"Anak ini punya trauma," batin Mark terkejut.
Mark tahu betul arti dari gerakan refleks Marcel yang jelas-jelas menunjukkan ketakutan pada kekerasan. Menjadi tanda tanya besar dalam benaknya.
Apa jangan-jangan suami Freya juga menyakiti Marcel?
Pria kejam itu juga memukul anaknya sendiri?
Sungguh bila benar, Mark sangat murka. Bagaimana bisa ada pria yang sangat jahat. Tega sekali menyakiti wanita yang berstatus istrinya dan anak laki-laki yang berstatus anaknya.
Gila namanya itu.
Ah … rasanya Mark ingin mengambil sekarang juga. Dia benar-benar marah. Andai saja ada Ozan di dekatnya saat ini, Mark pasti akan menghajar nya habis-habisan.
"Jangan takut, Boy. Paman tidak akan jahat padamu," ujar Mark lembut masih dengan suara khas nya.
Dia mengambil daun itu lalu memperlihatkan pada Marcel membuat bocah kecil itu lega.
Mark tidak menyakitinya, membuat hatinya tenang.
Marcel tidak membalas perkataan Mark. Dia hanya menundukkan wajahnya tak berani menatap Mark.
Hingga sepotong ayam mentega ditambahkan oleh Mark ke dalam piringnya.
"Makan yang banyak, setelah ini kita akan bermain di lantai atas. Ada banyak permainan yang menyenangkan di sana."
Mark memang berniat menghabiskan waktu hari ini bersama dengan Freya dan calon anaknya.
Ha ha … tentu saja calon anak, karena Freya adalah calon istri Mark. Diam-diam pria itu tertawa lepas dalam hati, menertawakan kebodohan Ozan yang menyia-nyiakan kehadiran Freya dan Marcel.
Marcel mengangkat wajahnya, dia menatap Mark dengan sorot mata berbinar. Sejenak dia melupakan rasa takutnya membuat Mark lega.
"Benar, Tuan? Kita akan bermain?" tanya Marcel sekali lagi berusaha memastikan pendengaran nya benar.
Mark menganggukkan kepalanya samar. Seraya membelai puncak kepala Marcel yang sudah tak lagi bergerak reflek untuk melindungi kepalanya.
"Benar. Kita akan bermain … Paman dengar di lantai 4, ada permainan baru … dan jangan panggil Tuan …panggil Paman, oke?"
Mark tidak mau dipanggil Tuan, mana bisa dia melakukan pendekatan yang sangat canggung bila Marcel masih memanggilnya Tuan.
Marcel tampak ragu, karena bagaimanapun Mark adalah atasan sang ibu. Dia tidak mau bertingkah tak sopan, karena takut sang ibu tertimpa masalah.
"Tapi … Tuan adalah atasan mama," cicit Marcel pelan.
"Yep, benar sekali. Paman adalah atasan mama kamu, tapi bukan berarti paman juga atasan kamu, 'kan?"
Mark berbicara dengan nada santai membuat Marcel membenarkan ucapan Mark.
Bocah tampan itu tersenyum kecil. Dia tersipu dengan senyuman manis Mark, karena selama ini Ozan selalu dingin padanya.
"Baik, Paman," gumam Marcel pelan membuat hati Mark berdegup kencang.
Pria itu ingin sekali tertawa lepas dan melakukan selebrasi.
"Haiss … harusnya aku suruh dia memanggilku Capa … calon papa. Yihaaa … sebentar lagi aku akan punya istri dan anak," pekik Mark dalam hati.
Mungkin bila Marcel atau Freya yang mendengarnya, mereka pasti akan terkejut, karena tak menyangka pria sekeren Mark bisa bertingkah memalukan seperti itu.
Keduanya mengobrol ringan, bak seorang ayah dan anak. Freya dari kejauhan tersenyum simpul, ada rasa hangat dalam hatinya melihat sang anak dekat dengan atasan nya.
"Andai saja malam itu Mama tidak langsung pergi, apa mungkin sekarang kita bisa tertawa bersama dengan ayah kandung kamu, Sayang," gumam Freya pelan. Teringat kejadian pada malam dia melakukan hal gila bersama pria asing di bar.
Keduanya sama-sama mabuk dan melakukan hal itu atas dasar sama-sama suka.
Wanita itu kembali melangkah mendekati meja Mark dan Marcel. Dia tidak sadar kalau sepasang mata menyorot tajam dirinya.
"Freya," gumam pria itu pelan dengan tangan terkepal.
*
*
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments
Eka
jangan marcel anak mark lee ya semoga mark bisa melindunggi marcel
2024-02-12
0
Samsia Chia Bahir
Waaaaahhhh, mrk diliat ozan 😄😄😄😄😆😆😆😆
2023-11-05
1
my name
jangan jangan mark yg sudah tidur sama frea
2023-09-23
1