Shofia mengamati sang suami dari ujung rambut hingga ujung kaki. Dia mengamati pergerakan sang suami, meyakinkan diri untuk bisa mengambil celah, saat yang tepat untuk mengambil cincin tersebut.
Siapapun manusia baik berilmu atau tidak, jika sedang goyah rasa imannya maka akan mudah dirasuki sosok jin. Untuk itu, para ulama selalu mengajarkan sebagai benteng pertahanan diri maka jangan pernah menuruti hawa nafsu.
Shofia melihat cincin yang dipakai Farhan berkilau, mengeluarkan cahaya yang menyilaukan mata walau hanya sekejap saja.
"Mengapa cincin mas Farhan berkilau? Tidak biasanya cincin ini terlihat berkilau! Dan apa ituu ..?!" gumam Shofia melihat bayangan hitam yang berkelebat terbang keluar melewati jendela.
Shofia kembali menatap ke arah cincin Farhan. Karena penasaran, tangan Farhan perlahan diangkat oleh Shofia. Begitu pelannya hingga Farhan tidak merasakan gesekan atau gerakan yang berarti.
Shofi berhasil melepas cincin yang ada di tangan Farhan diamatinya cincin tersebut memutar. Tiba-tiba hawa panas menyerang diri Shofia. Tanpa di sengaja Shofia melempar cincin itu.
"Astagfirullahal adzim ...!" pekik Shofia sembari membungkam mulutnya, takut jika Farhan terbangun.Shofia mengibaskan tangannya untuk meredam rasa panas yang menyerangnya tadi.
Cincin yang terlepas dari tangan Shofia pun tiba-tiba lenyap entah kemana. Hawa panas pun kembali menyerang. Kali ini, tengkuk Shofia seperti sedang ditiup oleh seseorang dari belakang.
"Shofiiaaa ...!" suara lembut memanggil nama Shofia. Namun Shofia tidak mempedulikannya, dia mengira hanya salah dengar.
"Shofiaaaa ...." Suara itu kembali terdengar.
Shofia merasakan merinding bulu kuduknya. Rumah yang dulu senantiasa terlindungi karena ada pagar ghaibnya kini tidak lagi mampu menahan serangan ghaib itu. Semua dikarenakan ada hati yang setiap saat merasa didzalimi. Ya, semenjak Farhan menikah lagi, banyak kedzaliman yang Shofia rasakan.
Rumah tangga yang timpang sebelah, akan mudah dimasuki syetan yang siap menggoda manusia. Sama halnya rumah tangga Farhan dan Shofia, dulu yang begitu harmonis sekarang hanya terlihat dari luarnya saja. Tidak jarang Shofia merasa tidak mendapatkan keadilan jika Freya merajuk dan meminta Farhan lebih berat ke Freya dari pada ke Shofia.
"Siapa itu?" gumam Shofia dengan lirih karena takut membangunkan suaminya. Shofia memendarkan matanya menyapu bersih setiap pojok kamar. Akan tetapi tidak ada apapun.
Shofia mengambil cincin asli dan memakaikan ke jari Farhan Cincin yang terbuat dari perak itu melingkar indah kembali di jari manis Farhan tanpa Farhan ketahui. Sembari sesekali Shofia melirik ke arah wajah suaminya, takut mata itu terbuka dan akan marah jika cincinnya di ambil.
"Baiklah! Semua sudah kembali seperti semula. Cincin palsu ini akan aku bawa ke ayah Azlan saja. Jika cincin ini hanya cincin biasa, berarti memang semua yang dilakukan Freya memang hanya lumrahnya istri yang mencari perhatian suami. Tapi jika cincin ini bermasalah, maka tunggu saja aku akan merebut kembali mas Farhan dan menjauhkannya dari Freya!!" Shofia bermonolog dengan hatinya.
Azlan adalah mertua Shofia yang memiliki ilmu tinggi dalam masalah ilmu ghaib dan rukyah.
Shofia beranjak dari tempat duduknya, namun ketika akan melangkah menuju lemari yang biasa dia pakai untuk menyimpan pakaian dan barang berharga. Kaki Shofia terasa berat untuk digerakkan. Seperti ada tangan dengan berat ribuan mencekal dan mencengkeram kaki Shofia.
"Argh! Astagfirullah ... Allahu Akbar! Kenapa berat sekali!" Shofia masih terus berusaha menggerakkan kakinya yang dirasa sangat berat itu.
Shofia terus berdzikir dan membaca ayat-ayat pengusir syaitan ataupun jin. Tidak berapa lama kemudian kaki Shofia sudah bisa digerakkan.
"Alhamdulillah ... Terima kasih atas perlindunganmu, Ya Allah," Shofia mengusap dadanya lega, dia pun segera melanjutkan langkahnya menuju ke almari pakaian. Shofia bersegera membungkus cincin itu lalu menyimpannya ke dalam kotak perhiasan miliknya.
"Nanti siang, aku akan ke rumah ayah dan bunda. Semoga cincin ini hanya cincin biasa saja," gumam Shofia sembari menyimpan kotak perhiasannya di brankas. Dia berniat membawa cincin itu ke rumah Azlan sang mertua.
Setelah Shofia menyimpan cincin itu, hawa di sekitar Shofia yang semula panas kini mulai sejuk. Shofia melanjutkan membawa pakaian kotor ke tempat laundry. Shofia kembali ke kamarnya untuk membangunkan sang suami karena adzan subuh sudah terdengar.
"Mas ... Bangun, adzan subuh sudah berkumandang. Alangkah baiknya bersegera bangun dan membersihkan diri lalu ke masjid. Aku lihat mas akhir-akhir ini lebih banyak mengerjakan sholat di rumah dibanding ke masjid," ucap Shofia lembut membangunkan Farhan.
Farhan mengerjapkan matanya, mendadak ada hawa sejuk yang menyelimuti hati. Farhan melihat sang istri lebih cantik dari sebelumnya.
"Shofia? Mengapa kau begitu cantik?" Farhan menangkup wajah sang istri kemudian mengecup keningnya.
Shofia menatap aneh sang suami, tidak biasanya Farhan memuji diri Shofia. Sudah lama, semenjak Farhan menikah lagi, Shofia jarang dipuji seperti itu.
"Mas, kamu tidak kenapa-kenapa 'kan?" tanya Shofia pada Farhan yang tetiba memuji dirinya. Pujian dari sang suami adalah multivitamin terbaik bagi seorang istri.
"Memang kenapa? Bukankah tiap bangun tidur aku selalu memujimu, wahai bidadari ku?" ujar Farhan dengan alis yang menyatu di dahi dan senyum yang menghiasi bibirnya.
Shofia semakin yakin suaminya sedang dalam pengaruh kekuatan ghaib. Jiwa Farhan tidaklah berada di tempatnya saat cincin itu tersemat di dalam jarinya. Shofia menatap sendu sang suami.
"Alhamdulillah, Ya Allah. Kau kembalikan suamiku seperti dulu. Sungguh ini adalah Rahmat, pertolongan dan karunia-Mu. Ya Allah, hamba bersyukur Kau mengabulkan doaku," gumam Shofia sembari menangkup wajah sang suami dengan kedua tangannya.
"Hera ada apa? Mengapa kau menangis?" tanya Farhan pada Shofia yang air matanya mulai mengembun.
"Ah, tidak apa-apa, Mas. Ini hanya bawaan bayi saja. Biasa ibu hamil akan lebih sensitif jika hatinya merasa bahagia atau bersedih," ucap Shofa tidak ingin membuat suaminya merasa bingung.
"Mas ... tidak kau tahu bahwa hati ini selalu merindukan pujian, belaian mu seperti dulu. Semenjak kau menikah lagi, hampir semua itu terlewat begitu saja. Tapi apapun itu semua adalah kesalahanku sendiri, karena keegoisanku dan kebodohanku lah yang membuat mu pergi dari genggaman tanganku. Maafkan Shofia, Mas. Shofia berjanji akan bangkit dan merebut mu kembali ke dalam indahnya Surga Allah," gumam Shofia dalam hatinya.
Sungguh hal yang terberat bagi seorang istri yaitu karena kesalahannya sendiri, dia membuka pintu bagi masuknya orang ketiga. Andai waktu bisa diputar kembali saat ini pastilah tidak akan percaya pada kebaikan sosok yang sudah dianggapnya saudara itu.
"Shofia, kenapa? Kamu bilang tidak ada apa-apa, tapi mengapa pipi putih ini basah karena air mata juga?" Farhan mengusap air mata Shofia yang membasahi pipi putihnya.
Tangis Shofia semakin menjadi. Bukan tangis kesedihan tapi karena tangis bahagia. Dia berharap Farhan akan kembali seperti dulu.
"Mas, apakah semua tangis itu adalah tangis karena ada kesedihan? Tangis ku ini karena rasa syukurku pada Allah yang telah begitu banyak memberikan nikmat-Nya melalui perantara dirimu, Mas," ucap Shofia dengan Isak yang masih tersisa.
Farhan tersenyum, dia merasa lega setelah mendengar sendiri kalau istrinya itu sedang baik-baik saja.
"Mas, sudah Hera siapkan semua jika mas ingin mandi junub. Mulai sekarang Shofia akan menjadi Shofia mas seperti dulu," ucap Shofia sambil tersenyum.
Dahi Farhan kembali berkerut, mencerna apa yang diucapkan oleh sang istri. Kemudian dengan lembut, Farhan menanggapi sang istri.
"Terima kasih, Sayang. Tapi katakan mengapa kau bilang kau akan menjadi Shofia mas seperti dulu. Memang apa kau tidak seperti itu sebelumnya?" tanya Farhan terheran. Dia merasa tidak ada yang berubah dengan diri Shofia.
Deg ... Deg ...
Shofia terkesiap mendengar pertanyaan Farhan. Dia tidak menyangka sang suami akan bertanya seperti itu. Shofia semakin yakin selama beberapa bulan ini ada yang tidak beres pada diri Farhan. Sekalipun Farhan adalah ustadz, tidak jarang para ustadz pun bisa terjerembab dalam bujuk rayu syaitan sama seperti kisah lelaki ahli ibadah yang meninggal dalam keadaan bermaksiat.
"Mas ...."
Apa jawaban Shofia?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments