Pagi telah tiba.
Di meja makan sudah berkumpul semua anggota keluarga untuk sarapan. Andra kembali bekerja setelah cukup lama cuti karena menemani putrinya di rumah sakit , Stefan yang harus ke kampus dan Rina serta Flora yang akan pergi berbelanja.
"Pa, uangku sudah habis" ucap Stefan memulai pembicaraan.
Andra tentu terkejut karena uang saku putranya tidaklah sedikit. Belum lagi kartu kredit yang dia berikan.
"Habis?" ucap Andra tak habis pikir.
"Kartu kreditnya bagaimana?" tanya Andra pula.
"Over limit, Kenapa tidak yang unlimited saja sih Pa? Papa pelit sekali sama anak" Stefan menggerutu kesal.
Andra hanya bisa mengelus dada. Putranya ini memang sangat boros dan gemar berfoya-foya. Salahnya juga yang selama ini selalu menuruti keinginan putranya tersebut.
Flora sangat tidak habis pikir dengan polah Stefan. Liam yang juga anak orang kaya tidak pernah seperti ini. Liam bahkan bekerja diperusahaan lain agar bisa mandiri.
"Flora..kenapa kamu terus mengingat Liam?" Flora bergumam dalam hati.
"Pokoknya aku tidak mau tau, Papa harus memberikan aku uang. Masak aku pergi dengan pacarku tidak bisa mentraktirnya makan?" Stefan sudah jengkel sekali.
"Iya nanti Papa transfer" ucap Andra mengalah. Sekarang masih pagi dan Andra tidak ingin seharian ini menjadi kacau gara-gara amukan Stefan.
"Sekarang Pa, jangan nanti" Stefan belum menyerah kecuali uangnya sudah dia terima.
Andra mengalah. Dia ambil ponselnya dan mulai mentransfer uang ke rekening putranya.
"Gunakan uangnya dengan bijak , nak. " ucap Andra setelah mentransfer sejumlah uang ke rekening Stefan.
"Iya" jawab Stefan cuek lalu kembali melanjutkan sarapannya.
Rina tidak berkomentar apapun. Stefan sudah salah didikan dari awal begitu pula Anya. Selesai sarapan mereka pun berpencar dengan urusan masing-masing.
Flora dan Rina sudah siap diantar supir ke salah satu Mall untuk membeli pakaian.
"Mama, Anya itu seperti apa orangnya?" Flora ingin tau Anya remaja kira-kira orangnya seperti apa. Apalagi Anya adalah cinta pertama Liam.
"Apa Anya punya kekasih?" tanyanya pula.
Flora takut kalau ternyata sekarang Anya malah sudah menjalin hubungan dengan Liam.
"Jangan melihat bagaimana kamu yang dulu, tapi yang terpenting adalah bagaimana kamu yang sekarang, memperbaiki diri agar menjadi lebih baik, mengejar mimpi agar cita-citamu bisa terwujud"ucap Rina sambil mengelus rambut putrinya penuh kasih sayang.
"Apa cita-cita Anya dulu ma?" tanya Flora penasaran.
"Kamu ingin menjadi designer terkenal" jawab Rina.
Flora terkejut. Dia kira Anya bercita-cita menjadi pengusaha sukses tapi ternyata malah menjadi seorang designer.
"Berarti Anya kuliah mengambil jurusan
"Berarti Anya kuliahnya di design mode?" tanya Flora pula.
Rina menggelengkan kepala.
"Kamu mengambil jurusan ekonomi sama seperti kakakmu" jawab Rina.
"Kenapa?" tanya Flora bingung.
"Mama juga tidak mengerti kenapa kamu memilih jurusan itu, padahal kamu ingin menjadi perancang busana. Apa sekarang kamu mau merubah jurusan?" jawab Rina apa adanya.
Flora menggelengkan kepala. Dia sama sekali tidak memiliki minat di bidang fashion, tentu tidak mungkin dia mengambil jurusan itu.
"Kapan aku mulai kuliah Ma?" tanya Flora pula.
"Mulai kapanpun asalkan kamu sudah lebih baik" jawab Rina sambil kembali mengelus rambut putrinya.
"Kalau begitu besok aku akan mulai kuliah lagi" ucap Flora mantap. Dia juga malas hanya tiduran di rumah.
Rina mengangguk senang. Dia bersyukur anaknya sudah semangat lagi.
Tak berapa lama kemudian mereka tiba di Mall XX. Rina menggandeng tangan putrinya memasuki salah satu butik yang menjadi langganan mereka dulu.
Flora mulai memilih beberapa pakaian untuk di rumah dan juga kuliah.
"Ma, apa tidak apa-apa aku membeli banyak pakaian? Aku tidak suka dengan pakaian yang ada di lemari " ucap Flora sejujurnya.
Rina pun menganggukkan kepala.
Kalau dulu Anya tidak akan pernah bertanya seperti ini. Dia pasti mengambil apapun yang dia inginkan.
"Ambillah yang kamu suka sayang" jawab Rina lembut.
Flora merasa senang. Dia bahagia bisa merasakan kasih sayang seorang Ibu. Dengan senyum secerah mentari Flora mulai memilih pakaiannya. Tidak hanya di satu butik, mereka bahkan memasuki lebih dari 5 butik untuk mendapatkan pakaian yang Flora inginkan.
Selesai berbelanja, Flora dan Rina kemudian memutuskan untuk makan siang di salah satu restoran yang ada di Mall tersebut. Awalnya Rina mengajak Flora ke salah satu restoran cepat saja tapi Flora menolak dengan tegas. Dia tidak mau kembali sakit akibat makanan tidak sehat yang dulu sering dia konsumsi.
Rina pun kembali maklum atas perubahan sikap anaknya yang sangat jauh berbeda dari sebelumnya.
"Habis ini kita ke salon ya, kamu harus cantik di hari pertama masuk kuliah" ucap Rina sambil tersenyum.
"Iya ma, apa aku boleh spa? Tubuhku rasanya pegal".
"Iya boleh sayang" jawab Rina senang.
"Ya Tuhan...semoga anakku bisa terus manis seperti ini" ucap Rina dalam hati.
Selesai makan siang, mereka berdua pun memasuki salon yang juga ada di Mall tersebut.
Flora dimanjakan dengan perawatan dari atas sampai ke bawah. Selesai dari salon, Rina pun mengajak Flora ke klinik kecantikan untuk perawatan wajah. Rina memang sangat memanjakan anaknya.
Seharian itu mereka habiskan untuk shopping dan juga perawatan. Flora senang sekali karena impiannya jalan-jalan dengan seorang Ibu akhirnya bisa terwujud.
"Terima kasih ya, Ma. Aku senang sekali bisa jalan-jalan sama Mama hari ini" ucap Flora sambil memeluk tubuh ibunya.
Rina begitu terharu. Dulu dia akui dia dan anaknya tidak begitu dekat. Anya sama sekali tidak mau pergi dengannya. Anya lebih memilih bersama teman-temannya daripada dengan Ibunya sendiri.
"Mama juga terima kasih karena kamu mau jalan-jalan sama mama" ucap Rina sambil membalas pelukan putrinya.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments