Mira melihat pelayan itu hendak keluar dari gerbang dia langsung mencegahnya.
''Mbak, mau ke mana?" tanya Mira sambil menahan nafasnya naik turun.
''Pasar Nona,'' jawabnya.
''Mbak mengenai obrolan kita tadi bolehkah aku meminta sesuatu kepadamu?" pintanya.
''Apa itu Nona?" tanya ya penasaran.
Mira memberitahukan dengan pelan agar yang lainnya tidak mendengar obrolan mereka berdua.
''Nona yakin mau menggunakan bunda ikhlas?" pekik ya.
''Tolong ya Mbak! Belikan dua benda itu untukku!" mohon ya.
''Kalau Tuan nanti mengetahuinya bagaimana, Nona?" tanyanya begitu panik.
''Mbak, saya yang akan bertanggung jawab.'' Mira mantapkan hatinya udah pasrah apa yang akan dilakukan pria itu kelak suatu saat.
Pelayan itu terlihat kebingungan masih takut apa yang akan mereka berdua lakukan merupakan sama saja menghantarkan nyawanya sendiri.
''Baik Nona, saya akan membelikannya.'' Mira lega akhirnya ada yang mau membantunya agar bisa mencegah itu semua.
Mira kembali masuk ke dalam dengan wajah yang terlihat sedih. Tidak pernah ada kebahagiaan dalam dirinya semenjak tinggal di kediaman Darwin.
''Aku sangat berharap semuanya tidak akan terjadi seperti yang diinginkan pria itu,'' batin ya.
Mira membersihkan tubuhnya agar bisa secepatnya untuk melakukan tes. Tidak lama kemudian pelayan kembali membawa benda yang diinginkan ya.
''Nona bolehkah saya masuk ke dalam!" panggil ya.
''Masuk aja,'' sahut Mira.
Pelayan begitu takjub melihat isi kamar yang begitu luas dan wangi.
''Nona saya sudah membawa benda yang anda inginkan.'' Mira senang bukan main menerimanya langsung di simpan di tempat yang aman.
''Terima kasih ya, aku tidak menyangka kau mau membantuku.'' Pelayan itu mengangguk langsung keluar dari kamar sebelum yang lainnya curiga tingkahnya.
''Aku akan pastikan sekarang.'' Mira menuju kamar mandi masih pagi tentunya masih bisa melakukan tes.
Perasaannya begitu berdebar menunggu hasilnya sampai dia tidak menyadari kalau di balik semua yang dilakukannya dilihat oleh Darwin.
''Apa yang diberikan pelayan itu?" gumam Darwin.
Mira membuka kedua bola matanya tertuju hasil yang tidak diinginkan ternyata positif.
''Aku hamil?!" jeritnya sambil menutup mulut ya.
Darwin sudah kembali menuju ke rumah penasaran apa yang sudah diterima Mira.
''Mira pasti melakukan sesuatu yang tidak aku ketahui,'' geramnya.
''Tidak mungkin?" pekiknya lagi.
Mira menangisi dirinya sendiri dalam kamar mandi sambil memegang alat itu. Dia tidak percaya sudah mengandung anak dari pria yang membuatnya saat ini terjebak dalam lingkaran hidupnya yang tidak dimengerti.
''Aku tidak bisa mengandung anaknya,'' ucapnya langsung berdiri mengambil obat yang sudah dipesan ya tadi.
Takut bercampur keringat Mira menatap obat itu lalu memasukkannya ke dalam mulut.
''Apa yang kau lakukan?!" Tangan kekar menghentikan niatnya hingga Mira terkejut bukan main melihat kedatangan Darwin tiba-tiba.
Mira tersedak ternyata satu obat sudah masuk ke dalam perutnya lainnya berceceran di lantai.
''Kenapa Tuan cepat sekali pulang?" tanyanya gugup.
''Apa ini? Dari mana kau membeli ini?" tanya Darwin lalu membentaknya kuat.
''Aku tidak mau menjawabnya Tuan,'' balas Mira sambil mundur karena Darwin mulai mendekati dengannya dengan tatapan yang tajam.
''Kau keterlaluan Mira, beraninya kamu minum obat ini.'' Mira geleng-geleng kepala.
''Sampai kapanpun aku tidak mau mengandung anakmu Tuan,'' serunya.
Tiba-tiba Mira merasakan kesakitan perutnya sakit karena obat mulai bereaksi.
''Perutku!" ucapnya langsung jatuh ke lantai tidak kuat menahan.
''Kau kenapa?" tanya Darwin panik.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments