Mira Lari

Darwin merasa bersalah kuda melakukan itu kepada sekretarisnya sendiri padahal mereka sudah lama bersama.

''Akan kuberikan pelajaran kepada orang yang berani menyakitinya,'' kesalnya.

Namun tiba-tiba ponselnya berdering membuatnya semakin kesal. Belum juga meninggalkan kediamannya dia sudah disuguhi oleh pemandangan yang tidak mengenakkan.

''Bawa putri aku juga kalo kau menyelamatkan sekretarismu,'' ucap Paman Bilar.

''Paman, kenapa kau melakukan ini?" tanya Darwin dingin.

''Lakukan seperti yang kau katakan Darwin.'' Setelah mengatakan itu ponsel mati.

Mira tidak tenang berada sendirian di atas mengikuti Darwin sampai pintu masuk.

''Darwin, aku mohon jangan pergi,'' tahan Mira.

''Kau ikut denganku Mira!" Wanita itu terkejut karena tikus bersama dengan Darwin.

''Kita mau ke mana Darwin?" tanya Mira ketakutan.

''Kita rumah dulu Mira, sesuatu sedang terjadi di sana.'' Mira menutup mulutnya.

''Ya Tuhan, jangan sampai ada sesuatu yang buruk,'' batinnya.

Darwin membawa mobilnya dengan kecepatan yang tinggi sampai melupakan Mira ketakutan di samping ya.

''Darwin, aku takut,'' lirihnya.

''Maaf, aku tidak sadar,'' balas Darwin.

Tidak lama kemudian mereka sampai di rumah itu, Mando terkejut melihat mobil Darwin datang sendiri tanpa ada pengawal.

''Tuan, bagaimana mungkin ada datang ke sini tanpa ada yang mengawal?" tanya satpam Mando.

''Di mana mereka, Mando?" tanya Darwin dingin.

''Masih berada dalam tuan, tapi anda jangan masuk ke sana karena mereka banyak tuan,'' tahan Mando.

''Aku tidak peduli, aku yang lebih tahu mengenai isi rumahku.'' Darwin bergegas kembali masuk ke dalam mobil.

''Darwin, setidaknya kau harus memiliki rencana untuk masuk ke dalam sana.'' Darwin gelap mata dia baru menyadari itu juga.

''Apa yang harus kulakukan Mira, paman sudah keterlaluan mengusikku?" kesalnya.

''Paman?" tanya Mira tidak tahu sama sekali apa yang dikatakan Darwin.

''Paman ku yang melakukan ini semuanya Mira, aku sama sekali tidak mengetahui atau tujuannya?" sesal Darwin.

''Apa kalian memiliki masalah di masa lalu?" tebak Mira.

''Tidak, hanya saja saat ini dia sekarang adalah ayah mertuaku?" Kedua bola mata Mira terbuka lebar dia merasa tidak memiliki seorang ayah.

''Maksudmu apa Darwin?" tanyanya panik.

''Paman menikahi ibu tirimu.'' Mira terkejut bukan main mendengar ucapan Darwin barusan.

''Itu tidak mungkin?" ucapnya geleng-geleng kepala.

''Dia menginginkanmu saat ini Mira,'' lirih Darwin.

''Jadi kau ingin menyerahkanku kepadanya?" terka Mira.

''Mira, sekretaris ku berada dalam bahaya di dalam sana aku tidak mau sesuatu terjadi kepadanya.'' Dua bola mata Mira menganak ternyata Darwin tidak bertanggungjawab seperti yang dilihatnya beberapa hari ini.

''Kalau begitu lakukan Darwin,'' tangisnya.

''Mira, aku berjanji akan menyelamatkan kalian berdua di dalam sana,'' janji Darwin.

Mira tidak mendengarnya memilih membuang wajahnya ke samping. Saat ini pikirannya hanya tertuju kepada kandungannya ikut juga dalam masalah.

''Nak, ibu mohon bekerjasama mari kita melindungi satu sama lain,'' batin Mira.

Mobil Darwin langsung berhenti tepat di pintu masuk ke rumah mewah itu yang menjadi saksi bisu Darwin membuat Mira sampai kena mental.

Ternyata suara mobil Darwin di dengarkanlah satu anak buah paman Bilar.

''Kau menghubungi seseorang di sini?!" pekik ketua kelima orang itu.

''Kalian ternyata bodoh, majikan kalian yang menyuruhnya datang ke sini,'' balas sekretaris Darwin.

''Apa? Kenapa tuan tidak memberitahukan nya kepada kita?" tanya salah satu diantara mereka.

''Lebih baik kalian sambut orang yang datang itu." Tiga orang langsung keluar untuk menemui Darwin.

''Oh, ternyata nyali pemilik rumah ini begitu kuat datang tanpa ada yang mengawal ya,'' tawa mereka bersamaan.

''Di mana sekretaris ku?" tanya Darwin dingin.

''Oh nona cantik, kemarilah sepertinya kita harus bersenang-senang terlebih dahulu,'' kekeh pria yang bertubuh besar itu.

''Darwin, aku takut,'' lirihnya.

''Tenanglah! Mereka tidak akan bisa menyakitimu,'' balas Darwin.

''Kau tidak mendengarku Nona?" tanya pria itu lagi.

''Berhenti, kalian hanya berurusan kepadaku bukan dia.'' Darwin langsung memasang badan untuk melindungi Mira.

''Sayangnya tidak, kalian lihat ke belakang.'' Darwin dan Mira kompak menoleh ke belakang terkejut melihat kedatangan seorang pria baru baya.

''Kau?!" pekik Darwin.

''Bagaimana Darwin, mudah sekali untuk mengumpulkan anggota keluarga di sini.'' Paman Bilar tertawa terbahak-bahak berhasil melakukan rencananya yang simpel.

''Mau apa paman?" tanya Darwin marah.

''Apa? Bukankah seharusnya kita sekeluarga berkumpul di sini Darwin?" Paman Bilar langsung duduk di bangku panjang tempat Darwin biasanya duduk di sana.

''Jangan keterlaluan paman?" kesal Darwin.

''Bawa sekretaris bodoh itu kesini!" perintah Paman Bilar.

''Baik Tuan,'' jawab mereka serempak.

Sekretaris itu terkejut melihat Darwin bersama dengan istrinya berdiri sana. Dia merasa bodoh karena tidak becus bekerja untuk mengalihkan kedatangannya ke sini.

''Tuan,'' lirihnya.

''Kau tidak apa-apa?" tanya Darwin.

''Ya Tuan, tapi anda kenapa datang ke sini?" tanya sekretaris itu.

''Aku ini membersihkan kotoran di rumahku ini, kau boleh membantuku kan?" tanya Darwin.

Darwin melihat paman Bilar sudah emosi karena mengatakan itu di hadapannya.

''Jangan pancing aku marah Darwin,'' kesalnya.

''Paman yang sudah memulainya,'' jawab Darwin sambil mengukur waktu.

''Kau belum tahu apa yang sudah aku katakan kepada sekretaris bodohmu itu?" tanya paman Bilar lagi.

Darwin menoleh kepada sekretaris nya itu dia sama sekali tidak mengerti yang dikatakan pria baru baya itu.

''Tuan, saya baru menemukan fakta kalau tuan besar terdahulu meninggal di sini karena pembuatan paman anda.'' Kedua bola mata Darwin langsung melebar marah mendengar ucapan sekretaris nya itu.

''Apa benar yang dikatakannya paman?" tanya Darwin menahan emosi.

''Ya, pagi ini tepat pukul empat pagi adalah dimana ayahmu meninggalkan dunia ini. Ketepatan kau berdiri persis seperti yang dulu.'' Paman Bilar tertawa terbahak-bahak melihat wajah keponakannya itu sudah tidak terlihat lagi.

''Kenapa paman?" tanya Darwin berusaha menahan emosinya.

''Serahkan perusahaan yang kau kelola sekarang Darwin, seharusnya itu adalah milikku bukan kau!" sentaknya.

''Aku tidak bisa melakukan itu karena semua aset yang ditinggalkan papah adalah warisan yang sudah diturunkan dari dulu,'' balas Darwin.

''Ya, warisannya saat ini sudah berada di hadapan aku, kalian berdua akan kuberikan pelajaran.'' Darwin baru menyadarinya kenapa Mira ikut juga kemari.

''Tunggu! Kalau paman mendapatkan warisan itu lalu siapa yang akan mendapatkan selanjutnya?" tahan Darwin.

''Kau tidak perlu mengatakan itu Darwin, Tika akan mendapatkan semuanya.'' Mira terkejut mendengar nama saudara tirinya itu.

''Tika? Ada hubungan apa dia dengan keluarga Darwin?" ucapnya pelan.

''Aku berhak mengatakan itu paman, Tika bukankah ahli waris yang sesungguhnya,'' tolak Darwin.

''Dia sudah putriku dan berhak mendapatkan warisannya Darwin. Maka segera tanah tangani surat ini,'' tunjuk paman Bilar.

''Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menandatangani surat itu.'' Pria paruh baya itu marah langsung menarik Mira.

''Darwin?!" teriak Mira.

''Lepaskan Mira, dia tidak mengetahui semuanya ini!" sentak Darwin.

''Mira termaksud juga putriku Darwin, aku berhak melakukan apapun kepadanya,'' tawa Paman Bilar.

''Darwin, tolong aku,'' lirih Mira.

''Dia tidak putrimu karena kalian sama sekali tidak memiliki ikatan apapun. Paman sudah dibohongi Tika dan ibunya karena mereka berdua hanya menginginkan hartamu,'' ucap Darwin.

''Apa? Mereka berdua adalah ibu dan anak yang patuh kepadaku Darwin bukan sepertimu,'' balas paman Bilar.

''Paman aku menyesal semuanya setelah mengetahui siapa mereka berdua yang sebenarnya,'' tahan Darwin.

''Ya, hanya seorang yang putus asa mengatakan itu termasuk kau Darwin. Kalian bawa dua pria bodoh ini dari hadapanku karena aku mau bersenang-senang dulu kepada putriku ini,'' kekeh ya.

''Darwin, aku tidak mau,'' ucap Mira ketakutan.

''Tenanglah Mira tua ini tidak akan pernah menyakitimu,'' ucap Darwin.

''Nak, apa yang sudah pernah kamu alami bersama dengan keponakanku ini?" tanya paman Bilar halus.

''Tidak ada tuan,'' jawab Mira gugup.

''Yakin? Sepertinya aku melihatmu saat ini sedang tertekan. Keponakanku ini adalah bukan pria sembarangan yang bisa menerima seseorang dalam hidupnya, termasuk kau,'' ucapnya lagi.

''Saya tidak mengerti apa yang anda katakan Tuan,'' balas Mira.

''Baiklah! Sepertinya kamu hari ini harus bisa melakukan sesuatu kepada aku, sebelumnya aku masih ingin bertanya kepadamu?" tambahnya sambil memperhatikan ekspresi Darwin yang sudah marah tinggal saatnya untuk menekan tombol agar pria itu menjadi tidak terkendali lagi.

''Apa itu tuan? Kumohon jangan menyakitiku?" pinta Mira.

''Aku tidak akan menyakitimu namun kita berdua akan melakukan sesuatu untuk menyambut pagi hari nak.'' Tangan paman Bilar sudah mulai mengusap perut Mira.

''Paman, jangan melakukan itu kepadanya, kalau ingin membalaskan sesuatu lakukan kepadaku!" ucap Darwin tidak terima ada yang berani menyentuh Mira.

''Aku nanti berurusan kepadamu Darwin, untuk saat ini lebih baik aku bermain-main dengan wanita cantik ini. Sebelum melakukan itu lebih baik kamu memikirkan untuk menandatangani surat itu, ya kan sayang,'' bisik paman Bilar.

''Jangan tuan, aku mohon jangan lakukan itu mah,'' tangisnya.

''Baik, aku akan menandatanganinya sekarang lepaskan Mira.'' Darwin putus asa tidak bisa berpikir jernih lagi.

Dia terlalu ceroboh membawa Mira ke tempat ini padahal bahaya sudah menanti.

''Good, lakukan sekarang!" sentak paman Bilar.

''Tuan, jangan lakukan itu kumohon tunggulah beberapa saat lagi,'' tahan sekretaris Darwin.

''Apa yang kau katakan? Semua ini karena ulahmu sudah membawa kami berdua masuk ke dalam jebakan,'' kesal Darwin.

''Tuan, bantuan akan segera datang jangan gegabah,'' tambahnya.

''Apa? Bagaimana bisa?" tanya Darwin.

''Apa yang kau lakukan kenapa belum menandatangani surat itu?!" sentak paman Bilar.

''Mereka yang sudah melakukan tuan besar meninggal di sini sudah sampai ada kata ulang kembali terjadi tuan, saya mohon,'' ucap sekretaris Darwin.

''Papah,'' lirih Darwin.

''Lakukan Darwin, kau akan menyesalinya kalau tidak menandatangani itu,'' ancam paman Bilar.

''Paman, kalau kau menginginkan hal yang menurutmu milikmu sendiri ambillah.'' Darwin berdiri di hadapan paman Bilar dengan tatapannya yang sendu.

''Apa? Jangan bermain-main denganku Darwin? Kau akan menyesalinya?" sentak paman Bilar lagi.

''Aku sudah tidak membutuhkan semua harta itu, istriku adalah prioritas ku sekarang maka ambillah.'' Mira menangis mendengar semua yang dikatakan Darwin.

Dia tidak menyangka pilihannya jatuh kepada dirinya bukan warisan yang sudah diturunkan papahnya.

''Darwin, jangan lakukan itu,'' ucap Mira tidak terima yang dikatakan pria itu.

''Mira, mulai sekarang kita tidak akan menjadi orang kaya lagi tapi tunggu beberapa menit lagi semuanya akan berbalik.'' Tiba-tiba seorang pria dari belakang langsung membekuk paman Bilar hingga pria paruh baya itu jatuh ke lantai.

''Tuan?!" pekik kelima anak buah paman Bilar.

''Apa yang kalian lakukan?" sentaknya.

''Maaf paman, sepertinya kau sudah kalah karena apapun yang kau miliki saat ini tidak akan pernah berpindah tangan. Papah sudah mewariskan itu kepadaku dari dulu.'' Darwin langsung memberikan pelajaran kepada pamannya sendiri untuk meluapkan amarahnya yang sudah beberapa tahun yang lalu.

''Darwin, paman tidak sengaja melakukan itu,'' ucap paman Bilar memohon agar dilepaskan.

''Apa Paman akan melepaskan kami kalau situasi kita berbalik?" tanya Darwin dingin.

''Nak, paman memang salah tapi semua itu terjadi bukan hanya aku seorang tapi ada yang lain.'' Darwin menghentikan pukulannya.

''Siapa? Siapa orang di balik yang membuat papah meninggal?" teriaknya.

''Berikan paman udara agar bisa menceritakan semuanya yang terjadi,'' ucapnya sambil melihat situasi agar bisa keluar dari tempat ini.

Semua anak buahnya sudah dibekuk oleh anak dua sekretaris Darwin.

''Sapa paman, katakan siapa orangnya?" tanya Darwin sudah tidak sabar mendengar pengakuan pria baru baya itu.

''Tika dan ibunya sendiri.'' Mira dan Darwin terkejut bukan main mendengar ucapannya.

''Apa? Sejak kapan mereka berdua mengenali papa sementara kita dulu tinggal di luar negeri?" tanya Darwin sambil tertawa mendengar lelucon paman Bilar.

''Kau tidak tahu kalau paman sudah lama berkomunikasi dengan mereka berdua. Kalau tidak berkomunikasi kami tidak akan pernah menikah Darwin.'' Darwin sudah marah langsung memberikan pelajaran kepada pria paruh baya itu.

''Paman mengira aku akan mempercayai cerita ini, tidak akan pernah paman,'' bentaknya.

''Kalau kau tidak percaya dengan paman pergi temui mereka berdua di apartemen Bilar.'' Darwin merasa tidak enak mendengar ucapan paman Bilar.

Papahnya meninggal dalam keadaan yang tidak layak semuanya itu berlangsung di hadapannya namun tidak ada seorangpun yang bertanggung jawab.

''Aku kita akan pernah mengampuni orang orang yang melakukan itu kepada papa,'' kesalnya.

Mira yang dari tadi hanya sebagai pendengar terkejut bahkan mulutnya sulit untuk terbuka.

''Aku tidak mungkin anak dari seorang?!" Mira secara perlahan mundur karena baru sadar ternyata selama ini Darwin melakukan itu kepadanya karena membalas semua yang dilakukan terhadap keluarganya dahulu.

''Darwin, cobalah untuk memahami paman kenapa melakukan ini semuanya. Semua itu karena wanita ular dan putrinya itu, kau bodoh Darwin udah menikahi putri dari yang udah membuat papahmu meninggal.'' Paman Bilar tertawa terbahak-bahak melihat wajah keponakannya itu kesal dan marah.

''Jangan bicara lagi paman.'' Sekali lagi tangan itu membuat mulut paman Bilar mengeluarkan cairan berwarna merah.

''Kau memang pria bodoh Darwin, semuanya akan tertawa melihat kebodohan mu sudah menikahi putri dari.'' Belum juga sampai melanjutkan omongannya Darwin sudah meninggalkan tempat itu karena tidak melihat Mira.

''Mira, di mana kau?" panggil Darwin.

''Tuan, kami baru melihat nona keluar gerbang.'' Darwin marah bukan main dia melayangkan marahnya ke wajah pengawalnya itu.

''Bodoh!" pekiknya.

Darwin bergegas keluar untuk mengajar Mira bagaimanapun juga dia mereka harus menyelesaikan masalah ini bersama.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!