemani.
“Kakak harus kuat, Kak Flo sudah tidak sakit lagi kak. Kakak harus kuat dan bertahan. Kakak harus bahagia seperti apa yang Kak Flo katakan terakhir kali” Naina berusaha menguatkan kakaknya yang memang terlihat begitu terpuruk itu. Sampai saat ini Liam masih belum menyangka kalau Flora akan pergi secepat ini.
Liam bergeming. Dia seperti tidak bisa berpikir. Dia seolah berada di tempat yang dia sendiri tidak tau dimana. Pikirannya jauh dan tidak bisa mendengar apa yang orang katakan.
“Sayang… kenapa kamu harus pergi seperti ini? kenapa kamu meninggalkan aku?” Liam berucap begitu lirih.
Mama dan Papa Liam hanya bisa menangis melihat anak pertamanya bersedih seperti itu.
Ray yang juga ada disana hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk semuanya. Dia tidak tega melihat Liam yang seperti orang frustasi.
“Kasihan sekali si Boss. Dia menjadi depresi seperti ini” gumam Ray dalam hati.
Flora yang melihat bagaimana rapuhnya sang suami hanya bisa menangis.
“Sayang…Kamu harus kuat. Kamu tidak boleh seperti ini” Flora sangat tidak tega melihat sang suami begitu terpuruk.
“Aku tidak bisa pergi bila kamu seperti ini sayang, ikhlaskan aku” Flora berjongkok di depan suaminya. Dia belai wajah suaminya penuh kasih sayang.
“Aku sangat mencintaimu. Selamanya akan selalu begitu” ucap Flora lirih. Sayangnya mereka sudah di alam yang berbeda. Flora memang bisa menyentuh Liam tapi suaminya itu tidak bisa merasakannya.
“Aku akan menemanimu selama 100 hari, kamu harus kuat sayang” lanjutnya.
Flora ingat kata-kata Malaikat yang menjemputnya tadi.
“Selama 40 hari kamu masih bisa menyentuh, mendengar dan melihat, lewat dari 40 hari kamu hanya bisa melihat dan mendengar, setelah 60 hari kamu hanya bisa melihat tanpa bisa mendengar dan dihari 100 kamu sudah menghilang dari dunia ini”.
“Kamu harus kuat ya sayang, aku yakin kamu bisa” Flora masih membelai wajah suaminya.
Satu persatu pelayat sudah mulai meninggalkan tempat peristirahatan terakhir Flora. Tinggallah disana Liam, Naina dan Ray. Mereka masih setia menemani Liam yang sama sekali tidak ada niatan meninggalkan tempat itu. Naina dan Ray sudah berdiri. Hanya Liam yang masih ditempat semula.
“Ray, bantu aku mencari psikiater untuk kakakku. Cari kan yang terbaik” Naina sudah mulai khawatir dengan keadaan kakaknya.
Ray pun menganggukkan kepalanya. Jujur dia pun khawatir dengan keadaan sang boss. Terlihat sekali kalau Liam belum bisa kehilangan istrinya.
Flora yang mendengar kalau Naina akan mencarikan psikiater untuk suaminya mulai merasa bersalah.
“Tuhan… tolong kuatkan suamiku ….”.
Flora tidak tega melihat Liam seperti ini.
“Kamu harus kuat sayang, walaupun kita tidak bisa bersama tapi kamu selalu dihatiku. Aku akan selalu mencintaimu”.
“Aku mencintaimu suamiku”.
Flora menggenggam tangan suaminya begitu erat.
“Kakak, Ayo kita pulang” Naina berusaha membujuk kakaknya. Selain langit sudah mulai gelap, Liam juga belum makan dari pagi.
Liam menggelengkan kepala.
“Aku mau disini bersama istriku, dia bahkan menggenggam erat tanganku” ucap Liam sambil tersenyum. Senyum yang membuat Naina semakin takut. Naina kembali meneteskan air matanya.
“Kakak mulai berhalusinasi Ray…” Naina memeluk tubuh Ray karena tidak tega melihat kakaknya yang seperti ini.
Ray tidak bisa berkata-kata, Liam memang sudah sangat depresi saat ini.
Flora melepas genggaman tangannya dari Liam.
Liam yang entah bagaimana bisa merasakan keberadaan istrinya merasa sedih karena Flora melepas genggaman tangannya.
“Flora melepas genggaman tangannya, dia melepas tanganku Nay” Liam berbicara lirih. Naina semakin menangis tersedu-sedu karena menganggap kakaknya sudah tidak waras.
Liam menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Bahunya sudah naik turun. Dia sadar kalau Flora sudah pergi untuk selama-lamanya tapi dia masih belum bisa menerima ini semua.
Cukup lama menangis akhirnya Liam kembali tidak sadarkan diri.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments