Dokter sudah memeriksa keadaan Flora, sejauh ini dokter menyimpulkan itu hanya keram biasa. Tapi bila sakitnya berlanjut dan semakin parah maka harus dilakukan pemeriksaan lebih detail. Tapi sayangnya pemeriksaan itu membahayakan janin yang ada di dalam kandungan Flora.
Liam dan Flora pun memutuskan untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut saat anak mereka lahir.
Kini usia kandungan Flora sudah menginjak 5 bulan. Perutnya sudah mulai terlihat dan tentu saja Liam semakin gemas dibuatnya. Selama ini sebenarnya Flora kembali beberapa kali mengalami kram perut tapi dia memilih menutupinya dari sang suami karena tidak ingin membuat Liam khawatir.
Tapi pagi ini keramnya semakin parah dan Flora tidak bisa menahannya lagi. Dia nampak sangat kesakitan. Di rumah pun dia hanya ditemani asisten rumah tangga karena Liam sedang bekerja. Begitu melihat majikannya kesakitan, asisten rumah tangga Liam langsung mengantar Flora ke rumah sakit.
Asisten rumah tangga yang bernama Maria pun langsung menghubungi Liam guna memberitahukan tentang keadaan Flora. Untung saja dipanggilan pertama Liam langsung menerima panggilan tersebut.
"Halo" terdengar salam dari Liam.
"Halo pak, I-Ibu pak" ucap Maria terbata.
"Flora kenapa, bi?" tanya Liam yang tidak bisa menutupi rasa khawatirnya.
"Ibu sakit pak, perutnya kram, sekarang kami menuju rumah sakit internasional" jawab Maria.
"Gimana keadaan Flora sekarang?" tanya Liam panik.
"Ibu pingsan pak, baru saja saat dibawa kedalam mobil" jelas Maria pula.
Tanpa mengucap apapun Liam langsung mematikan panggilan tersebut dan segera meluncur ke rumah sakit internasional.
Liam benar-benar kalut. Dia sangat khawatir terjadi sesuatu pada istri dan calon anaknya.
"Kamu kenapa sayang?".
Liam tidak menyetir sendiri. Dia sengaja ditemani sopir perusahaan karena takut tidak bisa mengontrol emosinya saat di perjalanan.
Tak pernah Liam setakut ini. Dia merasa deg degan luar biasa dan tidak bisa dideskripsikan dengan kata-kata.
"Jangan buat aku takut sayang" Liam bergumam seolah berbicara dengan Flora saat ini.
Jalanan lumayan macet serta turun hujan. Liam semakin gelisah karena jarak dari kantornya menuju rumah sakit memang cukup jauh.
Jantung Liam berdetak begitu kencangnya, pikirannya sudah melayang kesana kemari memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi.
Asisten pribadi Liam juga ikut menemani ke rumah sakit karena tuannya tadi terlihat begitu kacau.
"Bapak harus tenang, Ibu Flora pasti baik-baik saja" ucap Ray asisten pribadi Liam menenangkan. Liam tidak menyahut karena pikirannya hanya tertuju pada Flora. Liam pun tidak mengerti kenapa dia bisa secemas ini.
"Ya Tuhan...selamatkan istriku. Aku mohon Tuhan...."Liam berdoa dalam hati.
Hingga akhirnya 35 menit kemudian, Liam telah sampai di rumah sakit Internasional.
Suara langkah kaki yang setengah berlari memenuhi koridor rumah sakit ketika tau kalau istrinya sedang berada di ruang tindakan.
"Bagaimana keadaan istriku, Bi?" tanya Liam pada Maria.
Maria sudah bercucuran air mata. Dia terlihat syok dan tidak bisa berkata-kata. Melihat asisten rumah tangganya yang seperti itu membuat Liam semakin kalut. Dia hendak menerobos ruang tindakan itu tapi dengan cepat Ray menahannya.
"Tenang pak, sabar. Dokter sedang bertindak. Kalau Bapak masuk bisa memecah konsentrasi dokter" ucap Ray berusaha membujuk bossnya tersebut .
Liam terpaksa menurut walau hatinya menolak untuk patuh. Dia ingin sekali menemani istrinya di dalam. Liam ingin tau bagaimana keadaan istri dan calon anak mereka.
Ray terus menenangkan Liam yang sangat kacau sekali hingga beberapa menit kemudian perawat keluar dari ruang tindakan dan meminta anggota keluarga untuk ikut masuk.
Bergegas Liam masuk menyusul perawat tersebut untuk masuk ke dalam ruang tindakan. Disana dokter sudah menyambut Liam dengan wajah yang tidak bisa Liam artikan.
“Bapak suaminya?” tanya dokter tersebut. Liam pun menganggukkan kepalanya. Terdengar helaan nafas berat dari sang dokter.
“Maaf pak, bayinya tidak bisa diselamatkan” ucap dokter tersebut.
Deg
Deg
Deg
Liam merasakan sebuah belati tajam menghunus jantungnya. Ingin rasanya Liam berteriak karena mendengar kabar buruk ini.
“Istri saya bagaimana keadaannya dok?”.
Sejatinya ini yang paling membuat Liam takut. Liam takut kalau istrinya pun tidak baik-baik saja.
“Belum bisa dipastikan pak, Bapak harus menandatangani surat persetujuan operasi agar bayi di dalam kandungan istri bapak bisa dikeluarkan” jawab dokter itu pula.
Liam melihat ke arah istrinya yang tidak sadarkan diri. Hatinya begitu sakit melihat kondisi istrinya yang terlihat tak berdaya ini. Tanpa berpikir panjang Liam segera menandatangani semua berkas-berkas sebagai syarat operasi bisa dilaksanakan. Liam pun memohon agar bisa diperbolehkan untuk ikut di dalam ruang operasi.Dokter yang tidak tega pun kemudian mengijinkan Liam untuk ikut dengan beberapa syarat yang harus dia penuhi.
Di dalam ruangan operasi, Liam menggenggam tangan istrinya yang tidak sadarkan diri itu. Air matanya jatuh bercucuran. Tidak pernah Liam bayangkan kalau calon anak mereka akan pergi dengan cara seperti ini.
“Apa yang sebenarnya terjadi Tuhan? kenapa Engkau mengambil anak kami?”.
Liam begitu tersiksa.
Ingin sekali dia pergi ke pantai dan berteriak dengan kencang disana. Dokter sudah berhasil mengeluarkan bayi yang sudah berbentuk itu dari dalam perut Flora. Bayi yang lahir tanpa menangis. Semakin sakit hati Liam melihat anaknya yang harus meninggal tanpa mengenal dunia terlebih dahulu.
“Maafkan Papa nak” Liam menyalahkan diri sendiri atas apa yang sudah menimpa anak dan istrinya. Liam merasa gagal karena tidak bisa menjaga anak dan istrinya.
….
Liam dan Flora saat ini sedang berada di peristirahatan terakhir anak mereka. Flora menangis tersedu-sedu di dalam pelukan suaminya.
“Hu…hu….maafkan Mama sayang….Ini salah Mama” Flora begitu kacau saat ini. Begitu diperbolehkan pulang dari rumah sakit, Flora langsung meminta Liam untuk mengantar kesini.
“Jangan menyalahkan diri sendiri, ini sudah takdir dari yang di atas”.
Walau Liam bersedih tapi dia tidak ingin menambah beban istrinya. Belum habis rasa sedih Liam karena kehilangan anak yang sudah mereka nantikan, kini dia mendapatkan fakta baru tentang penyakit yang diderita istrinya. Tidak ada yang tau tentang sakit yang Flora derita termasuk Flora sendiri tidak tau. Liam menyimpan rapat-rapat karena tidak ingin Flora drop bila mengetahui yang terjadi.
Liam tertekan seorang diri.
“Tuhan…kuatkan aku” Liam terus berdoa dalam hati agar dia diberi kekuatan untuk menghadapi ini semua. Liam tidak ingin kehilangan lagi. Cukup dia kehilangan anak pertama , dia tidak ingin kehilangan istrinya juga.
“Berikan kesembuhan untuk istriku Tuhan. Aku sangat mencintai istriku”.
Liam pandangi wajah istrinya yang menangis tersedu-sedu itu. Liam yakin Flora akan drop dan tidak memiliki gairah hidup bila tau penyakit yang dia derita. Apalagi dokter mengatakan kalau 90 persen pasien yang mengalami penyakit yang sama meninggal bukan karena penyakitnya tapi karena mental yang belum siap atas penyakit yang dideritanya.
“Aku mohon Tuhan berikan kesembuhan untuk istriku”. Liam kembali berdoa dalam hati.
“Ayo kita pulang sayang, kamu belum sembuh betul” ucap Liam sambil membantu istrinya berdiri. Walau berat Flora pun menurut, dia tidak ingin menyusahkan Liam lagi. Selama seminggu dirawat di rumah sakit, Liam menjaganya dengan setia dan tanpa mengeluh. Liam bahkan terlihat begitu tegas walau Flora yakin kalau suaminya ini saat ini sangat terpuruk.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments