Bab. 2

"Shofia, mengapa malam ini kamu sangat berbeda, Sayang? Kamu terlihat lebih cantik, tidak seperti biasanya, Sayang!" ucap Farhan yang mendadak melihat Shofia berbeda dari biasanya.

Farhan menatap penuh hasrat pada sang istri. Farhan merasakan kembali manisnya malam syahdu untuk berbagi peluh. Shofia hampir saja melupakan tugas dan kewajibannya memenuhi kebutuhan batin sang suami lantaran untuk menjaga kehamilannya. Ya Shofia dinyatakan hamil saat merasa putus asa tidak bisa memberikan keturunan pada keluarga Farhan.

Perasaan sedih dan kecewa saat anak kembarnya yang pertama meninggal dunia membuat Shofia terlalu posesif dan menjaga kehamilannya saat ini secara berlebihan, hingga dia mengambil keputusan yang salah lantaran tidak sabar menunggu kapan Allah memberikan karunia-Nya.

Anak lelaki yang selamat dan bisa bertahan dari kejahatan Yulia -istri pertama Farhan yang dinikahi hanya sebagai syarat untuk bisa membantu Yulia dari gangguan jin ular. Kenyataan buruk harus Shofia telan, ternyata bayi kedua yang lahir selamat juga terpaksa menyusul kakaknya yang meninggal dalam kandungan. Putra Farhan dan Shofia hanya bertahan enam bulan saja dikarenakan mengalami gangguan kesehatan di ginjalnya. Ginjal bayi itu belum berfungsi dengan sempurna hingga bayi yang diberi nama Reyhan Alamsyah itu tidak bisa bertahan lama di dunia.

Kesedihan yang teramat sangat membuat Shofia tertekan hingga belum bisa kembali memberikan keturunan pada Farhan. Kesedihan akan kehilangan kedua anak kembarnya membuat Shofia menutup diri dan depresi dia sering menolak Farhan setiap kali diajak berhubungan badan.

Keadaan itu berlangsung lama, hingga karena kebodohan Shofia dan keinginan Farhan untuk bisa cepat memiliki anak, maka Shofia meminta Freya sang sekretaris menjadi madunya.

Awal Shofia meminta Farhan menikahi Freya, Farhan menolak karena Farhan hanya ingin memiliki satu istri. Namun, entah mengapa tiba-tiba Farhan mau menikah dengan Freya saat Shofia membawa Freya ke rumahnya.

"Mas, kenalkan ini Freya, sekretaris yang membantuku di kantor. Freya, kenalkan ini mas Farhan, suamiku. Oh ya, aku tinggal dulu sebentar ya. Mau ganti baju dulu, habis itu kita akan bersama ke cabang perusahaan kita," ucap Shofia meninggalkan Freya dan Farhan sendirian di kamar tamu.

Farhan tidak menggubris apa yang Freya lakukan, dia tengah asyik memainkan gawainya membalas chat penting dari pegawai dan kliennya.

Freya menatap Farhan sambil berkomat kamit membaca mantra yang diajarkan oleh seseorang. Setelah selesai, Freya pun memanggil Farhan. Hati Farhan yang merasa kesal pada istrinya mudah terpengaruh oleh mantra Freya.

"Maaf, Tuan. Apakah saya boleh bertanya?" ucap Freya memecahkan keheningan yang melanda.

Farhan menoleh ke arah Freya, tanpa sengaja netra Farhan menatap bibir Freya. Entah mengapa tiba-tiba Farhan tertarik untuk mengobrol dengan Freya. Apapun yang dikatakan Freya bagaikan air hujan yang membasahi tanah yang tandus. begitu sejuk dan mampu membuat Farhan larut dalam kenyamanan yang disuguhkan oleh Freya.

Mulai sejak itu, Farhan dan Freya mulai akrab. Shofia yang pada waktu itu sangat ingin menjodohkan Freya dan Farhan pun seolah -olah membuka pintu lebar -lebar masuknya Freya ke dalam rumah tangganya.

***

"Mas, hati-hati. Pelan-pelan saja, ingat ada kehidupan di perut Shofia," ucap Shofia mengingatkan Farhan untuk melakukannya secara pelan. Dia takut terjadi apa-apa dengan janinnya. Rasa protektif berlebihan masih bersarang di hati Shofia. Namun, pikiran negatif mulai ia hilangkan dengan terus berdzikir menyebut nama Sang Pencipta.

"Mas selalu hati-hati, Sayang," jawab Farhan dengan lembut. Farhan juga tidak ingin membuat sang istri merasa tidak nyaman. Rasa takut masih ada di hati Shofia, untuk itu Farhan melakukan semua dengan begitu pelan dan lembut

Mereka berdua pun saling menuntaskan hasr4t yang selama ini terpendam. Shofia berpasrah diri pada Sang Khaliq akan kandungannya. Segala sesuatu yang diserahkan pada pemilik-Nya maka akan lebih terjaga.

Farhan mulai melaju dan mengerang hebat saat menuju puncaknya, sensasi yang berbeda dia rasakan saat bercinta dengan shofia dan istri keduanya-Freya. Kehamilan Shofia membawa rasa yang berbeda dibandingkan sebelumnya, bahkan lebih berkesan dibanding saat Farhan bersama Freya.

"Terima kasih, Sayang." Farhan mengecup kening, bibir dan terakhir perut Shofia yang membuncit. Bayi kembar, Shofia dapatkan lagi setelah kelahirannya yang dulu.

"Terima kasih, anak Abah. Rasanya lama tidak menengok kalian. Maafkan Abah yang sering meninggalkan kalian, semoga kalian tidak membuat umma kalian repot ya," ucap Farhan sembari mengelus kemudian mengecup perut Shofia dengan lembut. Perasaan lega menyelimuti keduanya.

Setelah mereka berdua melakukan ritual beradu senjata dan tamengnya, mereka pun membersihkan diri kemudian tidur saling berpelukan.

"Alhamdulillah ya Allah, Kau kembalikan suami hamba yang hendak lepas dari jalan keadilan. Semoga Engkau selalu melindungi dan menjaganya dari dosa dan maksiat," ucap Shofia di dalam hatinya. Dengan penuh lemah lembut, Shofia mengusap kepala sang suami hingga Farhan tertidur dengan lelapnya.

Di sudut kamar lain, barang berserakan tidak karuan. Kaca meja rias pecah berhamburan kemana-mana. Suara teriakan dan umpatan juga terdengar dari kamar tersebut.

"Sial! Kenapa lagi-lagi aku gagal! Entah apa yang salah dengan ritual yang aku lakukan hingga belum juga menguasai mas Farhan sepenuhnya!" geram sosok wanita yang hari ini bermaksud menarik perhatian sang suami tapi malah gagal total.

Freya-- wanita itu begitu marah lantaran sang suami tidak mau menemaninya malam ini. Biasanya dengan suka hati, Farhan akan datang dan meninggalkan istri tuanya.

Wanita dewasa itu pun mengambil ponselnya lalu ditekannya nomor kontak orang yang selama ini membantunya untuk mendapatkan sang pujaan hati. Freya tidak akan membiarkan Farhan kembali mesra pada istri tuanya.

"Mbak! Mengapa rencanaku bisa gagal! Semua saranmu sudah aku lakukan. Semua ritual sudah aku jalani. Tapi apa? Nol besar! Semua telah gagal! Dasar tidak berguna!" umpat wanita itu. Dia menelepon sosok yang selama ini membujuk dan mengajarinya ilmu hitam.

"Tunggu, Freya! Kamu belum kalah. Sudah menjadi istrinya saja itu sudah luar biasa. Sangat sulit untuk bisa menaklukkan lelaki ini. Hanya karena dia sedang ada masalah dengan istrinya lah yang bisa membuatmu masuk ke dalam hidupnya. Bersabarlah, kau harus bisa bersikap lebih sabar lagi. Jangan gegabah dan ceroboh seperti aku dulu. Ingat! Kau harus bisa terus bertahan menjadi istrinya!" sahut wanita di balik telepon. Wanita itu tidak mau begitu saja disalahkan oleh Freya.

Freya-- istri kedua Farhan pun terdiam membisu. Apa yang dikatakan wanita yang ada di seberang sana memang benar adanya.

"Baiklah, Mbak Yulia. Aku kali ini akan lebih bersabar, tapi ingat aku pegang kata-kata mu itu. Aku ingin menjadi istri satu-satunya mas Farhan."

"Tenanglah, kau harus bisa mengontrol emosimu. Semua akan menjadi berantakan jika kau tidak bisa mengontrol diri. Ikutilah alur yang sudah aku rencanakan dulu. Sampai saat ini kita sudah berada di titik aman. Jangan sampai gara-gara keserakahan dan kebodohan mu semua menjadi percuma!" gertak Yulia yang kesal karena malam-malam menerima telepon pengaduan dari Freya.

"Baiklah, Mbak. Aku akan mengikuti saranmu!" ucap Freya pasrah.

"Ingat jangan sampai kau lupa, tiap malam bulan purnama kau harus melakukan ritual bersamaku! Biarkan saja Farhan menginap di rumah istri tuanya walaupun itu malam itu adalah malam jatahmu bersamanya!"

"Oke, Mbak. Aku akan selalu ingat semua nasehatmu. Aku akan transfer sesuai yang kau pinta!"

"Bagus! Penyembuhan ku tinggal sedikit lagi. Jika waktu itu tiba maka akan membantu mu merebut Farhan dari tangan Shofia. Itu janjiku padamu! Maka bersabarlah sampai waktu itu tiba," ucap wanita yang dipanggil Yulia oleh Freya.

"Aku mengerti. Baiklah, aku tutup dulu, Mbak. Semoga semua rencana kita bisa berjalan dengan mulus," ucap Freya lebih tenang dari sebelumnya.

Freya terlalu percaya pada Yulia. Entah kenapa Freya begitu mudah untuk dibujuk oleh Yulia. Semua yang dikatakan oleh Yulia akan dipatuhi oleh Freya tanpa ada bantahan apapun. Termasuk harus mandi kembang tengah malam dan mencari tumbal agar apa yang dilakukannya bisa berjalan dengan mulus.

***

Shofia terbangun sebelum sang suami bangun untuk mengerjakan sholat subuh. Shofia memungut pakaian Farhan yang tergeletak begitu saja di lantai. Shofia tersenyum melihat suaminya, pergulatan kemarin malam masih membekas di ingatan. Shofia mengelus perutnya, dia lega karena sang jabang bayi yang ada di dalam perutnya tidak menunjukkan reaksi yang berlebihan.

"Sepertinya kalian juga ingin selalu dijenguk abah kalian, baiklah umma akan lebih giat lagi agar abah kalian selalu berada bersama kita," gumam Shofia lirih, mengajak bicara sang anak.

Shofia kembali melanjutkan pekerjaannya, dia memilah semua baju kotor, kemudian memasukkannya ke dalam keranjang khusus baju kotor untuk dicuci.

Saat Shofia mengambil celana Farhan yang ada di gantungan, Shofia terkejut melihat cincin pernikahannya di saku celana Farhan yang dibungkus dengan kain putih.

"Ini kan cincin pernikahan aku dan mas Farhan. Mengapa tidak mas Farhan pakai? Apa mas Farhan lupa memakainya lagi? Ah, lebih baik aku lihat dulu, sepertinya dia masih pakai," ucap Shofia dalam hatinya sembari menimang cincin pernikahan khusus buat Farhan yang dibuat dari litium.

Shofia berjalan menuju ke tempat tidur, dimana Farhan masih terlelap. Di lihatnya jari tangan kedua tangan Farhan. Di sana masih ada dua cincin pernikahan, yang satu cincin pernikahan dirinya dengan Farhan, dan yang satu cincin pernikahan Ameer dengan Freya.

Shofia memegang tangan kanan Farhan yang mengenakan cincin pernikahan dengan dirinya. Shofia terkejut karena cincin itu masih ada di sana. Shofia meletakkan kembali tangan Farhan. Dia bingung mengapa ada dua cincin yang sama dengan cincin pernikahan dirinya dengan Farhan.

"Aneh, mengapa ada cincin yang sama?" Shofia terheran dengan penemuannya itu.

Shofia kembali memeriksa cincin yang dia genggam. Shofia teringat kalau ada nama dirinya di cincin itu. Sengaja dulu Shofia memberi nama dirinya di cincin yang dipakai oleh Farhan, dan ada nama Farhan di cincin yang dipakai.

Shofia membaca namanya terukir indah di cincin yang ia pegang. Rasa penasaran pun semakin menguat di hati Shofia untuk tahu cincin siapa yang dipakai Farhan. Shofia perlahan memegang tangan kanan Farhan untuk mengambil cincin yang melingkar di jari manis tangan tersebut.

Apakah Shofia berhasil mengambil cincin di jari Farhan?

Bersambung ....

Terpopuler

Comments

Bunda Salma

Bunda Salma

Aku mampir thor ... maaf typo banyak salah nama ? lebih teliti ya thor . next 💪

2023-05-06

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!