Mira tiba-tiba tertawa melihat wajah Darwin yang terlihat lucu apalagi setelah memakan buah jeruk itu.
''Nona, boleh saya mengatakan sesuatu?" tanya pelayan itu dengan hati-hati.
''Apa itu mbak?'' tanya Mira lalu dia mengambil air minum.
''Maaf, untuk bulan ini apakah Nona sudah datang bulan?" Mira refleks langsung menghentikan tangannya mengisi air minum.
''Datang bulan?" tanyanya pelan.
''Ya Nona, sepertinya anda saat ini sedang mengandung.'' Mira menjatuhkan gelas itu untung saja tidak mengenali kakinya.
''Aku mengandung?" pekiknya.
''Saya hanya menduga Nona, karena biasanya orang yang mengandung akan mengidam yang asam.'' Mira semakin terkejut mendengar ucapan pelayan itu.
''Tidak mungkin,'' ucapnya sambil meninggalkan dapur dengan tatapan yang terlihat kosong.
''Semoga saja Nona, Tuan sudah lama menunggu hal ini,'' batin pelayan tersebut.
Mira memilih menuju ke taman untuk menetralisir pikiran ya yang penuh dengan kata mengandung. Ia mengusap mengusap perutnya itu tiba-tiba perasaannya aneh.
''Apa benar aku mengandung?" ucapnya sedih.
Sebagai wanita seharusnya dia senang bisa mengandung namun kali ini Mira tidak.
Hubungannya dengan Darwin tidak seindah yang dipikirkan oleh orang-orang di luar sana.
Pria itu bahkan sama sekali tidak mau peduli dengan dirinya yang ada hanya kepuasan.
''Apa yang harus kulakukan sekarang kalau memang benar aku mengandung?" tanyanya pada dirinya sendiri.
Mira akhirnya memutuskan masuk ke dalam untuk menemui kembali pelayan itu.
''Mbak, boleh kita bicara sebentar ?" panggil Mira.
"Mira, apa yang kau lakukan di bawah sana?" panggil Darwin karena dari tadi menunggu tidak kunjung Mira naik ke atas.
''Nona, pergilah temui Tuan, nanti saya akan temui anda.'' Mira mengerti dia naik ke atas pelan-pelan karena masih takut kalau seandainya dia mengandung.
Pintu dia buka Darwin sudah duduk di bangku meja rias, tatapan pria itu terlihat dingin ketika melihat kedatangan Mira.
''Dari mana kau?" tanyanya.
''Maaf, tadi aku tidak sengaja memecahkan gelas di bawah,'' alasan Mira.
Mira terkejut tiba-tiba Darwin berdiri langsung menghampiri ya dengan langkah yang tergesa-gesa.
''Apa? Kau tidak terluka kan?'' Mira tidak bisa menjawab pertanyaan Darwin dia melihat wajah pria itu terlihat panik.
''Ya, aku tidak apa-apa Tuan,'' jawabnya pelan.
''Jangan pergi ke dapur lagi, panggil saja pelayan kalau membutuhkan sesuatu mengerti!" Mira mengangguk mengerti daripada mendapatkan perlakuan tidak diinginkannya dari pria itu.
''Ya Tuan,'' angguknya.
Darwin tadi yang marah-marah tidak jadi, dia meminta Mira memasangkan dasi ke lehernya.
Beruntung dulu Mira pernah mempelajari seperti ini jadi tidak repot membantu Darwin.
''Kau pintar juga ya, belajar dari mana?" tanya Darwin lalu merapatkan mereka berdua.
Mira gugup sulit untuk bernapas, apalagi perutnya kembali bergejolak menghirup aroma parfum yang digunakan Darwin yang menyengat.
''Tuan, saya belajar dari ayahku dulu,'' ucapnya pelan.
Darwin tiba-tiba langsung melepaskan pelukan ya meninggalkan Mira di sana yang sudah lari masuk ke dalam kamar mandi.
''Aku membenci kata ayah,'' dengus ya.
Darwin langsung berangkat ke kantor tidak mau merasakan sarapan pagi yang direkomendasikan Mira.
Mira melihat mobil Darwin sudah meninggalkan pekarangan rumah, dia langsung turun kebawah untuk memastikan obrolannya tadi bersama pelayan.
Langkahnya tergesa-gesa karena sudah tidak sabar lagi untuk memastikan dirinya saat ini.
''Aku sampai kapanpun tidak akan mau mengandung anak pria itu,'' gumamnya terus berlari sampai ke bawah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments