Dari serangkaian pengobatan yang sudah Flora jalani tidak ada tanda-tanda kalau dirinya akan bisa sembuh. Semakin hari tubuh Flora sudah semakin kurus dan kini sudah di rawat di rumah sakit. Entah sudah berapa lama Liam cuti dan berapa banyak uang yang sudah habis. Liam rela asalkan istrinya bisa sembuh.
"Sayang" ucap Flora lirih sambil menggenggam erat tangan suaminya.
"Aku sudah ikhlas, berjanjilah kalau kamu akan bahagia kalau aku sudah tidak ada" ucap Flora dengan tersenyum.
Liam sudah tidak bisa menahan laju air matanya. Dia menangis tersedu-sedu lalu membawa Flora ke dalam pelukannya.
"Terima kasih karena sudah menjadi suami yang begitu baik, pengertian dan mencintaiku. Aku sangat beruntung telah memiliki kamu disepanjang hidupku" lanjutnya.
Liam tidak bisa berkata-kata, yang bisa dia lakukan hanya menangis.
Walau dia sudah mendengar dari dokter kalau umur Flora tidak lama lagi tapi dia masih belum bisa menerima kejadian ini semua.
"Pak Liam, maafkan saya. Saya sudah berusaha keras untuk menyembuhkan istri anda. Kita hanya bisa berdoa dan menunggu keajaiban Tuhan. Keajaiban itu masih ada. Jangan pantang menyerah" ucap dokter Frans kala itu.
Setiap mengingat-ingat kata-kata dokter Fans makan Liam akan kembali meneteskan air matanya. Dia sama sekali belum menyiapkan dirinya bila harus kehilangan Flora dari hidupnya.
Dulu kehilangan Anya yang jelas-jelas sudah berkhianat darinya saja Liam sudah seperti kehilangan arah, apalagi sekarang dia harus kehilangan Flora. Wanita yang paling dia cintai.
"Aku tidak sanggup Tuhan...Jangan berikan Aku cobaan seberat ini".
"Apakah aku ditakdirkan untuk selalu kehilangan?".
Ucapan dokter Frans kembali berputar-putar dikepalanya.
Dan sekarang...Flora malah berkata seperti ini pada dirinya. Seolah dirinya sudah siap bila harus pergi untuk selama-lamanya.
"Lalu bagaimana dengan aku? Bagaimana dengan aku yang kamu tinggalkan?".
Liam hanya berucap dalam hati. Berat rasanya dia menghadapi ini semua.
Liam langsung memeluk erat istrinya. Mereka berdua sama-sama menangis. Meluapkan semua perasaan yang mereka pendam sslama ini.
Naina yang juga berada di ruangan itu pun ikut menangis. Dia bisa merasakan apa yang Kakak dan Kakak iparnya rasakan.
"Tuhan...berikanlah kesembuhan untuk Kak Flora" Naina berdoa dalam hati.
Tak kuat berada disana, Naina pun pamit. Dia berjalan menyusuri koridor rumah sakit sambil menangis.
"Kamu kenapa?" tanya Ray asisten Liam yang melihat Naina berjalan sambil menangis. Melihat Ray seketika membuat Naina memeluk pria tersebut.
"Hu...hu....aku tidak tega Ray...Aku kasihan pada mereka" ucap Naina mengeluarkan isi hatinya.
Ray membalas pelukan adik boss sekaligus temannya itu.
"Kita hanya bisa berdoa, semoga Bu Flora diberi kesembuhan" balas Ray pula.
Naina mengurai pelukannya.
"Kamu bisa temani aku ngopi di depan sebentar?" mohon Naina. Dia perlu teman curhat saat ini.
Ray pun menganggukkan kepalanya. Dia mengikuti Naina yang sudah berjalan lebih dulu menuju kedai kopi yang letakknya tepat di depan rumah sakit.
"Ray..aku tau kamu belum lama menjadi asisten kakakku. Tapi aku mohon disaat-saat terpuruknya nanti kamu selalu temani dia" mohon Naina sudah dengan bercucuran air mata.
"Kamu ngomong apa sih Nay..." tegur Ray tidak suka dengan kata-kata Naina.
"Aku tahu ini salah, aku tidak boleh berpikiran seperti ini.Tapi entah kenapa aku yakin kalau umur Kak Flora tidak lama lagi" Naina menutup wajahnya dan menangis dengan terisak.
Ray yang awalnya duduk berhadapan merubah posisi dengan duduk disebelah sahabat baiknya itu. Dia lalu membawa Naina ke dalam pelukannya. Menenangkan sahabat yang sudah dikenalnya sejak lama.
Ray dan Naina adalah teman seangkatan dari SMA hingga kuliah. Keduanya berteman akrab hingga sekarang. Nay panggilan akrab Naina tidak tau sama sekali awalnya kalau Ray bekerja diperusahaan Papanya. Hingga Ray datang ke rumah sebagai asisten Liam. Nay begitu terkejut melihat temannya yang biasanya berpenampilan amburadul kini terlihat gagah dengan kemeja dan celana bahannya. Penampilan yang berbanding terbalik dengan kebiasaannya.
Sama seperti Ray, dia juga tidak menyangka kalau Nay adalah anak dari pemilik perusahaan. Disekolah dulu penampilan Nay tidak terlihat seperti anak orang kaya, tapi Nay yang sekarang berbeda dari yang dulu Ray kenal.
Naina sekarang berpenampilan modis dengan pakaian dari merek ternama. Tentu berbanding terbalik dengan penampilannya dulu. Tapi sikap san sifat Nay masih sama. Dia ramah, baik hati dan tidak terkesan sombong.
"Aku tidak mau Kak Liam seperti dulu, Dia pernah depresi karena ditinggal kekasihnya. Dan sekarang Kak Liam kehilangan anak serta kemungkinan terburuk akan kehilangan istrinya juga. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Kak Liam saat itu. Kuatkan kakakku Ray. Dampingi dia...Aku tidak tega" Naina berucap dengan terisak.
Ray semakin mengeratkan pelukannya.
"Tidak akan terjadi apa-apa. Bu Flora pasti sembuh. Kamu harus bisa berpikiran positif" ucap Ray menguatkan.
Naina semakin terisak. Tidak perlu berpura-pura berpikiran positif karena siapa saja bisa menebak kalau umur Flora memang tidak akan lama lagi. Tubuhnya sudah mengurus, tenaga nya sudah habis dan nafasnya putus-putus. Naina tidak bisa berpikiran positif melihat keadaan kakak iparnya itu.
"Berjanjilah untuk selalu menemani kakakku Ray" mohon Naina mengiba.
"Tentu saja Nay, aku akan selalu menemani Pak Ray" sahut Ray menimpali.
"Jangan biarkan kakakku bunuh diri, aku takut Ray" Naina kembali terisak. Entah kenapa Naina tidak bisa berpikiran jernih. Dia takut kakaknya akan berbuat nekat.
"Hust..tidak boleh berpikiran seperti itu" tegur Ray tidak suka dengan ucapan Naina.
Naina sangat tau tentang kakaknya. Naina bisa melihat kalau cinta Liam pada Flora begitu besar. Seorang pria yang ditinggal meninggal oleh istrinya akan kehilangan arah. Kalau tidak menikah lagi pilihan terburuk pasti bunuh diri. Walau masih ada yang bertahan menduda hingga akhir. Tapu Naina sangat yakin kalau kakaknya akan memilih opsi kedua yaitu mengakhiri hidupnya. Naina tidak ingin Liam seperti itu. Dia akan mencari cara apapun untuk membuat Liam survive dan bisa menata hidupnya.
"Apapun akan aku lakukan kak, aku tidak akan membiarkan kakak mengakhiri hidup kakak" gumam Naina dalam hati.
"Sudah cukup dulu Kak Raya mengkhianati kakak, aku tidak ingin kakak kehilangan Kak Flora lagi. Tapi bagaimana caranya kak? Sudah tidak ada harapan untuk kesembuhan Kak Flora" Nay kembali berucap dalam hati.
Ray mengurai pelukannya. Dia hapus air mata di wajah sahabat baiknya itu.
"Kamu harus kuat Nay, demi kakakmu" ucap Ray mengingatkan.
Naina pun menganggukkan kepala. Dia akan berusaha terlihat tegar.
"Tuhan walaupun mustahil bisakah Engkau memberikan kesembuhan untuk Kakak Iparku? Hamba Mohon Tuhan" Naina berdoa dalam hati.
"Jangan pernah mengungkapkan apa yang kamu pikirkan di depan Pak Liam dan juga istrinya" titah Ray tegas.
Naina kembali menganggukkan kepalanya.
Ya..Dia harus tegar demi Kakak dan Kakak iparnya.
"Sekarang minum dulu kopinya supaya kamu lebih tenang" pinta Ray.
Lagi Naina menganggukkan kepala. Ray memang sahabat yang bisa menuntun Naina dari dulu.
Bersambung . .
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments