Liam menggerakkan tangannya yang terasa keram akibat jarum infus yang menancap di tangan kirinya. Sudah lebih dari satu jam dia pingsan dan baru saja tersadar. Liam masih belum bisa menerima kenyataan kalau Flora sudah pergi dari sisinya untuk selama-lamanya.
Sesak sekali rasanya dada Liam saat ini. Dia tarik tangan kanannya ke atas untuk menutupi matanya. Liam kembali menangis. Separuh hidupnya telah pergi meninggalkan dirinya.
Naina yang setia menemani Kakaknya di ruangan itu pun hanya bisa menangis. Naina duduk dilantai dengan menekuk lututnya dan menenggelamkan kepalanya di sana.
“Kak…Jangan seperti ini” isak Naina dalam hati. Dia sedih sekali. Rapuh rasanya melihat kakaknya seperti ini. Ini jauh lebih parah dari penghianatan Anya dulu. Saat itu kakaknya tidak sampai seperti ini. Flora begitu berarti bagi kakaknya melebihi Anya cinta pertamanya.
“Apa aku harus mempertemukan kakak dengan Kak Anya? Siapa tau luka hati Kak Liam bisa sembuh ketika melihat Kak Anya. Tapi bagaimana kalau Kak Anya malah membuat Kakak semakin terpuruk?” batin Naina
Flora yang juga ada di ruangan itu mendekati ranjang suaminya. Dia elus-elus rambut Liam penuh kasih sayang. Liam pun bisa merasakan kehadiran Flora disana.
“Sayang…kamu kah itu?” tanya Liam seolah berbicara dengan Flora.
Semakin sesak dada Naina karena mengira kakaknya sudah tidak waras.
“Kak…jangan seperti ini” ucap Naina terisak.
Flora melepas tangannya dari kepala Liam.
“Jangan pergi sayang” Liam berkata lirih karena bisa merasakan tangan istrinya yang menjauh. Flora menangis. Sebegitu besar cinta Liam untuknya hingga dia bisa merasakan elusan tangannya padahal mereka sudah berada di dunia berbeda.
“Sayang…jangan seperti ini” mohon Flora dengan terisak. Dia benar-benar tidak tega melihat Liam yang tidak memiliki semangat hidup.
Naina bangkit dan menghampiri Kakaknya.
“Kak… kakak harus kuat. Kasihan Kak Flora tidak tenang di alam sana” Naina berkata sambil menggenggam erat tangan Kakaknya. Liam tidak berucap apapun selama beberapa menit sampai akhirnya dia membuka suara.
“Tapi tadi dia benar-benar mengelus kepalaku Nay, aku bisa merasakannya” ucap Liam terlihat bersungguh-sungguh.
Tapi tentu saja Naina tidak percaya. Dia semakin mengira kalau kakaknya sudah tidak waras.
3 Hari Liam dirawat di rumah sakit. Kondisi fisik nya sudah membaik tapi tidak dengan jiwanya. Liam lebih banyak diam dan berbicara seorang diri.
Naina dan Mamanya yang melihat Liam duduk di gazebo seorang diri sambil berbicara dengan seseorang membuat kedua wanita itu menangis dengan saling memeluk satu sama lain.
“Carikan psikiater untuk Kakakmu Nay…Mama tidak tega melihatnya” Mama sudah terisak dalam pelukan putrinya.
Naina menganggukkan kepala.
“Iya Ma, Aku sudah meminta Ray untuk mencarikan psikiater untuk Kakak” jelas Naina.
Di Gazebo, Liam bisa merasakan kalau Flora sedang memeluk lengannya.
“Aku tau kamu disini bersamaku, terima kasih karena kamu tidak meninggalkanku sayang.” ucap Liam dengan tersenyum.
Disebelahnya Flora menangis.
“Kamu harus bisa melupakan aku sayang, kamu harus bisa.” balas Flora walau Liam tidak bisa mendengarnya.
Bisa merasakan Flora walau tidak dapat melihat dan mendengar suaranya membuat Liam sedikit demi sedikit lebih baik dan tidak murung lagi. Tapi itu hanya berlaku selama 40 hari. Di hari ke 41 hari Liam mulai kehilangan sosok Flora. Dia tidak bisa merasakan lagi keberadaan istrinya disisinya. Disitulah Liam mulai kembali kehilangan arah.
Naina yang awalnya mengurungkan niatnya mencari psikiater kembali menjadi panik.
“Kenapa kakak kembali seperti ini Ma?” tanya Naina pada sang Mama.
Mama sudah menangis sambil menutup wajah dengan kedua tangannya.
“Saat bangun tidur kakak mu begitu, Dia menangis memanggil-manggil nama Flora” jawab Mama dengan terisak.
Flora yang berusa meraih tangan suaminya tapi tidak bisa juga semakin frustasi. Liam sekarang seperti orang gila.
“Sayang kuat… Kamu harus kuat…” Flora terus menyemangati suaminya.
Papa yang baru saja tiba langsung menenangkan Liam yang terus berkeliling rumah sambil meneriakkan nama Flora.
“Bangkit Liam, kamu tidak boleh seperti ini. Apa kamu ingin membuat Flora tidak tenang?” ucap Papa berbicara setenang mungkin. Dia paham apa yang Liam rasakan. Putranya begitu mencintai Flora dan tentu saja tidak bisa dengan begitu cepat kehilangan istri yang begitu dia cintai. Kehilangan calon anak serta istri dalam waktu yang berdekatan tentu saja membuat Liam begitu terpuruk.
Keadaan Liam terus tidak mengalami perubahan hingga di hari ke 60. Sekarang Flora sudah tidak bisa mendengar apapun. Dia hanya bisa melihat apa yang suaminya alami.
Naina terlihat beberapa kali mengajak Liam menemui psikiater tetapi hingga saat ini belum membuahkan hasil.
“Aku sudah pasrah Ray… apa yang harus aku lakukan untuk membuat Kakak bangkit?” Naina mengungkapkan semua keluh kesahnya pada sang sahabat.
“Sabar, Aku yakin sebentar lagi Pak Liam akan bangkit. Pak Liam kuat. Kamu harus percaya itu” hibur Ray menimpali.
Selama 60 hari ini Naina lah yang selalu berada disisi Liam. Dia yang menemani dan membantu segala keperluan kakaknya itu. Tapi untuk membantu mandi dan berganti pakaian, naina mencarikan perawat pria untuk kakaknya.
“Nay.. maafkan Kakak ya… Kamu seperti ini karena Kakak” ucap Flora merasa bersalah.
“Ray…bagaimana kalau kita pertemukan Kakak dengan mantan pacarnya?” usul Naina pada Ray.
Ray menggelengkan kepala tidak setuju.
“Bukankah kamu bilang kalau wanita itu mengkhianati Pak Liam dan menikah dengan sahabat baik Pak Liam sendiri? Aku takut bukannya sembuh , Pak Liam malah semakin depresi” Ray mengungkapkan keberatannya.
“Lebih baik kita bawa Pak Liam ke Psikiater lain. Kita cari yang lebih baik lagi” usul Ray pula.
Naina menganggukkan kepalanya.
Dia juga ragu kalau rencananya akan berhasil. Hanya saja dia tetap ingin mencoba. Apapun Naina akan lakukan demi kesembuhan kakaknya.
“Kak Liam harus bangkit. Kakak haru bisa kembali seperti sedia kali” Naina bertekad dalam hati.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments