Shofia pun tertidur, hingga jam makan siang pun terlewat. Dia lupa tidak mengabari sang suami.
Ponsel Shofia berdering, membuat Hera terbangun. Pemilik wajah cantik nan bersahaja itu pun bangun dan melihat siapa yang menelponnya.
Senyum indah terukir di bibir Shofia, dia bahagia karena sang suami ternyata mencarinya. Setelah menggosok kedua matanya, Shofia pun mengangkat panggilan dari Farhan.
"Hallo, Assalamu 'alaikum, Mas," ucap Shofia dengan senyum manisnya.
"Wa'alaikum salam, Shofia."
"Ada apa, Mas?" tanya Shofia dengan hati yang berdebar. Rasa bahagia menyeruak di hati Shofia.
"Shofia, mas mau pergi beberapa hari bersama Freya. Kami akan berbulan madu ke Cappadocia. Kamu sendirian di rumah tidak apa-apa 'kan? Atau kamu bisa ke rumah Abah dan Umma," ucap Farhan ringan tanpa ada beban.
Shofia terkejut, dengan mulut menganga hampir saja ponsel yang ada di genggaman tangannya terlepas begitu saja.
"A ... Apa, Mas? Kamu dan Freya mau bulan madu ke Cappadocia? Itu kan tempat bulan madu Abah dan umma juga kita berdua dulu kan, Mas?" Tanya Hera terkejut.
"Benar. Dan mas ingin mengajak Freya ke sana karena Freya juga ingin berbulan madu ke sana. Seperti katamu mas harus adil pada kedua istri mas. Untuk itu mas harap menyetujui dan tidak menghalangi kami. Beri ijin Freya untuk cuti beberapa hari," ucap Farhan dengan nada datar. Tidak ada sedikitpun rasa kasihan pada sang istri tuanya. Sungguh baru pertama ini, Shofia tidak dianggap.
"Mengapa harus sama sih, Mas? Apa tidak ada tempat lain?" Shofia berusaha agar Farhan memilih tempat lain untuk bulan madunya bersama Freya.
"Sudahlah, Shofia kamu tidak berhak untuk mencegah kami. Semua sudah seperti yang kamu inginkan. Mas hanya menuruti keinginanmu. Sekarang biarkan mas melakukan kewajiban mas berbuat adil untuk kalian berdua," ucap Farhan. Tanpa mengucap salam, Farhan menutup teleponnya.
Deg! Deg!
Hati Shofia seperti dicubit, detak jantung nya sudah tidak menunjukkan ketenangan. Tiba -tiba suara halus terdengar kembali di telinga Shofia.
"Shofia ... Kau harusnya merasa senang, kau bisa menghabiskan waktu untuk dirimu sendiri. Menikmati hidup dalam kebebasan, tidak ada yang mengatur mu lagi! Ayo Shofia ... nikmati hidup ini, apa arti Cappadocia. Toh tempat itu hanya akan jadi kenangan. Kita akan bersenang-senang, hahaha ...!" suara tawa itu menggema.
Shofia tiba-tiba tersenyum menyeringai, sungguh aneh sekali. Tidak ada lagi kesedihan dalam diri Shofia. Seakan hal yang biasa jika suaminya pergi dengan wanita lain. Toh dirinya bisa pergi juga dengan lelaki lain.
Shofia mengambil ponsel dan tasnya. Dia meninggalkan pekerjaannya begitu saja. Sisi hatinya yang lain seperti diikat oleh belenggu. Ingin mencegah Shofia untuk melakukan hal yang tidak benar yang akan merusak kehormatan hidupnya.
Shofia masuk ke dalam mobilnya, dia mengambil alat make up nya yang dia bawa di dalam tas kecilnya. Dengan spion mobil sebagai kacanya, Shofia memoleskan lipstik dengan tebal. Biasanya Shofia hanya menggunakan lipstik tipis itu pun hanya untuk menutupi bibirnya agar tidak terlihat pucat.
Setelah selesai Shofia menyalakan mesin mobilnya, sengaja dia tidak memakai sopir seperti biasanya agar bisa pergi sesuai keinginannya. Shofia tidak menyadari perubahan dirinya ini.
Terkadang Shofia akan baik dan taat seperti Shofia pada biasanya. Terkadang pula Shofia berubah menjadi sosok yang egois dan mudah tersulut emosinya. Hal ini bisa terjadi karena pada waktu wanita haid, jika tidak dibentengi dengan dzikir dan amalan pelindung lain maka tubuhnya akan mudah dirasuki jin atau pun makhluk yang lain.
Untuk itu, para ulama mengajarkan bahwa wanita yang haid hendaknya melindungi dirinya dengan dzikir, bersedekah, mengikuti majelis taklim, memperdalam hafalan surat, dan amalan yang lain.
Shofia melajukan mobilnya menuju ke suatu tempat yang bisa membuat dirinya merasa senang, tempat yang membuat dirinya merasa terbebas dari belenggu.
Shofia memarkirkan mobilnya di sebuah mall yang besar. Di sana dia akan berbelanja dengan puas tanpa batas waktu harus mengurus sang suami dan segudang kewajiban sebagai istri.
Tidak dipungkiri, setiap wanita ingin membahagiakan diri ya sendiri tanpa ada larangan. Belenggu aturan rumah tangga telah mengikat wanita, hingga diri wanita itu merasa bosan dan jenuh.
Rasa bosan dan jenuh yang muncul dalam diri wanita akan memudahkan syaitan untuk membisikkan hal yang negatif pada wanita itu. Untuk itu peran suami yang selalu mengajak istri untuk berwisata hati sangatlah penting.
Wanita tidak butuh untuk diberi harta yang berlebihan, akan tetapi kasih sayang dan cinta juga perhatian itulah sesungguhnya yang wanita butuhkan. Namun, para suami tidak memerhatikan hal ini, bagi mereka jika sudah mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari, maka tugas kewajiban mereka selesai.
Shofia benar-benar menghabiskan waktunya dengan berbelanja dan merawat dirinya. Setelah Shofia selesai, Shofia pun berniat pulang. Akan tetapi di tengah jalan menuju pintu keluar dari mall tersebut, Shofia bertemu dengan seseorang.
"Shofia? Kau kah itu?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments