Freya menatap wajahnya di cermin. Dia merasa tidak ada yang aneh, semua baik -baik saja. Bagian yang ia tanam susuk pun juga tidak ada keanehan apapun.
"Paling sekretaris Shofia itu hanya halu saja. Aku jadi parno sendiri! Hadech ... Dasar sekretaris sialan!" gerutu Freya di dalam hati. Freya pun kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.
Sementara itu di rumah, Yulia mengambil ponselnya yang tiba-tiba terjatuh. Hatinya mulai gelisah. Entah mengapa dia merasa ada yang tidak beres.
"Aku harus meminta bantuan Ki Sanca!" gumam Yulia. Dia pun beranjak dari tempat duduknya lalu bergegas menuju ke altar pemujaan. Kini Yulia sudah sah sebagai pengabdi dan pelayan Ki Sanca, sama seperti ibunya dahulu. Ternyata buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.
Yulia duduk lalu membakar dupa kemudian dia berkomat -kamit membaca mantra untuk memanggil Ki Sanca. Asap dupa telah mengangkasa, Yulia masih khusyuk membaca mantra. Tidak berapa lama kemudian, asap putih membumbung tinggi menjulang hampir sampai di langit-langit rumah Yulia.
Rumah sederhana, penuh dengan aura mistis. Rumah yang selalu menjadi tempat para manusia yang ingin hidup kaya, terhormat, terkenal, melakukan perjanjian ghaib dengan Ki Sanca. Yulia terkenal sebagai sang Nyai. Dukun wanita modern yang menjadi perantara para manusia sesat dan raja jin Ki Sanca.
"Ssshh ...."
Suara mendesis terdengar, pertanda Ki Sanca telah datang. Yulia i membuka matanya tepat saat Ki Sanca berubah wujud menjadi manusia tampan.
"Ada apa kau memanggilku, Yulia?" tanya Ki Sancw dengan suara yang menggelegar, namun hanya Yulia yang bisa melihat dan mendengarnya.
"Maaf, Padaku. Ada yang ingin hamba ketahui. Apakah cincin yang sudah hamba beri mantra bisa hilang pengaruhnya?" tanya Yulia dengan duduk bersimpuh.
"Bodoh!! Tentu saja, bagaimana bisa cincin itu hilang pengaruhnya pasti kau tahu!" gertak Ki Sanca. Yulia seharusnya tahu apa yang menyebabkan sebuah benda hilang kemampuan sihirnya. Namun, Yulia tahan untuk tidak menjawab hinaan dari Ki Sanca.
"Maaf, Baginda. Hamba lalai, namun tolonglah hamba, ada satu cincin yang ingin hamba tanyakan dimana keberadaannya. Bisakah Baginda membantu Hamba?" Yulia menatap penuh harap ke arah Ki Sanca yang menatap mesra pada Yulia.
"Apa maksudmu? Aku disuruh mencari cincin yang kau berikan pada korban mu? Begitu? Lancang sekali kau!!" geram Ki Sanca yang tidak mau diperintah oleh sembarang orang. Sorot mata Ki Sanca yang semula menatap mesra pada Yulia, kini berubah murka.
Yulia menunduk takut, tidak mengira jika Ki Sanca akan marah.
"Baginda, ampuni hamba. Hamba tidak bermaksud untuk lancang pada paduka. Hamba bersedia memberikan tumbal perawan pada paduka, jika paduka berkenan membantu hamba," ucap Yulia dengan percaya diri.
Ki Sanca menatap ke arah Yulia dengan tatapan tajam. Iming-iming dari Yulia membuat Ki Sanca goyah. Wanita yang masih gadis adalah kegemarannya.
"Baiklah, tapi ingat jika cincin itu tidak berada di daerah kekuasaanku maka aku tidak akan mau mengambilnya! Kau harus bertanggung jawab untuk mengambil sendiri cincin itu. Kamu paham!!" Suara Ki Sanca menggelegar, namun hanya Yulia yang bisa mendengar suara tersebut.
Suasana malam itu semakin mencekam, antara takut dan juga berharap akan dikabulkannya permintaan membuat Yulia bernapas dengan sesak. Dia merutuki kebodohan Freya yang begitu ceroboh hingga apa yang sudah mereka jalankan menemui hambatan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments