"Assalamu 'alaikum, Ummi," sapa Shofia memberi salam hormat pada sang ibu mertua. Tidak lupa Shofia mengecup punggung telapak tangan Ita. Shofia memanggil ibu mertuanya sama dengan Farhan memanggil sang ibu yaitu Ummi.
"Wa'alaikum salam, Shofia! Silakan masuk, Nak. Alhamdulillah, kau sudah kuat untuk mengunjungi ibu mertua mu ini," ucap Ita sembari memeluk sang menantu.
Ucapan Ita bukannya tidak berdasar, selama diketahui hamil, Shofia lebih banyak di rumah. Shofia sangat menjaga kandungannya. Dia takut terjadi masalah pada kandungannya saat diajak jalan-jalan.
"Ah, Iya, Ummi. Alhamdulillah sudah usia menginjak lima bulan jadi sudah kuat untuk diajak jalan-jalan," jawab Shofia dengan tetap tersenyum. Memang Shofia pada dasarnya sosok yang ramah dan murah senyum.
"Ayo masuk, Shofia. Ummi kebetulan membuat rendang kesukaan abah yang sama dengan kesukaanmu, bukan?" ajak Ita sembari tetap merangkul lengan Shofia. Dia tahu jika Shofia sangat menyukai rendang sama seperti sang suami.
"Wah, kebetulan sekali ummi. Shofia sangat ingin makan rendang. Oh ya, Ummi. Di mana Abah?" Shofia memendarkan pandangannya menyapu seisi mansion Ita. Sedari tadi dia tidak melihat ayah mertua yang biasa akan menyambutnya dengan penuh kasih sayang. Shofia adalah menantu kesayangan mereka.
Dulu orang tua Farhan lah yang tidak setuju jika Farhan poligami dan menikahi Freya. Akan tetapi karena Shofia bersikeras maka mau tidak mau Ita dan Azlan terpaksa harus menyetujuinya karena Shofia terus mendesak mereka untuk menyetujui agar Farhan melakukan poligami. Waktu itu sikap Freya, tidaklah begitu. Dia baik dan memiliki ilmu agama yang juga baik. Ternyata semua itu hanyalah sandiwara saja agar bisa menjadi istri dari seorang Farhan. Seorang ustaz sekaligus CEO perusahaan yang ternama.
Ita menarik sang menantu untuk mengikutinya duduk di sofa ruang tengah.
"Ayo duduk sini. Ummi memasakkan rendang untuk Abah karena untuk bekal lauk Abah selama syiar dakwah ke beberapa kota. Abah diminta untuk mengisi kajian dan mengadakan rukyah masal di beberapa kota di seluruh Indonesia. Mungkin dalam waktu yang lama, kurang lebih tiga sampai empat bulan. Sebenarnya Abah ingin mengajak umma, tapi Abah ingin umma menjaga kandunganmu. Abah berjanji akan kembali sebelum kau lahiran, Shofia," jawab Ita sang ibu mertua.
Deg! Deg!
Jantung Shofia berdetak kencang, serasa Shofia ingin menyusul sang ayah mertua. Dia hanya ingin bertemu sebentar untuk memberikan cincin pernikahan milik Farhan yang berhasil dia tukar. Tubuh Shofia mendadak lemas , dia pun pingsan.Pandangannya gelap seakan dia terkurung di dalam sebuah kamar ya g gelap.
"Shofia ... untuk apa kau mencari Abah?" tanya seorang lelaki yang tiba-tiba menghidupkan lampu di ruangan gelap itu.
Shofia bersorak gembira tatkala sang ayah mertua yang sangat menyayangi dirinya sama dengan putrinya sendiri itu datang menyalakan lampu di dalam ruangan gelap tempat Shofia berada.
"Abah? Abah bukannya sedang keluar kota?" tanya Shofia dengan sungging senyum penuh kelegaan. Saat ini dia tidak tahu sedang ada di mana.
"Abah pulang sebentar karena putri Abah ini mencari Abah kan? Untuk itu Abah sempatkan untuk menghampirimu! Apa yang akan ingin kau katakan pada Abah?" tanya Azlan menatap lembut pada menantunya itu.
"Shofia hanya ingin memberitahukan cincin ini pada Abah saja. Selain itu tidak ada lagi," jawab Shofia menyerahkan cincin yang ia bawa.
Azlan menautkan kedua alisnya lalu mengambil cincin yang diberikan oleh Shofia.
"Tenanglah, Nak. Perbanyak dzikir, jangan sekalipun tinggalkan rukyah mandiri. Perbanyak sholat malam, insyaallah pasti akan mendapat pertolongan dari Allah," ucap Azlan.
"Terimakasih atas nasehatnya, Abah. Shofia sekarang jauh lebih tenang," ucap Shofia dengan senyum penuh kelegaan. Azlan hanya membalas dengan senyuman.
Tiba-tiba, suasana gelap. Azlan telah pergi meninggalkan Shofia sendirian. Sayup-sayup suara memanggil nama Shofia terdengar di telinga Shofia. Namun Shofia masih belum bisa membuka mata.
"Shofia ... Shofia! Kamu kenapa, Shofia?! Bik ... Bik Atik! Cepat ke sini bik ...!!" Ita berteriak panik memanggil bik Atik. Dia tidak tahu mengapa Shofia tiba-tiba tidak sadarkan diri. Bik Atik adalah pembantu Ita yang sudah lama ikut dengannya.
"Iya, Nyonya ...." Sahut bik Atik dari arah dapur.
Setengah berlari bik Atik dan bik Asih pembantu Shofia mendekati sang majikan.
"Ada apa, Nyonya?" tanya bik Asih ikut panik melihat sang majikan pingsan. Setelah sampai tadi bik Asih langsung menuju ke dapur menemani bik Atik memasak..
"Cepat, Bik! Bibik bawa kemari minyak kayu putih dan segera bibik hubungi Farhan, cepat!!" teriak Ita yang juga panik.
Bik Atik dan Bik Asih saling bertukar pandang, salah satu di antara mereka mencari minyak kayu putih sedangkan yang lain menelepon Farhan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments