Masa cuti Liam pun telah berakhir. Flora keadaannya sudah membaik tapi Liam belum mengajak Flora pergi bekerja bersama karena ingin Flora lebih banyak beristirahat dulu.
“Sayang, apa aku bisa nanti bertemu Maya?” tanya Flora saat mengantar Liam sampai di depan rumah.
Liam menganggukkan kepala.
“Tapi jangan makan sembarangan ya” pesan Liam tegas.
“Iya sayang, aku akan pergi setelah makan siang. Jadi tidak sampai makan diluar” ucap Flora dengan tersenyum.
Liam kembali menganggukkan kepalanya.
“Aku pergi dulu” pamit Liam sambil mencium kening istrinya.
Flora melambaikan tangannya saat Liam sudah masuk ke dalam mobil. Flora menghela nafas berat.
“Maaf aku harus berbohong yank” gumam Flora lirih. Dia terpaksa mencari tahu sendiri penyakit apa yang dia idap. Flora yakin Liam tidak akan pernah mau memberitahu dirinya apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya.
…..
Sekitar pukul 2 siang, Flora sudah berada di rumah sakit. Flora tidak ke rumah sakit biasa karena tau kenalan suaminya di sana begitu banyak. Dia tidak ingin Liam kecewa karena Flora diam-diam mencari tau sendiri tentang penyakitnya.
Di ruang pemeriksaan Flora mulai menceritakan kronologi kejadian hingga dia kehilangan bayinya. Flora mulai melakukan serangkaian pemeriksaan yang ternyata memakan waktu cukup lama. Itu pun tidak bisa selesai hari itu juga. Flora diharuskan datang lagi untuk proses lanjutan.
Walau hasilnya belum keluar tapi dokter sudah mendiagnosa penyakit yang Flora kira-kira derita. Belum pasti penyakitnya apa dia sudah down mendengar penjelasan dokter. Flora menangis dalam perjalanan menuju rumahnya. Dia memutuskan untuk tidak melanjutkan pemeriksaan.
“Ternyata ini alasan kamu menutupi ini semua dari ku. hick hick…” Flora sangat menyesal telah mencari tau sendiri. “harusnya aku memang tidak mencari tau” lanjutnya.
Sampai di rumah ternyata Liam sudah lebih dulu tiba, dia melihat penampilan istrinya yang begitu kusut. Mata sembab serta hidungnya berair.
“Kenapa sayang?” tanya Liam khawatir.
Flora tidak menjawab, yang dia lakukan hanya menangis sambil memeluk erat tubuh suaminya.
“Kenapa sayang? cerita sama aku” Liam mengulang pertanyaannya karena Flora tidak menjawab dan malah menangis.
Liam lalu menuntun istrinya menuju kamar mereka.
“Coba cerita sama aku” pinta Liam yang saat ini sudah mendudukkan istrinya di tepi ranjang mereka.
Lagi Flora terpaksa berbohong karena tidak ingin Liam kesusahan dan merasa bersalah.
“Tadi aku lihat bayi lucu di jalan, aku jadi teringat anak kita” ucap Flora berbohong.
Liam mengelus-elus rambut istrinya dengan sayang.
“Kamu harus kuat, kita harus kuat” ucap Liam lembut.
Flora menganggukkan kepalanya.
“Aku akan kuat, demi kamu” janji Flora dalam hati. Flora tidak akan mencari tau lagi, dia hanya akan pasrah dan menerima semuanya.
“Untuk apa aku mencari tau dan malah kepikiran? lebih baik aku memang tidak tau sama sekali” gumam Flora dalam hati.
“Kamu mandi dulu ya, aku tunggu di meja makan” ucap Liam pula. Lagi-lagi Flora menganggukkan kepala menuruti perintah sang suami.
Liam sebenarnya tau kalau Flora berbohong. Diam-diam dia meminta asistennya untuk mengikuti istrinya.
Hah…
Liam menghela nafas kasar.
“Maafkan aku sayang, aku terpaksa melakukan ini” gumam Liam dalam hati.
Liam beranjak dari tempat tidur dan keluar kamar. Kepala Liam rasanya mau pecah apalagi tadi dokter yang menangani Flora mengatakan secepatnya Flora harus melakukan pengobatan tahap awal.
“Tuhan…tolong beri kesembuhan untuk istriku. Aku mohon Tuhan” air mata Liam sudah menggenang di pelupuk matanya. Bila mengingat tentang penyakit istrinya, Liam akan merasa begitu sedih.
Liam hapus air matanya dan berjalan menuju meja makan. Disana sudah tersedia makanan sehat yang harus Flora konsumsi.
Tak berapa lama Flora pun bergabung di meja makan. Mereka makan dalam diam dan larut dalam pikiran masing-masing. Liam yang memikirkan bagaimana caranya memberitahu tentang proses pengobatan dan Flora yang merasa bersalah karena telah berbohong.
Hingga makan malam berakhir keduanya pun masih larut dalam pikiran masing-masing. Maria asisten rumah tangga mereka pun melihat interaksi keduanya. Maria hanya bisa menghela nafas kasar. Dia memang tidak tau apa yang terjadi tapi Maria hanya bisa berdoa supaya semuanya baik-baik saja.
…
Hari demi hari berlalu, tiba waktunya Flora untuk melakukan pengobatan tahap awal.
“Sayang, kita kontrol ya ke rumah sakit” ajak Liam saat mereka sarapan.
Flora pun menganggukkan kepala tanpa banyak tanya. Melihat itu Liam hanya bisa pasrah. Biarlah Flora menebak-nebak, karena bila dia tau lebih jauh maka Liam sangat yakin kalau Flora akan drop.
Flora tidak ikut mendengarkan penjelasan dokter karena dia langsung dibawa ke ruang tindakan. Hanya Liam yang berbicara dengan dokter. Walau tidak mendengar apa yang dokter dan suaminya bicarakan tapi Flora yakin kalau sangat sedikit harapan dirinya bisa sembuh.
Flora menggigit bibir bawahnya agar tidak menangis. Melihat wajah pias suaminya membuat Flora tidak bisa menahan sesak di dadanya. Liam terlalu banyak menanggung beban.
“Tuhan…Aku mohon beri aku kesembuhan” Flora berdoa dalam hati.
Tak berapa lama, Liam dan dokter pun datang menghampiri Flora.
"Kita mulai ya" ucap dokter paruh baya itu sambil tersenyum ramah.
Liam sengaja mencari dokter yang ramah dan bisa membuat nyaman pasiennya. Liam tidak ingin penyakit yang sudah memberi tekanan ditambah dokter yang gemar menakut-nakuti akan membuat kondisi istrinya semakin drop.
Pernah ada kejadian salah satu dokter menakut-nakuti pasiennya dengan mengatakan kalau kemungkinan pasien akan meninggal sekitar 50 persen dan seketika pasien tersebut tekanan darahnya naik dan operasi terpaksa di tunda.
Liam sudah mencari rekomendasi dokter yang paling kompeten dan bisa membuat nyaman.
Akhirnya Liam dipertemukan dengan Dokter Frans, dokter yang sudah menangani banyak pasien seperti Flora. Walau kemungkinan sembuh itu sedikit, tapi masih ada pasiennya yang sembuh seratus persen.
"Beri kesembuhan untuk istriku, Tuhan" Liam berdoa dalam hati sambil menemani istrinya diperiksa oleh dokter Frans.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments