"Mbak Shofia? Kamu kenapa? Tidak masalah kan jika aku tanya hal yang biasa bagi suami istri. Maaf, jika mbak tersinggung," ujar Freya dengan wajah yang dibuat -buat. Namun hatinya tertawa senang dan mengejek.
"Benar, Shofia. Apa yang dilakukan Freya adalah hal yang wajar, dia tidak ingin mas merasa kecewa dengan pelayanan yang ia berikan." Farhan membela Freya. Entah mengapa Freya bisa mengatakan kalau hal yang sepatutnya dibicarakan secara pribadi oleh suami istri di dalam kamar, dianggap wajar oleh Farhan di depan istrinya yang lain. Pembelaan Farhan membuat Freya besar kepala.
"Mas, bukannya Shifia tidak suka, akan tetapi hal itu bukannya sesuatu yang hanya pantas dibicarakan secara pribadi oleh sepasang suami istri saja. Tanpa perlu pihak lain mendengarnya. Bagaimana nanti jika saat mas menjawab pertanyaan itu ternyata mas tidak puas dengan pelayanan Freya? Apa Freyaa tidak akan malu?" tegas Shofia dengan wajah serius.
Shofia mencoba menjelaskan semua yang dia pahami dari apa yang dia ajarkan oleh ayah mertuanya. Jangan sampai urusan ranjang diketahui dan didengar oleh orang lain.
"Mbak, bukannya kau juga istri dari mas Farhan. Kalau aku sih tidak masalah, apapun jawaban mas Farhan tidak akan membuat aku malu. Aku malah merasa senang bisa tahu kekuranganku. Tapi ... Aku yakin mas Farhan pasti akan menjawab bahwa mas Farhan sangat puas dengan pelayanan ku. Iya 'kan, Mas?" desak Freya menginginkan pembelaan diri.
Freya mengusap pipi Farhan dengan menggoda. Hal itu membuat Farhan seperti terbang melayang ke awan hingga apapun yang dikatakan oleh Freya adalah perintah mutlak untuk Farhan.
"Iya, Benar. Kau memang sudah memuaskan ku dengan baik, Freya," ucap Farhan sembari mengecup pipi Freya dengan mesra. Sungguh ini adalah pemandangan yang paling memuakkan bagi Shofia.
Mata Shofia terbelalak melihat pemandangan yang begitu menyayat hati. Wanita mana yang tidak sakit hati melihat sang suami mencium wanita lain, walau hanya di pipi saja. Namun, semua itu sangat menyakitkan.
Shofia pun beranjak dari kursi makannya. Dia sudah tidak sanggup melihat suaminya bersama dengan wanita lain, walau wanita itu adalah wanita pilihannya sendiri.
"Permisi, Mas. Shofia mau berangkat ke kantor," ucap Shofiaa dengan hati yang hancur.
"Mbak, Freya tidak ke kantor ya. Hari ini Freya hanya ingin menghabiskan hari bersama mas Farhan. Toh, kita kan pengantin baru jadi boleh dong kalau Freya cuti dulu," ucap Freya dengan senyum mengejek.
"Boleh. Itu adalah hak mu, dan tentu nya dengan persetujuan dari mas Farhan, " ucap Hera berharap jika Farhan akan memilih berangkat ke kantor daripada seharian bersama Freya.
"Terima kasih, Mbak. Aku yakin mas Farhan akan setuju. Hari ini kita akan menghabiskan waktu berdua, boleh kan, Mas?" rayu Freya dengan wajah yang dibuat semenarik mungkin.
Lagi-lagi Freya menggunakan rayuannya pada Farhan. Farhan yang terpengaruh oleh kata-kata Freya pun membenarkan apa yang dikatakan oleh Freya.
"Shofia permisi dulu, Mas. Assalamu 'alaikum, " ucap Shofia berpamitan dengan mengecup tangan sang suami.
Shofia tertegun dengan sikap Farhan yang tidak peduli dengan perasaan Shofia. Dengan menghela napas kasar, Shofia pun pergi meninggalkan dua orang yang tidak tahu tempat itu.
Wanita cantik dengan segala daya pikat itu berjalan meninggalkan Farhan dan Freyaa yang masih asyik saling menyuapi.
"Astaghfirullah ... Ya Allah, kuatkan hati hamba Mu. Jadikanlah Hamba sebagai hamba yang pandai bersyukur dan kuat," pinta Shofia dalam doanya di dalam hati.
Shofia meninggalkan rumah dengan kondisi hati yang sakit. Dia tidak mengira jika poligami itu sangat menyakitkan. Namun, semua sudah terlanjur, waktu tidak bisa diputar kembali.
Dengan langkah gontai Shofia berjalan menuju ke tempat parkir mobilnya. Dulu, dia dan Farhan selalu berangkat bersama jika akan pergi ke kantor.
"Tidak ... Ini semua adalah keinginan ku, aku tidak boleh menyesalinya. Apa yang aku perbuat maka aku harus siap dengan segala risikonya," ucap Shofia di dalam hati sambil memegang kemudi mobil. Dia akui jika dirinya telah salah dalam mengambil keputusan.
Sementara itu, Freya tertawa mengingat raut wajah Shofia yang ditekuk karena merasa kecewa dengan suaminya.
"Shofia, sebentar lagi kau akan menangis menyesali keputusan mu dulu. Di dunia ini tidak ada wanita yang tidak sakit hati jika melihat sang suami berbagi cinta dengan wanita lain. Perlahan akan aku rebut semua apa yang menjadi milikmu! Hahaha ...." Shofia tertawa dalam hati.
"Sayang, kamu kenapa? Apa ada yang membuatmu tertawa seperti itu?" Ucap Farhan melihat Freya tertawa. Dia ingin tahu apa yang menyebabkan Freya tertawa.
"Ah, enggak ada sih, Mas. Aku tertawa karena habis lihat sinetron lucu," elak Freya berbohong. Dia tidak mungkin bilang pada Farhan kalau ia sedang menertawakan istri pertamanya.
Lelaki dengan hidung mancung dan tahi lalat kecil di pelipisnya, tersenyum karena bagi dirinya kebahagiaan dari sang istri adalah yang utama.
Di kantor, Shofia berkutat dengan tumpukan berkas yang harus ia tanda tangani. Liburnya Freya membuat Shofia sedikit kewalahan. Shofia mendengkus kesal, kini dia merasa menyesal, mengapa dirinya begitu nekat untuk menjadikan Freya sebagai madunya.
"Mengapa aku begitu bodoh, dengan mudah memberikan suamiku sendiri pada wanita lain! Dan sekarang baru menyesal, astaghfirullah ... Ternyata seperti ini sakitnya di poligami!" cicit penyesalan Shofia diiringi air mata yang menganak sungai. Kehidupan poligami yang dalam angan Shofia akan indah ternyata salah, Freya mulai menunjukkan wajah aslinya.
Shofia menatap foto pernikahan dirinya dengan Farhan lima tahun silam. Diri Shofia masih ingat bagaimana Farhan memperlakukan dirinya yang bagai ratu.
Farhan dan Shofia saling mencintai semenjak di bangku kuliah. Kecerdasan dan kecantikan Shofia mampu membuat seorang Farhan bertekuk lutut.
Sementara itu Freya dan Farhan pagi itu sama-sama saling mereguk surga dunia. Farhan seperti terhipnotis dengan pelayanan Freya yang sangat kuat. Freya lah yang mendominasi permainan panas mereka.
"Ayolah, Mas! Jangan berhenti karena aku sangat menyukainya!" racau Freya. Janda yang telah lama ditinggal mati oleh suaminya tentu akan sangat ganas seperti singa yang mendapatkan buruannya.
"Aku berharap segera mendapatkan keturunan dari mu. Aku ingin menjadi satu-satunya menantu yang bisa memberikan keturunan untuk keluarga mu, Mas!"
Ternyata Freya menginginkan segera bisa memberikan keturunan yang sangat diharapkan oleh orang tua Farhan. Dengan begitu dia akan bisa menguasai Farhan dan seluruh hartanya. Keluarga Farhan adalah keluarga yang kaya raya. Memiliki banyak usaha hingga keluarga Farhan dikenal dan disegani penduduk kota itu.
"Tentu, Sayang. Mengapa tidak? kau adalah istriku, sudah tentu anakmu yang akan menjadi pewaris seluruh harta ku," ucap Farhan di sela aktivitas mereka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments