Bab. 16

Ki Sanca menatap Yulia dengan tatapan angkuhnya. Sosok jin dari bangsa ular itu pun senang karena sang pemuja begitu patuh. Dalam alam pikir Ki Sanca, dia telah berhasil memperdaya umat manusia itu agar lebih jauh terpelosok jatuh ke lembah dosa.

"Baiklah, Paduka. Hamba akan mematuhi semua perintah paduka raja," jawab Yulia yakin.

Ki Sanca tersenyum dengan seringai di ujung bibirnya.

"Jangan lupa tumbal gadis perawan tepat malam Jum'at Kliwon nanti!" suara Ki Sanca bergema seiring asap menutupi tubuhnya dan kemudian menghilang.

Yulia menghela napas panjang, dia harus mencari seorang gadis perawan untuk dijadikan tumbal malam Jum'at Kliwon nanti. Hari ini baru malam Selasa artinya untuk sampai pad Jum'at Kliwon, butuh dua hari lagi.

Dalam waktu dua hari, Yulia harus bisa mendapatkan seorang gadis yang masih perawan.

"Di mana aku harus mendapatkan gadis yang masih perawan? Secara gadis jaman sekarang banyak yang sudah tidak perawan lagi. Apa aku harus pergi ke kampung tempat mama Riani?" gumam Yulia. Yulia berpikir di daerah ibu asuhnya masih banyak gadis yang masih perawan.

Yulia beranjak dari duduknya. Dia bergegas untuk siap -siap pergi ke kampung halaman sang ibu asuh. Yulia tidak ingin membuang waktu lagi. Dia berharap Ki Sanca segera menemukan dimana cincin jimat untuk Farhan. Andai cincin itu ketemu, pasti Freya akan kembali menguasai Farhan sama seperti sebelumnya.

"Aku tidak boleh membuang waktu lagi. Segera aku harus mencari gadis perawan untuk junjungan ku Ki Sanca," gumam Yulia berdiri di depan cermin yang tingginya seukuran manusia.

Yulia pun menghubungi Freya, dirinya membutuhkan armada untuk bisa sampai ke kampung halaman sang ibu angkatnya.

"Hallo, Yulia. Ada apa?"

"Freya, kirimi aku mobil. Aku harus pergi ke kampung halaman ibumu untuk mencari gadis yang masih perawan. Jika kau ingin cincin yang dipakai Farhan kembali, kau harus membantu ku kali ini," ucap Yulia lewat sambungan teleponmya.

"Kau merepotkan saja, Yulia! Buat apa menjanjikan Ki Sanca seorang gadis yang masih perawan, kan bisa yang lain. Bagaimana nanti kau akan menjadikan gadis itu tumbalmu? Apa tidak berbahaya? Bisa dilaporkan kau ke pihak yang berwajib!"

"Freya! Semua ini demi kau ya! Kau yang mengeluh cincin yang Farhan pakai sudah tidak ada khasiatnya lagi. Wajar kan aku tanya ke Ki Sanca?! Dan asal kau tahu, Ki Sanca tidak mau membantu jika tidak ada tumbalnya!! Kalau kau tidak mau, ya sudah sampai di sini saja kerjasama kita, dan kau bersiaplah menjadi gelandangan lagi bersama anakmu!!" ancam Yulia.

"Okey ... Okey! Aku minta maaf Yulia! Baiklah aku akan segera ke rumahmu, aku tidak mungkin membiarkan sopirku yang datang, bisa bocor karena dia lapor pada Shofia dan Farhan!"

Freya pun akhirnya menyetujui permintaan Yulia i, gegas dia meninggalkan kantornya lalu menuju ke rumah Yulia yang berjarak kurang lebih empat jam perjalanan.

Sebelum berangkat, Freya menelepon sang suami untuk memberinya kabar kalau dia akan pergi ke mudik ke kampung halamannya.

Tuut ....

Tuuut ....

"Hallo, Assalamualaikum, Freya. Ada apa?" ucap Farhan dengan nada datar, tidak seperti biasanya jika mereka berdua berbicara di telepon pasti dengan nada mesra.

"Emm ... Wa'alaikum salam, Mas. Mas, Freya pamit mau ke rumah ibu. Ibu tiba-tiba sakit, Freya harus segera ke sana. Mas tidak usah mengantarnya, mas fokus aja pada mbak Shofia. Sampaikan salamku pada mbak Shofia ya, Mas. Maafkan jika belum sempat menjenguk," ucap Freya dengan aktingnya yang tidak diragukan lagi.

"Ya, Baik. Hati-hati di jalan, sampaikan salamku pada ibu," jawab Farhan

datar-datar saja. Tidak ada keinginan untuk mencegah ataupun mengantar seperti sebelumnya.

"Baiklah, Mas. Nanti akan Freya sampaikan pada ibu. Assalamualaikum, Mas."

"Wa'alaikum salam," jawab Farhan biasa saja.

Freya menghela napas kasar, dia masih merasa jika Farhan sudah berubah. Biasanya akan ada drama kalau Freya ingin berkunjung ke rumah sang ibu. Drama tidak boleh tanpa Farhan yang menemani, dan drama harus segera kembali, dan lain-lain yang membuat Freya seperti sedang diperhatikan oleh Farhan.

"Baiklah, Mas. Aku akan ikut Yulia sekalian menambah ilmu pengasihan yang baru, aku tidak rela jika kau lepas dariku. Aku tidak ingin apa yang aku miliki pergi begitu saja dari hidupku! Harta, kekuasaan, nama baik semua harus aku pertahankan!" gumam Freya sembari mengemudikan mobilnya.

Sementara itu di rumah Ita.

Shofia a sudah siuman setelah kedatangan Farhan. Kehangatan kasih sayang Farhan mampu membuatnya kembali ke alam nyata. Untuk sejenak tadi, Shofia berada di dimensi lain.

"Sayang, kau sudah sadar?!" tanya Farhan pada sang istri yang mengerjapkan mata perlahan.

"Mas Farhan ...?"

Shofia berusaha bangun dari tempatnya. "Awas, Sayang. Hati-hati," ucap Farhan membantu sang istri untuk duduk.

"Mas sejak kapan pulangnya?" tanya Shofia sambil memijat pelipisnya yang agak pusing.

"Sudahlah, sebaiknya kau minum air putih ini tebih dahulu, Shofia," ucap Farhan memberikan air putih yang ada di meja..

Shofia mengangguk menuruti perintah sang suami.

"Katakan Shofia, mengapa kau pingsan? Apa kau kelelahan?" tanya Farhan dengan penuh perhatian. Diusapnya lembut Surai hitam sang istri.

Shofia tersenyum tipis, dia tidak mungkin bercerita bagaimana dirinya bisa pingsan. Gara- gara tidak bisa bertemu dengan sang ayah mertua untuk bertanya tentang cincin berpetuah itu.

"Mungkin, Mas. Cuaca ya g tidak mendukung juga bisa. Siang ini panas sekali bukan?" ungkap Shofia dengan menjadikan cuaca panas sebagai alasannya.

Farhan menghela napas kasar, sudah berulang kali dirinya mengingatkan Shofia untuk beraktivitas yang tidak banyak menguras tenaga. Farhan mendesah kasar, perasaan kecewa dan kesal menjadi satu.

"Shofia ... Sudah mas bilang berulang kali kau tidak boleh beraktivitas yang berat, lihat bagaimana akibat dari kecerobohan mu itu. Untung ada di rumah umma, jika tidak ... Mungkin mas tidak akan memaafkan dirimu!" Farhan memijat pelipisnya yang terasa berdenyut.

Anak yang dikandung Hera adalah anak yang diharapkannya menggantikan calon putranya yang tidak jadi dilahirkan.

"Maaf, Mas," ucap Shofia menunduk. Rasa trauma dibentak dan dipojokkan oleh Farhan masih bersemayam di ingatan.

Bukan tanpa sebab Shofia merasa trauma, karena semenjak menikah dengan Freya, Farhan banyak berubah.

"Shofia mengapa kau seperti takut pada mas?" tanya Farhan dengan rasa tidak berdosa. Dia lupa apa yang ia lakukan sewaktu masih dalam pengaruh Freya. Wanita yang diminta Shofia untuk menjadi madunya.

"Kau tidak mengingat apapun, Mas?"

"Mengingat apa, Shofia?" tanya Farhan dengan terheran. Dia merasa tidak melakukan apapun yang menyakiti Shofia. Apa yang Farhan lakukan dulu ternyata di luar kesadarannya.

"Haruskah aku bercerita?" ucap Shofia dalam hati.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!