Shofia tertegun menatap sang suami yang dia kira masih sama seperti sebelumnya, ternyata Farhan benar-benar sudah berubah. Hati Shofia terharu dan menitikkan air mata kebahagiaan.
"Assalamu 'alaikum, Mas. Terima kasih," ucap Shofia sambil menitikkan air mata. Merasa haru dengan kebaikan hati Farhan untuknya, dirinya sangat merindukan momen seperti pagi ini. Shofia mencium tangan Farhan sembari meneteskan air mata.
"Jangan bersedih, Shofia. Mas akan selalu ada untukmu," ucap Farhan tersenyum, kemudian meninggalkan Shofia yang duduk sendiri di meja makan.
"Alhamdulillah ya Allah, akhirnya apa yang aku pinta Engkau kabulkan. Sungguh ini sebuah karunia dari-Mu. Terima kasih untuk pagi ini," ucap Shofia di dalam hati. Meskipun ia harus dihina oleh Freya, Shofia tetap bersyukur atas perubahan sikap Farhan yang meski hanya sedikit.
Freya melongo, gelegak lava panas yang ada di dalam hatinya siap dimuntahkan. Namun, belum sempat ia memarahi Shofia, tangan Farhan menariknya paksa. Mata Farhan menatap tajam pada Freya.
"Kamu mau ke kantor, atau aku suruh pulang. Jangan ganggu Shofia lagi, atau kamu akan aku salahkan jika terjadi apa-apa dengan kandungan Shofia!" ucap Farhan kasar sambil menarik tangan Freya meronta-ronta keluar. Baru pertama kali ini Farhan bersikap kasar pada seorang wanita. Entah apa yang menguasai dirinya saat ini, dia begitu marah pada Freya.
Freya merasa amarahnya sudah sampai di ubun-ubun, namun ia ingat apa yang dikatakan oleh Yulia agar menjaga emosi jika ada di depan Farhan. Seketika Freya mematikan api kemarahannya. Walau masih ada abu dalam hatinya yang tidak akan pernah hilang, ia tidak sampai membencinya.
"Baiklah, Freya. Kamu harus bisa menahan amarah, jangan sampai emosi buruk ini menghancurkan apa yang sudah kamu bangun! Aku tidak ingin mengalami kegagalan seperti yang Yulia rasakan dulu," ucap Freya di dalam hati, berusaha menenangkan dirinya sendiri.
Freya seketika merubah ekspresi wajahnya, dari yang semula penuh amarah menjadi berusaha bersikap manis dan menahan egonya sehingga Farhan tidak lagi marah padanya. Namun apa yang ia lakukan tidak digubris oleh Farhan. Farhan berubah dingin pada Freya.
Farhan biasanya berangkat bersama Freya ke kantor karena Freya dipercayai Shofia untuk mengurus Sinar Corps dan Farhan mengurus Barokah Corps.
Setelah suaminya dan ibu tirinya sudah tidak ada di depan rumah, Shofia bangkit dari duduknya. Ia bersiap-siap pergi ke rumah mertuanya. Saat ini pastilah kedua mertuanya sedang mengikuti kajian di masjid samping rumahnya. Ya, setelah pensiun dan menyerahkan semua urusan pada Farhan dan Fariz. Azlan bersama Ita lebih banyak menghabiskan waktu untuk mengejar akhirat.
Banyak yang menjuluki Imran sebagai ustadznya para ustadz. Ilmu yang dimilikinya luas dan menyeluruh. Azlan sering menjadi rujukan para ustadz lain dalam menyelesaikan berbagai masalah.
Shofia bergegas mengenakan jilbab panjangnya. Sejak menjadi ibu rumah tangga biasa, Shofia lebih memilih mengenakan jilbab panjang hingga ke paha saat di luar rumah. Ia tidak lupa membawa tas selempang yang selalu menemaninya ke mana pun, dan kotak cincin milik Farhan.
Kali ini Shofia mengajak Sarni, perempuan paruh baya yang ditugaskan Farhan untuk menjaga Shofia. Tugas Sarni adalah selalu melayani dan menemaninya ke mana pun ia pergi.
Shofia berjalan menuju mobil hitam mewah dengan sopirnya.
"Pak Rozak, tolong antar saya ke rumah abah dan umma," titah Shofia pada sang sopir yang selalu mengantarnya. Shofia yang telah diketahui hamil, Farhan selalu memintanya untuk lebih berhati-hati dan selalu diantar sopir kemanapun ia pergi.
"Siap, Nyonya," jawab Rozak sambil tersenyum ramah.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, Rozak membawa mobil itu dengan hati-hati sesuai dengan perintah atasannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments