Bab. 4

Farhan menunggu jawaban dari istri pertamanya. Di dalam hati Farhan merasakan bahwa ada yang sesuatu yang janggal, akan tetapi itu sulit untuk diungkapkan. Perasaan bersalah yang mendera, dan juga hati yang tidak tenang saat berada di samping Shofia. Sedangkan jika berada di samping Freya, hati Farhan menghangat, nyaman dan merasakan ketenangan. Hal itulah yang ingin sekali dia tanyakan, namun takut melukai hati Shofia.

Shofia mengambil napas dalam-dalam, kemudian mengembuskannya pelan-pelan. Di dalam hati Shofia, dia sudah berjanji tidak akan menceritakan semua tentang perubahan Farhan pada dirinya dulu. Semua itu Shofia lakukan untuk menjaga hati dan perasaan suaminya. Bagi Shofia, dengan Farhan berubah seperti itu, Shofia sudah sangat bersyukur sekali.

"Mas, tidak ada apa-apa, kok. Bolehkan Shofia memiliki keinginan untuk menjadi istri mas yang lebih baik lagi dari sekarang ini. Semua istri di dunia ini pastilah menginginkan dirinya berubah untuk menuju ke arah yang lebih baik. Dari yang kurang peduli, berubah menjadi lebih peduli lagi pada suami. Dari yang kurang menarik, maka akan belajar lagi menjadi wanita yang menarik di mata sang suami. Benarkan, Mas?"

Shofia mengedipkan mata sebelah kanan dengan genit. Shofia sudah berjanji akan kembali menjadi wanita satu-satunya yang dicintai oleh suaminya. Freya sudah mengibarkan perang dengan berbuat licik. Untuk itu sudah waktunya Shofia untuk berjuang merebut kembali sang suami.

Farhan hanya bisa menghela napas. Jawaban yang sangat ia inginkan ternyata tidak dia dapatkan. Mungkin lebih baik dia diam dan akan mencari tahu dengan caranya sendiri.

Sementara itu, di dalam pikiran Shofia, Shofia tidak menyangka di balik gamis dan jilbab besar Freya tersimpan sebuah dengki yang akan menghanguskan pemiliknya. Freya terlalu serakah saat diberi kesempatan untuk menjadi istri seorang Farhan, bukannya bersyukur tapi malah kufur nikmat.

"Benar, Shofia. Mas semakin kagum denganmu. Baiklah, Mas akan mandi terlebih dahulu. Pagi ini akan ada meeting dengan klien. Berdoalah agar Sinar Corps semakin maju," ucap Farhan mengusap kepala sang istri kemudian beranjak menuju ke kamar mandi. Sinar Corps adalah perusahaan milik ayah Farhan. Satu-satunya perusahaan terbesar di kota itu dan juga terbesar di Asia.

Shofia menatap punggung Farhan, seketika terbit senyum di bibirnya. Shofia merasakan perubahan yang sangat besar, Shofia yakin jika apa yang terjadi pada Farhan adalah karena pengaruh cincin itu. "Alhamdulillah, ya Allah. Hamba berharap ke depannya mas Farhan akan jauh lebih baik lagi, tunjukkan padanya jalan lurus, jadikan dirinya imam yang adil bagi istri-istrinya," doa Shofia terucap dengan tulus dari hatinya.

Dengan langkah hati yang lebih ruang dari hari sebelumnya, Shofia mulai menyiapkan sarapan untuk Farhan. Tidak biasanya Shofia mau menyiapkan sarapan untuk Farhan semenjak kehamilannya yang kedua ini. Takut kecapekan dan takut bayinya bermasalah itu yang menjadi alasan Shofia tidak mau melayani Farhan.

"Hmm ... Masyaallah, harum sekali aroma masakan mu, Sayang. Lama sekali mas tidak mencium harum aroma masakan mu," puji Farhan namun menyentil hati Shofia.

"Alhamdulillah, Mas. Shofia sudah kuat untuk aktivitas kembali. Sepertinya jagoan kita tahu kalau umma dan abahnya sangat lapar.". Shofia menyibak jilbab yang dia pakai ke bahu agar tidak mengenai kuah sayur yang dia buat hari ini.

Satu mangkok sayur asam dengan sambal tomat lengkap dengan ikan asin adalah menu favorit Farhan.

"Anak abah memang hebat!

Oh ya, Sayang. Aku masih ingin bermalam di sini, tolong kamu siapkan siapkan piyama waktu mas pulang nanti," ucap Farhan sembari mengambil kursi untuk duduk. Aroma sayur asam buatan Shofia membuat Farhan bersemangat sarapan pada pagi hari ini. Tidak biasanya dia mau sarapan di rumah Shofia, yang ada dia dan Freya sarapan di luar.

Shofia mengerutkan dahinya, tidak biasanya Farhan akan menginap di rumah Shofia, biasanya juga cepat -cepat dia akan menemui Freya. Apakah itu pertanda ada harapan bagi Shofia untuk berjuang kembali? Mendapatkan apa yang sudah terlepas dari dalam hidupnya? Hanya Shofia yang tahu dan merasakan semua itu.

"Mas, maaf. Bukannya Shofia tidak suka dengan adanya mas di sisi Shofia. Tapi, bukankah malam ini jatahnya mas menginap di rumah Freya?" tanya Shofia dengan hati-hati, takutnya sang suami akan tersinggung.

Deg!

Farhan terasa dicubit hatinya, sang istri mengingatkan diri Farhan pada sang istri muda. Farhan terdiam menatap ke arah Shofia Belum juga dia hendak bicara, tiba-tiba Freya datang dan masuk begitu saja ke rumah Shofia

"Mas ... Mas Farhan ... di mana kamu, Mas?" teriak Freya a hendak masuk ke kamar pribadi Shofia dan Farhan. Sungguh tidak sopan.

"Freyaa!" teriak Farhan mencegah tangan Freya yang hendak membuka handle pintu. Tidak biasanya juga Farhan berteriak pada sang istri muda. Jika Freya datang maka Farhan akan memperlakukan Freya bak ratu, sedang Shofia hanya dijadikan patung pajangan.

Freya berjalan dengan jumawa-nya, mengira kalau Farhan akan memperlakukan dirinya seperti biasa dia datang ke rumah Shofia. Memanjakan dan selalu menuruti keinginan Freya.

"Maas ... Malam ini jatah aku kan? Aku sudah rindu denganmu," ucap Freya manja dengan tangan yang bergelayut manja di bahu Farhan, tanpa merasa canggung kalau dia ada di depan sang istri pertama Farhan.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!