Bab. 19

Shofia duduk terpekur menatap malas tumpukan berkas yang seakan tidak ada habisnya itu. Dia seperti buruh sedangkan Freya seperti majikan yang tinggal menikmati hasil kerja Shofia dan Farhan.

Shofia menatap potret sang putra yang ia simpan dalam album di laci meja kerjanya. Tiba-tiba air mata Shofia meleleh. Rasa sesak menyeruak di dada. Entah apa yang ia rasakan saat ini. Marah, benci, kesal, dendam semua menjadi satu. Emosi negatif muncul di hati Shofia.

Apabila emosi negatif sudah bersarang di hati, maka pikiran tidak akan bisa jernih dan mudah dipengaruhi bisikan jahat.

"Nak, kalau tahu akan sesakit ini, mungkin umma tidak akan menuruti bisik hati yang meminta umma untuk menjadikan Freya sebagai istri kedua abahmu." Shofia berbicara pada potret mendiang anaknya yang sudah tidak ada, ia meninggal di usia enam bulan.

Shofia menangis sesenggukan, sungguh dia tidak kuasa untuk menahan segala sakit yang tidak berdarah ini. Shofia mengusap lembut potret bayi lelaki lucu itu. Dia tidak tahu pada siapa dia akan mengadu. Ayah dan ibu mertuanya setuju dengan paksaan dari Shofia Jadi Shofia harus menanggung sendiri rasa sakitnya itu.

"Nak, tolong pikirkan sekali lagi tentang keputusan mu ini. Tidaklah mudah menjalani kehidupan poligami. Tengoklah Abah dan umma mu ini, tidak ada poligami di antara kami," ucap Azlan kala itu. Mereka berkumpul untuk membahas permintaan Shofia.

"Tapi, Abah. Shofia sudah tidak bisa lagi memberikan keturunan pada mas Farhan. Sudah hampir dua tahun Shofia belum bisa hamil juga. Kalian membutuhkan penerus untuk perusahaan besar ini," cicit Shofia terus melontarkan kata-kata yang meyakinkan.

Walau hati Shofia menolak tapi bisikan halus terus mendesaknya untuk berbicara di luar kendalinya.

Azlan dan Ita saling menatap heran dengan sang menantu. Azlan terus berdzikir sedangkan Ita membelai kepala Shofia agar mau memikirkan lagi keputusannya.

"Hera, istighfar, Nak. Kau masih bisa hamil. Semua ada waktunya, hanya saja saat ini kau memang belum diberi kesempatan itu," ucap Ita menenangkan sang menantu.

Shofia menghentikan tangan sang ibu mertua yang mengusap kepalanya, seraya berkata, "Umma, keputusan Shofia sudah final. Hera ingin mas Farhan menikah lagi. Dan calon pengantin wanitanya adalah Freya, sekretaris Shofia. Shofia tidak meragukan lagi karakter dia bagaimana. Mas Farhan, mas setuju kan?" Shofia terus membujuk Farhan.

"Tapi Shofia ... Bersabarlah, mas yakin kau pasti akan hamil kembali!" tolak Farhan dengan lembut.

"Tidak, Mas. Shofia yakin, ini adalah keputusan terbaik," rayu Shofia lagi.

Farhan mengusap kasar wajahnya sambil menghela napas, Farhan menyerah pada keputusan Shofia yang tiap hari selalu mendesaknya untuk menyetujui permintaan Shofia, walaupun hati Farhan terasa berat.

"Iya, Sayang. Semua mas lakukan hanya untuk kebahagiaan mu," ucap Farhan menahan segala gejolak di dadanya. Dia tidak bisa marah pada sang istri. Hampir setiap malam yang dibahas adalah kebaikan Freya dan keinginan Shofia untuk menjadikan Freya sebagai adik madunya.

Semenjak Freya menjadi sekretaris Hera, Hera sering mengajak Hasna main ke rumahnya. Kadang juga mengajak Hasna untuk berlibur bersama.

Shofia terlalu bersemangat untuk menceritakan semua kebaikan Farhan hingga membuat wanita lain ingin berusaha memiliki suaminya. Shofua tidak sadar jika perbuatannya yang selalu memuji sang suami di depan Freya akan berujung pada rasa sakit.

Nasi sudah menjadi bubur, tidak hal yang terjadi bisa ditarik ulang kembali. Pan begitu juga pernikahan Farhan dan Freya sudah terjadi, tidak akan mungkin bisa dibatalkan kecuali perceraian.

Shofia menangis di atas meja dengan tangan kiri sebagai alasnya sedang tangan tangan kanan mengusap potret sang anak. Bayi berumur enam bulan yang sangat menggemaskan. Badannya gembul dengan lesung pipi di kedua pipinya.

Hati ibu yang mana tidak akan bersedih jika melihat sang anak yang lucu dan periang tiba-tiba terkulai lemah di brankar rumah sakit.

"Nak, kau tentu sudah bahagia di sana. Andai umma bisa ikut dengan mu, hati umma tidak akan merasakan kesedihan ini. Umma harus bagaimana? Abahmu butuh keturunan untuk meneruskan semua usaha dari kakekmu. Tidak mungkin umma akan bersikap egois, umma harap suatu saat kita akan bertemu," gumam hati Shofia mencurahkan kesedihannya di depan potret sang anak.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!