Ita sang ibu mertua pun terus menggosokkan minyak kayu putih di telapak kaki Shofia dan juga telapak tangan sembari sesekali mengoleskannya di hidung Shofia. Ita terus menggosok telapak kaki Shofia dengan cepat. Berharap panas yang ditimbulkan bisa dengan cepat membangunkan Shofia.
"Astaghfirullah ... Ya Allah, sadarkan anak menantu saya! Jangan biarkan dia kenapa-kenapa," ucap Ita berdoa. Dia masih belum juga bisa menyadarkan Shofia.
Shofia ingin sekali menjawab panggilan sang ibu mertua, akan tetapi lidahnya serasa kelu, bibirnya tidak bisa ia gerakkan. Shofia hanya bisa berteriak dalam hati saja.
"Umma ... Umma ... Shofia di sini, Ma," teriak Shofia masih berada di dalam ruang yang gelap. Dia tidak bisa melihat sang ibu mertua. Padahal suara Ita sangat jelas di telinganya. Shofia bingung harus apa? akhirnya dia duduk sambil terus berdzikir dan membaca ayat rukyah sesuai yang disarankan oleh sang ayah mertua.
Sementara itu di Sinar Corps. Farhan yang masih sibuk meeting bersama klien, tidak mendengar dering panggilan dari ponselnya. Selama meeting Farhan selalu men-sillent ponselnya agar tidak mengganggu jalannya meeting. Untuk itu bik Atik yang bertugas memanggil Farhan pun menyerah. Dia kembali menemui Ita yang masih mencoba menyadarkan Shofia.
"Nyonya, tuan Farhan tidak mengangkat ponselnya. Bagaimana ini?" tanya bik Atik yang terlihat bingung.
"Astaghfirullah! Pasti Farhan sedang rapat, biasa jika dia rapat pasti men-sillent ponselnya. Bik coba kamu hubungi tuan Rio Siapa tahu dia bisa dihubungi dan memberitahu Farhan," titah Ita pada bik Atik. Sementara itu bik Asih membuatkan minuman hangat untuk Shofia.
"Baik, Nyonya." Bik Atik segera melaksanakan perintah majikannya. Dia menghubungi Rio dengan harapan Rio bisa memberitahukan pada Farhan.
Bip ... Bip ...
Suara panggilan ponsel Rio berbunyi. Rio melihat nomer rumah Azlan memanggil dirinya. Gegas Rio mengangkat teleponnya.
"Hallo."
"Assalamu 'alaikum, Tuan."
"Ada apa, bik Atik?"
"Tuan, tolong sampaikan pada tuan Farhan . Nyonya Shofia pingsan, saat ini nyonya Shofia dan berada di rumah tuan besar," ucap bik Asih dengan nada yang masih panik.
"Apa?! Shofia pingsan?!" Lelaki berambut putih itu terkejut mendengar menantu pertama sahabatnya itu tidak sadarkan diri.
"Benar, Tuan. Nyonya Shofia pingsan. Tolong sampaikan kabar ini pada tuan Farhan. Ponselnya dihubungi tidak diangkat."
"Baiklah, Bi. Akan aku sampaikan pada Farhan."
"Terimakasih, Tuan. Assalamu 'alaikum." Bik Atik mengakhiri panggilan telepon.
"Wa'alaikum salam, Bi," jawab Rio mengembalikan kembali ponselnya ke dalam sakunya.
Rio menghampiri Farhan yang baru selesai memimpin jalannya meeting.
"Farhan,maaf kan om ... Ada kabar buruk, istrimu Shofia saat ini sedang pingsan di rumah ibumu. Segeralah kau ke sana," ucap Rio setengah berbisik pada Farhan.
"Astaghfirullah ... Apa? shofia pingsan, Paman? Baiklah aku segera ke rumah ummi. Paman tolong handle semua dulu, aku pamit," ucap Farhan terburu-buru berkemas hendak pulang, tidak ingin kembali kehilangan buah hatinya. Apa yang dikatakan Rio tadi membuat Hans melongo.
Farhan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, tidak ada hal yang lebih penting dari keselamatan Shofia.
Triing ... Triing ....
Ponsel Farhan berdering berulang kali, panggilan dari Freya tidak ia pedulikan. Tidak seperti sebelumnya panggilan telepon dari Freya, Farhan biarkan begitu saja. Pikiran Farhan dipenuhi oleh kekhawatiran pada diri Shofia dah juga calon anaknya.
Di Kantor Berkat Corps.
Braaak!
Freya melempar semua yang ada di meja. Hatinya saat ini sedang tidak baik-baik saja. Niatnya untuk mengajak makan siang sang suami terancam gagal.
"Siaaal ...! Di mana mas Farhan. Berani sekali dia tidak mengangkat telepon dariku! Sepertinya mas Farhan semakin sulit untuk dikendalikan, ada apa ini? Aku harus menghubungi Yulia!" racau Freya marah.
Freya yang merasa sedari takir! Farhan menunjukkan sikap yang tidak menyenangkan pada Yulia. Freya mengambil ponselnya lalu menghubungi Yulia.
"Hallo, Ada apa, Freyaa?"
Suara Yulia terdengar dari seberang sana. Freya bernapas lega karena Yulia mau mengangkat teleponnya.
"Hallo?"
"Hallo, wah kau lama sekali angkat telpon ku. Ada yang ingin aku sampaikan,"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments